Hanya di Indonesia, ketika warga mengkritik program negara, wakil rakyatnya malah membalas dengan perundungan digital, penghinaan, dan serangan terhadap martabat warga.
Kalau perilaku seperti ini dibiarkan tanpa konsekuensi, saya rasa kita sudah tahu bagaimana posisi rakyat di mata kekuasaan.
@Gerindra@prabowo
Masih mau diam aja saat REPUTASI AKADEMIK BANGSA digadaikan demi gelar dan tiket jalan jalan?
This! Indonesia sedang menghadapi salah satu skandal akademik paling memalukan di panggung ilmiah dunia yaitu dugaan ‘Pemalsuan riset terorganisir oleh peserta asal Indonesia di konferensi ISPPD 2026 di Kopenhagen’
Mulai dari identitas presenter yang berganti-ganti, data penelitian yang diduga dihasilkan AI, hingga dugaan manipulasi demi travel grant dan legitimasi akademik instan, sementara ribuan ilmuwan dunia menyaksikan langsung bagaimana integritas ilmu pengetahuan dipermainkan dan reputasi peneliti Indonesia dipertaruhkan di mata internasional.
Pemalsuan ini akhirnya terungkap dan ini bukan masalah kecil.
Kita harus sadar bahwa AI sekarang bisa membuat abstrak, grafik statistik, hingga gambar medis sintetis yang terlihat sangat valid. Sayangnya, banyak sistem konferensi dunia belum siap menghadapi model fraud baru ini.
Di dunia sains, kepercayaan adalah mata uang utama, jika riset bisa dipalsukan dan dibeli, maka publik akan kehilangan kepercayaan pada sains itu sendiri.
Teruntuk Mbak Prihatin eh Prihantini dan Mas Rizaldy.
Ada update dari massatsetsedunia di thread bahwa anda juga mengikutsertakan keluarga (nama Ibu anda) dalam hal ini untuk masuk sebagai author.
Anda juga memasukkan salah satu instansi dan sudah ada yg menyanggah.
Kemana anda saat ini?
Pada saat melakukan fabrikasi data yang kemudian menjadi ajang untuk disubmit di conference dan dapat travel grant, apakah tak terbetik dengan nasib kami para dosen dan ilmuwan Indonesia yang juga sedang berjuang membangun kolaborasi riset International?
Pemalsuan riset terorganisir yg baru ketahuan saat konferensi di Denmark ini jatuhnya WHITE COLLAR CRIMINAL.
Saya pun penasaran jejaring pelakunya. Di akun IG w.o.d.d sebenarnya udah di-spill nama2nya.
Tapi saya penasaran jejak digitalnya di internet. Dan ini yg saya temukan
Nih kan ada lagi info tentang El Niño 👇🏼😱
Proyeksi terbaru NOAA menyatakan El Niño 2026 berpotensi menjadi “Super El Niño” yg terkuat dlm 150 tahun terakhir. Data suhu permukaan laut di Pasifik khatulistiwa menunjukkan pola pemanasan yg ekstrem di sepanjang garis khatulistiwa.
Berikut penjelasan teknis lengkapnya.
El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 naik di atas rata2 dlm waktu lama. Angin pasat yg biasanya meniup dari timur ke barat melemah, sehingga air hangat bergerak ke timur dan mengubah sirkulasi atmosfer global.
Menurut dataset ERSSTv5 yg direkonstruksi dari catatan kapal, karang, dan pengamatan modern sejak 1854, pola ini sdh terdeteksi sejak akhir 2025 dan terus menguat.
Pada 1877–1878, peristiwa serupa mencapai anomali suhu yg sgt tinggi dan menyebabkan perubahan pola hujan ekstrem di berbagai benua. Rekonstruksi data historis menunjukkan itu merupakan salah 1 El Niño terkuat yg tercatat.
Kali ini, model2 NOAA memprediksi kemungkinan serupa atau bahkan lebih kuat, dgn pemanasan mencapai lebih dari 2 °C di atas rata2.
Update resmi NOAA per 14 Mei 2026:
- 82 % kemungkinan El Niño terbentuk antara Mei–Juli 2026
- 96 % kemungkinan bertahan hingga musim dingin belahan utara 2026–2027 (Feb 2027)
- Sekitar 1 dari 3 kemungkinan mencapai kategori “super” (very strong)
Implikasinya adalah terjadinya kekeringan di sebagian Asia Tenggara termasuk Indonesia, curah hujan ekstrem di Amerika Selatan, dan peningkatan suhu global secara keseluruhan.
