Tahukah kalian, bahwa ayat pertama dalam surat pertama mushaf Alquran, yaitu "bismillahirrohmanirrohim", punya arti lengkap begini:
"Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih di dunia-akhirat, dan Maha Penyayang di akhirat"
Ini sebenarnya mempertegas posisi umat Islam bahwa semua manusia, mau beragama apapun itu, mendapat cipratan rahmat Allah.
Tahukah kalian bahwa Nabi Muhammad Saw. melarang umatnya untuk melaknat-laknat, termasuk menghina Tuhan agama lain?
"Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai pemaki/pembuat laknat, melainkan aku diutus sebagai rahmat." (HR. Muslim).
Kata "rahmat" di dalam hadis di atas dan kata "rahman-rahim" di dalam basmalah itu derivatif, ya. Jadi, akar katanya sama.
Jadi, kalau ada muslim yang berdoa dengan laknat-laknat agama lain seperti yang diunggah akun ini, sebenarnya menyalahi prinsip Islam sendiri.
Dan saya belum pernah ketemu orang muslim seperti ini. Maka, status ini dibuat-buat mewakili umat muslim cabang mana? Halusinasi dari mana?
Tentu saja tidak semua umat muslim sama. Tapi mayoritas tidaklah seperti status ini.
Oiya, akun ini, kok, gak capek-capek ngerecoki Islam, ya? Dapat untung apa, sih?
Indonesian President Prabowo’s $15B FREE school meals program is causing budget strain.
If that's not bad enough, it's been the source of food poisoning and corruption.
PRABOWO IS LOSING FISCAL CONTROL. THAT IS CREATING A CONFIDENCE PROBLEM AND A SINKING RUPIAH.
Mereka mencuri rotimu.
Lalu memberimu remahnya.
Kemudian membuatmu berterima kasih atas kebaikan hati mereka.
- Ghassan Kanafani, Penulis Palestina, tentang Israel.
Jika MBG dihentikan, bagaimana dengan nasib 1,5 juta penggerak SPPG & supplier bahan makanan?
Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu juga. Karena sejak awal realisasi program ini, kan, ngotot "demi" gizi anak-lansia-bumil. Maka, perhatian saya ada di sana, bukan yang lain.
Kalau program ini benar-benar murni demi gizi anak-lansia-bumil, kenapa harus bikin rantai pasok sebesar itu yang ujung-ujungnya cuma bikin ketergantungan massal pada APBN?
Mereka yang ngotot dari awal apakah tahu persis bahwa ini bukan solusi gizi tapi mesin politik untuk bagi-bagi proyek?
Sekarang, tiba-tiba 1,5 juta orang jadi korban ketika programnya dihentikan (setelah mantan Kepala BGN-nya ketahuan korup), apakah mereka dari awal tidak tahu bahwa mereka cuma jadi alat untuk narasi “peduli rakyat” yang murahan?
Siapa yang salah kalau akhirnya nasib mereka terkatung-katung? Warga Indonesia selain 1,5 juta itu? Lho, bukan mereka yang memaksa "program gagal" ini jalan.
Lagian, kalau gizi anak-lansia-bumil memang prioritas utama, kenapa tidak langsung kasih dana tunai ke keluarga daripada lewat supplier dan penggerak yang entah berapa persennya cuma jadi perantara rente?
Seharusnya 1,5 juta penggeral SPPG harus menagih tanggung jawab ke mereka saja, bukannya ngasih tahu warga tentang kondisi mereka yang terkatung-katung itu.
Jadi, ya, jangan salahkan yang kritis dan protes sejak awal. Yang salah justru mereka yang ngotot program ini “harus” jalan, tanpa hitung-hitungan matang soal keberlanjutan, dan dampak jangka panjangnya.
Nasib 1,5 juta orang pengegrak itu, kan, konsekuensi logis dari kebijakan yang dibangun di atas "sandiwara gizi", bukan atas dasar akal sehat, to? Sementara kalian, kan, mengambil itu atas dasar ekonomi, to?
Kenapa harus mengadu ke rakyat non-1,5 juta itu?
NB: 1,5 juta itu bukan "relawan", ya. Mereka digaji pakai APBN. Tidak bisa disebut relawan karena mereka dibayar untuk melakukan pekerjaan itu.
Dan ternyata tidak begitu pecus.
Setiap liter Pertamax yang kita beli itu nggak murni harga bensin doang.
Di situ ada PPN dan PBBKB yang disetor ke pemerintah daerah. Persentasenya dipatok dari harga dasar bensin.
Makin mahal harga Pertamax, otomatis nominal pajak yang ditarik pemerintah makin gede.
Jadi, di saat rakyat kelas menengah lagi menjerit karena pengeluaran transportasi bengkak, kas negara dan daerah justru lagi ketiban durian runtuh dari pajak bensin kita-kita. 🐱
Dan buat Pertamina posisi nya serba salah. Di satu sisi, mereka diwajibkan setor dividen gila-gilaan ke negara buat nombokin APBN.
Di sisi lain, mereka disuruh nahan harga bensin subsidi kayak Pertalite yang bikin margin perusahaan berdarah-darah karena subsidinya sering bocor ke orang yang nggak berhak.
Gue heran deh kok masih aja ada orang yang bilang “Pertamax naik ga masalah, kan yang pake juga orang2 mampu”
Entah mereka buzzer atau emang tolol alami.
Yang jadi masalah itu EFEK DOMINO-nya, bukan cuma perkara harga naik 3ribu.
