@WEMAKElTHAPPEN "Selamat atas pernikahan kalian. Semoga selalu bahagia selamanya bersama dengan mereka yang terkasih. Happy Wedding, Michael dan Minoru."
Best regards, Lucian.
@spidcrew ; "Do you wait long?" Jemarinya tersampir di bahu kokoh yang lebih tua; merundukan tubuhnya tuk berikan kecupan kecil pada pipi milik sang lelaki. "I’m home."
@spidcrew "I'm craving for pasta." Ia sandarkan kepalanya pada bahu tegap sang lelaki, menyamankan posisinya duduknya. "Can you make one for me, please?" Walau dirinya sedikit tak yakin—apakah sempat ia mengisi perutnya dengan sesuap pasta bila mereka telah sampai pada destinasi nanti.
@spidcrew , Begitu memastikan bahwa pekerjaannya telah sepenuhnya selesai—pun sudah menyibukan atasannya dengan beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan, kedua tungkainya ia bawa melangkah memasuki Ruang Finance dengan tergesa, "Noah?"
@spidcrew "More?" Jemarinya mengusap lembut belah pipi sang wira, mengedarkan dua manik birunya itu ke sekeliling ruangan. "Here?" Sekali lagi ia jatuhkan kecupan kecil di sudut bibir yang lebih tua—entah mengapa, ia senang saja melakukannya "Bagaimana kalau kita lakukan sisanya di rumah?"
@spidcrew Bilamana dititah seperti ini—Lucian tak dapat menahan hangat yang kini menjalar hingga ke dua belah pipi serta tengkuknya. Dapat dilihat bagaimana rona merah pada parasnya menampakan diri dengan manis, "Jangan salahkan saya bila nanti kamu dimarahi oleh Darius—" Tawa kecil lolos
@spidcrew Senyumannya merekah; sesuatu yang sedari tadi ingin dirinya dengar. "Kamu menyukainya?" Dari sebelum Noah menawarkan hal itu kepadanya, Lucian sudah memutuskan untuk tetap tinggal; untuk menemani sang teruna bekerja—atau mungkin tidak. "Saya bisa beri lebih bila kamu mau."
@spidcrew Dahinya sedikit mengerut, bibirnya mencebik lucu. Lucian tak membenci ide itu; ia akan selalu senang bilamana itu berarti ia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Noah. "Ya—boleh. Namun, kamu tidak hanya menemani saya minum kopi saja kan?"
@spidcrew Tawanya mengalun; kedua lengannya terangkat untuk merengkuh sang lelaki. Dibawanya diri hingga terduduk di pangkuan yang lebih tua. "Pekerjaan saya juga sudah selesai." Untuk saat ini yang semoga tak bertambah. "Kalau begitu, bagaimana kalau habiskan waktu bersama dengan saya?"
@spidcrew tepian meja. "Hanya ingin menyapa—" Ia merundukan tubuhnya; menyelipkan bentuk sapa sebuah kecupan kecil di tepian bibir yang lebih tua. "Apa kamu sibuk?"
@spidcrew Jemarinya bergerak untuk mengunci ruangan tempat ia singgah, mendapati pemandangan di hadapan; ia tak bisa hentikan dirinya untuk tak ukir senyuman di wajahnya. "Tidak, bukan perihal pekerjaan." Kedua tungkainya di bawa mendekati lawan bicara, Lucian menyandarkan tubuhnya di
@spidcrew Kembar ain sewarna langit itu edarkan pandang ke penjuru ruangan, satu langkah maju ia ambil. "Darius-ssi tidak ada?" Tidak biasanya melihat ruang finance yang selalu diisi oleh Darius kini hanya tersisa Noah di dalamnya; situasi yang cukup menguntungkan.
@spidcrew Hal itu terdengar menyenangkan untuknya; mengundang senyum yang teramat manis terukir menghias parasnya. "Dengan senang hati tawaran itu saya terima." Pada dasarnya memang ia suka, tentu untuknya—Lucian tak akan berpikir dua kali untuk menerima ajakan dari sang rekan.
@spidcrew Kembar ain biru itu jatuhkan atensi pada yang lebih tinggi, ia menimbang-nimbang, sedikit ragu untuk utarakan kata yang tertahan di bibirnya. "Apa mau berkeliling bersama?"
@spidcrew "Sejujurnya aku tidak tahu—" Memang dulunya ia beberapa sekali sempat berpindah negara, namun Italy saat itu tak pernah menjadi tujuannya. Pun, tak pernah ia mencoba untuk mencari tahu destinasi-destinasi wisata menarik disini. "Mungkin aku akan coba untuk berkeliling juga."
@spidcrew "Oh, bolehkah? Kalau begitu—sepertinya minuman beralkohol akan menyenangkan untuk malam ini." Pun, ia mulai merasa sedikit haus; dan di malam pertunangan seperti ini, ia yakin alkohol akan menjadi teman terbaik. "Apa yang akan kamu lakukan selama tiga hari berada di Italy, Noah?"