Intinya, mekanisme lautan-atmosfer ini sdg membentuk pola cuaca yg jauh lebih kuat dari El Niño biasa.
Bagian mana yg paling menarik perhatian kalian?
- Data historis 1877,
- Probabilitas NOAA, atau
- Dampak regional di Indonesia?
Lalu, knp di sebagian wilayah masih terjadi hujan bahkan intensitas sgt tinggi? Jawabannya di reply 👇🏼
Otak perempuan setelah kehamilan kedua ternyata berubah menjadi lebih tajam, sebagai mekanismie adaptasi untuk mengurus lebih dari satu anak sekaligus.
Penelitian mengenai perubahan otak setelah kehamilan pertama sudah cukup banyak, yaitu terutama perubahan pada default mode network, sebagai jaringan yang bertanggung jawab atas introspeksi, self-perception, dan kemampuan membaca kebutuhan orang lain.
Perubahan ini hipotesisnya adalah sebagai metode "install ulang" identitas seorang perempuan ketika menjadi ibu untuk pertama kalinya.
Yang perlu diperhatikan adalah penurunan volume gray matter otak di kehamilan kedua (2.8%), mirip kehamilan pertama (3.1%). Penelitian menunjukkan bahwa penurunan volume gray matter ini tidak berhubungan dengan penurunan kognitif, melainkan merupakan restrukturisasi otak untuk persiapan menjadi ibu yang lebih baik.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
Straathof (2026). The effects of a second pregnancy on women’s brain structure and function.
Prabowo ini bikin semua presiden pendahulunya jadinya terlihat bener kerjanya.
SBY itu nilainya 3/10, Jokowi 2/10 tapi Prabowo ini beneran 0/10. Nepotismenya gila. Temennya ditunjuk jadi Menhan yang ngurusin koperasi. Ajudannya dijadiiin Seskab. Adiknya dikasih jabatan multifungsi. Ponakannya dikasih Deputi BI.
Ekonomi lagi ambruk-ambruknya tapi presidennya macem gini. Hancur total.
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
Saya komentar agak ndakik-ndakik ya Kak. Salah kaprah jika kita mengukur pendidikan hanya dari sudut kegunaan langsung (immediate applicability).
Pendidikan adalah fondasi, bukan alat kerja langsung. Sekolah bertugas membangun fondasi kognitif (pengetahuan dasar & cara berpikir) yang nanti akan “dihidupkan” di jenjang yang lebih tinggi atau di konteks spesifik karier.
Contoh macam praktikum kimia di SMA (seperti menentukan sifat larutan asam-basa dengan lakmus, indikator, atau pH) bukan dirancang supaya kamu bisa langsung bikin sabun atau pupuk di rumah. Tujuannya justru mengajarkan metode ilmiah.
Tidak semua alumni IPA harus jadi ilmuwan. Tapi semua warga negara perlu literasi sains minimal supaya tidak mudah dibohongi hoax, iklan palsu, atau kebijakan pseudosains. Kalau semua mata pelajaran harus “langsung kepake”, pendidikan jadi sempit dan justru bisa berbahaya.
Gue sampe nonton 3x untuk memahami apa maksud omongannya dan bagaimana alur berpikirnya.
Gue belum nonton lengkap sih tapi...gaji dosen miris --> disuruh kompetisi dan mengaitkan dengan kualitas SDMnya itu menurutku suatu kesalahan berpikir ya.
Kelihatannya kaya bener tapi aku ingin highlight kalau GAJI YANG MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP itu HAK DASAR semua pekerja.
Realitanya, gaji dosen itu miris di luar nurul. Gue aja sampe gak paham gmn cara mereka bs hidup kalo pure ngedosen aja.
Nah, hak dasar belum terpenuhi kok udah ngomongin kompetisi? Itu dua hal yang berbeda menurutku.
Ibaratnya, perut lagi lapar tapi disuruh lomba lari rebutan nasi. Yang paling cepat yang berhak dapat nasinya. Padahal nasi/makan itu kebutuhan dasar yg harusnya dipenuhi untuk pekerja.
Gua baru tahu kalau perempuan butuh tidur lebih lama dibandingkan laki-laki setelah baca jurnal ini.