Ini efek domino yang akan terjadi dari kenaikan per hari ini:
1. Migrasi massal ke BBM lebih murah. Harga Pertamax naik → orang yang biasa pakai yang “premium” (kelas menengah atas) langsung switch ke Pertalite yang lebih murah. Hasilnya: permintaan Pertalite meledak. Padahal Pertalite kan kuotanya terbatas (subsidi), jadi stok di SPBU cepet habis.
2. Pertalite langka + antrean panjang. Antre Pertalite di SPBU jadi tambah rame. Yang gak mau antri berjam-jam atau gak kebagian akhirnya terpaksa isi Pertamax (yang lebih mahal).
3. Biaya logistik & transportasi naik Truk, angkot, ojek online, pengiriman barang semua naik ongkosnya (meski mereka pakai solar/ Pertalite, tapi efek rantai supply-nya ikut naik karena driver dan perusahaan logistik juga kena imbas). Akhirnya harga barang di pasar naik semua.
4. Inflasi & harga sembako naik Efek dari nomor 3: dari meja makan sampai warung kecil. Harga beras, sayur, mie instan, bahkan jasa ojek naik. UMKM yang paling kena getahnya. Modal produksi naik, daya beli masyarakat turun, penjualan melambat.
5. Black market & penyelundupan Pertalite yang langka sering muncul di pedagang eceran dengan harga lebih mahal (kadang sama mahalnya Pertamax). Subsidi yang seharusnya buat rakyat kecil malah bocor.
6. Beban subsidi pemerintah membengkak. Demand Pertalite naik drastis → pemerintah/Pertamina harus nambah pasokan subsidi. Kalau gak diatur, APBN makin tekor, bisa-bisa akhirnya Pertalite juga naik atau dibatasi lebih ketat (misalnya pakai MyPertamina, plat nomor ganjil-genap, dll).
7. Efek jangka panjang ke ekonomi & masyarakat
- Driver ojol & angkot kurangi shift → pendapatan turun.
- Petani & nelayan (yang pakai solar/Pertalite) ongkos produksi naik → harga pangan naik lagi.
- Inflasi umum naik → Bank Indonesia mungkin naikin suku bunga → pinjaman mahal → investasi melambat.
Intinya, yang tadinya “cuma naik buat orang berduit” malah bikin semua orang kena getahnya lewat rantai yang panjang.
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
@Stakof tanahnya direbut, hak mereka diambil dan dibikin miskin. lalu cuci tangan dengan kasih makan sekali", biar dianggap pahlawan.
kaya ngasih tongkat ke pejalan kaki yg abis lu tabrak dan dibikin lumpuh.
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Ckckck.... Makin kacau negara ini diurus. Dan makin jelas bahwa besar sekali uang negara dihabiskan buat perjalanan ke luar negeri ini, sampai ada pembelaan diri sudah memakai uang pribadi.
Buka saja lah berapa anggaran setiap kunjungan ini? Dan berapa realisasi hasilnya, bukan sekedar komitmen!!
Pandu Sjahrir , CIO Danantara, orang yang ngelola strategi investasi Rp 14.000 triliun aset negara.
Yang perlu lo tau dulu: dia adalah keponakan Luhut Binsar Pandjaitan.
Ibunya adik kandung Luhut.
Dan perusahaan batubara miliknya, PT TBS Energi Utama (TOBA)? Didirikan bareng Luhut sendiri.
Belum selesai.
Sebelum masuk Danantara, dia Komisaris BEI (2020–2023).
Sekarang Danantara mau jadi pemegang saham BEI, dan dia yang nentuin strategi investasinya.
Pas ditanya kenapa dia yang dipilih, dia cerita Prabowo bilang langsung: "Kamu adalah satu-satunya yang paling sedikit bermasalah tapi punya track record bagus."
Standar kelayakan untuk kelola aset terbesar dalam sejarah Indonesia: paling sedikit bermasalah.
Bukan terbaik.
Bukan paling kompeten.
Paling sedikit bermasalah , dan kebetulan keponakan orang paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan.
Ini bukan meritokrasi.
Ini oligarki yang nggak malu-malu lagi.
Luarbiasa cara Tempo mengingatkan Presiden Prabowo. Yaitu dengan menerbitkan edisi khusus ayahanda Presiden, Sumitro Djojohadikusumo. Enam desk dikerahkan untuk memberi gambaran lengkap sosok Begawan Ekonomi ini. Lantas membandingkannya dengan kebijakan-kebijakan anaknya.. 🫡
5,8 miliar itu baru hotel…
Belum transportasi
Belum pengamanan
Belum konsumsi
Belum yang lain-lain
Mungkin kalau ditotal bisa jadi habis lebih dari 10 M sekali jalan…
Miris sekali rasanya…
Pemda dan Kementerian disuruh efisiensi
Ada yang programnya ga jalan karena kekurangan dana.
Sampai ada yang tunjangan PNS dipotong atau tidak diberikan sama sekali
Tapi yang dari atas malah jor-joran perjalanan dinas dengan pengeluaran fantastis.
Itu kita omongin PNS
Belum lagi kita ngomongin rakyat biasa yang lagi pusing sama biaya hidup akibat melemahnya mata uang rupiah.
Atau gen milenial dan gen Z yang masih nganggur dan belum dapat kerjaan pasti.
Jelas, rakyat dan pegawai yang sedang mengalami kesulitan ekonomi pasti kesal dengan fakta seperti itu.
Source gambar: https://t.co/0CRjwJWvi0