Rest in Peace, Cak Andie Peci
Sepak bola Indonesia kehilangan salah satu sosok paling tulus dan berani. Perjuangan panjang Cak Andie Peci tercatat abadi dalam sejarah berupa gerakan nyata melawan ketidakadilan demi marwah sebuah klub, sebuah kota, dan sebuah prinsip.
Memoriam perjuangannya, terutama momen mengembalikan Persebaya ke kancah nasional, adalah bukti sahih dedikasi tanpa tandingnya.
Pandangan kritis beliau adalah cermin jujur yang berani dia ungkapkan dari apa yang terjadi dalam dunia sepak bola khususnya di tanah air.
Warisan pemikirannya akan terus hidup, menjadi role model bagi siapa saja yang percaya bahwa sepak bola adalah milik rakyat.
Pandit Football mengagumi dan menghormatimu, Cak. Tenang di sana.π₯
Saat garap investigasi isu Sambo, Kanjuruhan, Halte Sarinah dll outputnya selalu video explainer. Saya coba pendekatan lain di kasus Andrie Yunus. Idenya simpel: Kalau penyidiknya gak bisa kerja, kita buat publik aja jadi penyidiknya.
Jadilah game ini: https://t.co/hXYFEkyvIS
Ah kagak. Gak ada spesial2nya dari dulu juga. Malah termasuk salah satu kampus yg demennya cari aman. Isinya banyak oportunis dan orang2 cari karir dari aktivisme.
Rencanakan bunuh orang pakai air keras, cuma dituntut penjara 1-3 tahun. Mana gak dipecat pula. Kalau sipil udah dibui 10 tahun lebih itu. Tentara kalau ngelucu kadang kebangetan.
Jujur aja, sports journalism kita itu sebetulnya udah berkembang pesat: analisis taktis, bisnis, hingga sejarah kini digali mendalam. Tapi laporan investigasi? Jarang banget, atau mungkin gak ada.
Dua klub gak dikenal tiba-tiba jadi pemuncak Liga 2, harusnya sinyal radar kecurigaannya udah mulai nyala.
Kemenangan Persib dirayakan di kampung terancam tergusur Dago Elos. Warga bernyanyi dan berseru: "Semoga kemenangan Persib juga menjadi kemenangan Dago Elos menjelang PK 2."
#Persib#DagoElos
Oleh @zenrs
Esai ini bukan sekadar daftar nama. Ia lahir dari kerja panjang memverifikasi 135 korban satu per satu, sebsa mungkin tak ada yang terlewat. Kata demi kata diobrak-abrik, dipasang ulang, agar nama-nama mereka bukan sekadar tempelan di daftar panjang, melainkan tumbuh sebagai napas hidup di dalam paragraf. Karena tragedi Kanjuruhan tak hanya soal stadion runtuh, melainkan juga tentang bagaimana kekuasaan mengubah kebenaran menjadi debu yang hanya akan tampak saat disorot oleh cahaya tertentu.
Maka, membaca esai ini sebaiknya tak cukup dalam hati. Sebutkanlah nama-nama mereka, setidaknya lirih. Sebab ingatan tak lahir dari diam; ia perlu dilatih, diulang, dipanggil dengan suara. Menyebut nama adalah cara sehari-hari menolak lupa, sebuah latihan untuk memastikan sejarah tak hilang dihapus lampu stadion yang baru.
Kaga expect sama blio, begitu dikasih tahu kalo datanya ada yg double atau kurang tepat, di dengerin langsung.
Responya bukan "Siap Bos" doang, tapi malah nanya balik: yang mana? bisa share datanya? sumbernya dari mana?
Warbisah... Emg beda! π