Pernah gak sih kalian merasa bahwa perempuan tuh tidur lebih lama dibandingkan laki-laki?
Sebuah penelitian yang melibatkan 72.992 orang dewasa usia 18–64 tahun menemukan bahwa perempuan rata-rata tidur lebih lama dibanding laki-laki, sekitar 6 𝘀𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 28 𝗺𝗲𝗻𝗶𝘁 lebih lama setiap harinya.
𝗞𝗲𝗻𝗮𝗽𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗯𝗲𝗴𝗶𝘁𝘂?
Penelitian ini menjelaskan bahwa perempuan, terutama di fase dewasa, saat hamil, serta ketika sudah punya anak, cenderung butuh waktu tidur lebih banyak. Beberapa alasannya antara lain:
1. Tidurnya lebih sering terganggu
2. Kualitas tidur lebih rendah
3. Peran sosial dan tanggung jawab keluarga bikin mereka harus bangun lebih pagi
Jadi kalau ada perempuan yang tidurnya terlihat lebih lama, apalagi yang sedang hamil atau sudah punya anak, JANGAN LANGSUNG DICAP MALAS YA!
Tubuh mereka memang butuh waktu istirahat ekstra untuk memulihkan energi.
Jadi mulai sekarang yuk kita mulai mengerti bahwa tidur lebih lama pada perempuan bukanlah tanda kemalasan, tapi kebutuhan biologis.
Sumber:
Burgard (2013). Gender and time for sleep among U.S. adults.
"Selamat Mutia, udah lulus S2!"
"Terima kasih Prof. Harjo!"
"Kamu jadi mau jadi dosen kan? Saya bisa tulis rekomendasi."
"Ya Pak."
***
"Mbak Admin, ini surat rekomendasi dari Prof. Harjo sama surat lamaran saya"
"Baik Bu Mutia, saya terima."
"Terus ini gimana Bu?"
"Bu Mutia dikontrak jadi dosen tidak tetap di sini dulu sampai bukaan CPNS."
"Bayarannya?"
"Per SKS Bu. Honorarium, bukan gaji. Sekitar 75 ribu per pertemuan."
"Baik Mbak."
***
"Bu Mutia, ini jadwal ngajarnya. Total kuliah 9 SKS ya Bu."
"Kalau sebulan berarti empat pertemuan?"
"Iya Bu."
"Berarti saya dapat 2.7 juta Mbak?"
"Iya Bu"
"UMR kota ini aja 4.8 juta?"
"Iya Bu. Memang aturannya gitu."
"..."
***
"Prof. Harjo, ini emang dosen awal karir bayarannya cuma segini?"
"Iya. Saya dulu juga gitu."
"Terus Prof dulu gimana?"
"Saya ngajar di kampus-kampus tetangga dulu waktu masih muda. Dari dulu aturannya gitu."
"Legal di bawah UMR? Gak ada yang protes Prof?"
"Kemarin sih di berita ada yang gugat ke MK Bu."
"..."
***
"Mbak Admin, ini emang belum ada bukaan CPNS?"
"Belum Bu."
"Sampai kapan?"
"Gak tau, kata pemerintah lagi moratorium."
"Terus saya harus nunggu gak ada kepastian?"
"Iya Bu. Dari dulu juga gitu."
"..."
***
"Bu Mutia, ini ada bukaan CPNS, segera daftar ya Bu."
"Baik Mbak Admin, apa yang perlu saya siapkan?"
"Ibu belajar tes SKD sama SKB."
"Lah ini kan udah waktu saya lamar jadi dosen tidak tetap?"
"Iya, lagi Bu."
"Hah? Kalau misal saya amit-amit gak lulus atau ada orang luar kampus yang lolos gimana?"
"Ibu nunggu bukaan CPNS lagi yang berikutnya."
"Hah? Itu pun belum tentu ada?"
"Iya Bu. Dari dulu juga gitu."
"..."
***
"Mbak Admin, ini pengumuman CPNS belum ada?"
"Belum Bu."
"Lah katanya Maret?"
"Kata berita kemarin Menpan RB bilang ditunda."
"Sampai kapan?"
"Oktober Bu."
"Enam bulan? Emang biasa ya ditunda kaya gitu?"
"Iya Bu. Dari dulu juga gitu."
"..."
***
"Bu Mutia, ini ada surat dari pusat."
"Saya baca dulu"
"..."
"Alhamdulillah. Lolos CPNS."
"Selamat ya Bu."
"Cuma ini emang selama satu tahun saya cuma nerima 80% gaji pokok?"
"Iya Bu. Setahun pertama CPNS. Nanti PNS abis itu."
"Cuma 2.2 jutaan? Masih di bawah UMR sini? Malah mending honorer ngajar 9 SKS?"
"Memang aturannya begitu. Ibu kan masuknya S2, jadi IIIB. Sekitar segitu."
"Ini gak melanggar undang-undang ketenagakerjaan?"
"Nggak Bu. Ibu kan CPNS. Dosen juga. Beda aturan. Memang begitu Bu."
"..."
***
"Mbak Admin, ini gimana caranya nambah take home pay? Gila aja segini terus"
"Ibu harus punya jabatan fungsional Bu. Asisten Ahli. Biar dapat tunjangan profesi."
"Bisa langsung apply?"
"Harus udah PNS Bu. CPNS belum bisa."
"Jadi harus nunggu setahun dulu?"
"Iya Bu. Memang aturannya begitu. Dari dulu juga begitu."
"..."
***
"Bu Mutia, ini ada surat dari pusat. Selamat Bu udah jadi PNS dosen."
"Alhamdulillah. Jadi saya dapet tambahan 20%, dari tadinya 80% jadi utuh?"
"Iya Bu. Jadi sekitar 2.9 jutaan."
"Gak ada tambahan apa-apa? Bukannya PNS di tempat lain ada Tukin?"
"Gak ada Bu. Itu kan yang pegawai di kementerian sama PTN Satker sama BLU."
"Kok gitu? Bedanya apa?"
"Ibu kan PNS dosen di sini, PTN-BH. Kata Sekjen Dikti di berita kemarin 'Tukin itu untuk pegawai, bukan dosen'"
"Jadi huruf 'P' di status saya PNS itu bukan 'Pegawai'?"
"Kata pemerintah gitu Bu. Memang aturannya begitu. Dari dulu juga gitu."
"..."
***
"Mbak Admin, saya bisa langsung mengajukan jabfung Asisten Ahli tahun ini?"
"Bisa Bu. Ini syaratnya."
"BKD memenuhi 12 SKS per semester selama 2 tahun berturut-turut?"
"Iya Bu."
"Lah, penugasan saya kemarin-kemarin aja pas honorer 9 SKS? Gak memenuhi?"
"Iya Bu. Memang begitu."
"Berarti yang keitung baru yang pas CPNS 12 SKS? Cuma setahun?"
"Iya Bu. Dari dulu juga gitu."
"Terus gimana?"
"Tahun depan Bu. Setelah genap 12 SKS 2 tahun berturut-turut."
"..."
***
"Mbak Admin, ini berkas saya buat Asisten Ahli."
"Baik Bu, saya cek sebentar."
"..."
"Berkasnya lengkap Bu, saya ajukan ya."
"SK Keluarnya kapan?"
"Enam bulan sampai setahun Bu."
"Nunggu lagi? Tetep dengan take home pay yang sama?"
"Iya Bu. Memang gitu. Dari dulu juga gitu."
"..."
***
"Mbak Keuangan, saya mau tanya"
"Gimana Bu?"
"Ini kan saya baru jadi Asisten Ahli. Ada tunjangan jabfung?"
"Ada Bu. 375 ribu."
"Hah? 375 ribu?"
"Iya Bu. Memang aturannya begitu. Sejak 2007."
"Udah mau dua puluh tahun lewat?"
"Iya Bu."
"..."
***
"Prof. Harjo, ada tips lagi gak buat nambah take home pay?"
"Udah Asisten Ahli Bu?"
"Sudah."
"Udah apply sertifikasi belum?"
"Belum."
"Nah cobain. Sekali gaji pokok itu lumayan."
"Baik Pak."
***
"Mbak Admin, saya mau apply sertifikasi."
"Lengkapi berkasnya Bu. Sekarang yang penting tuh Pekerti atau Applied Approach."
"Semacam training sama pelatihan gitu ya?"
"Iya Bu. Sekitar seminggu trainingnya. Bayar 1-3 juta."
"Ada reimburse dari kampus?"
"Gak ada Bu. Bayar sendiri."
"Hah? Kan ini buat kepentingan profesional kan ya?"
"Diitungnya pendidikan untuk pengembangan diri Bu. Bukan bagian profesionalisme."
"Hah?"
"Memang begitu Bu. Dari dulu juga gitu. Bahkan dulu ada TPA sama TOEFL bayar sendiri juga sebelum dihapus."
"..."
***
"Mbak, ini jadwal Pekerti yang deket adanya di luar kota."
"Iya Bu."
"Transport sama nginep saya bayar sendiri?"
"Iya Bu. Memang gitu. Atau kalau enggak nunggu ada di kampus kita."
"Kapan Mbak?"
"Tahun depan."
"..."
***
"Mbak Admin, ini berkas sertifikasi saya."
"Baik Bu. Sudah lengkap. Saya nanti submit waktu udah jadwalnya."
"Udah jadwalnya? Gak bisa tiap waktu?"
"Nggak Bu. Setahun dua kali doang. Yang kemarin udah lewat."
"Terus gimana?"
"Saya submit nanti sesi kedua tahun ini, enam bulan lagi."
"..."
***
"Bu Mutia, ini SK serdosnya sudah keluar."
"Alhamdulillah, akhirnya. Memang selama itu Mbak?"
"Iya Bu. Setahun biasanya."
"Jadi saya langsung terima tunjangan profesi?"
"Biasanya ada delay 1-2 bulan Bu."
"Nunggu lagi?"
"Iya Bu. Memang begitu. Dari dulu juga gitu."
"..."
***
"Gimana Mut Sertifikasinya?"
"Alhamdulillah Prof Harjo, akhirnya THP saya di atas UMR."
"Iya, mesti punya jabfung sama AA dulu, baru gitu."
"Iya Pak, ordenya tahunan."
"Saya dulu juga gitu."
"..."
***
"Mbak Admin, saya mau apply jadi Lektor."
"Udah berapa lama jadi AA Bu?"
"Dua tahun seinget saya."
"Nah, udah bisa berarti. Udah ada publikasi ilmiah Bu?"
"Belum Mbak."
"Mesti ada."
"Hah? Risetnya? Biaya penelitiannya? Mencit? Reagen? Bahan Kimia?"
"Wah, itu saya kurang tahu. Coba tanya senior Bu."
"..."
***
"Prof. Harjo, saya perlu naik jadi Lektor."
"Wah mantab. Bagus Bu."
"Nah tapi perlu paper buat itu."
"Iya Bu. Memang gitu. Saya dulu juga gitu."
"Risetnya? Biaya penelitiannya? Mencit? Reagen? Bahan Kimia? APC jurnalnya?"
"Saya dulu bayar sendiri semua itu Bu."
"Hah? Gak ada alternatif Prof?"
"Coba ke Lembaga Penelitian Kampus cari Hibah pemula."
"..."
***
"Mbak Admin Lembaga Penelitian Kampus, ada hibah buat dosen muda untuk riset pemula? Saya perlu paper."
"Ada Bu. Coba dibaca-baca"
"Ini memang semua syaratnya Lektor? Bahkan buat pemula?"
"Iya Bu. Rata-rata perlu sudah Doktor dan sudah Lektor."
"Jadi untuk jadi Lektor saya butuh dana riset, dan untuk dapat dana riset saya harus jadi Lektor?"
"Iya Bu. Memang begitu. Dari dulu juga gitu."
"..."
***
"Prof. Harjo, saya pinjam ruangan lab basah ya selama setahun ke depan."
"Dapat hibah Mut akhirnya?"
"Nggak ada Prof. Untuk jadi Lektor saya butuh dana riset, dan untuk dapat dana riset saya harus jadi Lektor."
"Terus gimana?"
"Bayar sendiri."
"Semangat Mut. Saya dulu juga gitu."
"..."
***
"Mbak Admin, ini berkas saya buat Lektor."
"Baik Bu, saya cek sebentar."
"..."
"Berkasnya lengkap Bu, saya ajukan ya."
"SK Keluarnya kapan?"
"Enam bulan sampai setahun Bu."
"Nunggu lagi? Tetep dengan take home pay yang sama?"
"Iya Bu. Memang gitu. Dari dulu juga gitu."
"..."
***
"Bu Mutia, ini SK Lektornya sudah keluar."
"Alhamdulillah, akhirnya.
"Selamat ya Bu."
"Memang selama itu Mbak?"
"Iya Bu. Enam bulan sampai setahun biasanya. Memang biasanya begitu."
"..."
***
"Bu Mutia, dipanggil ke ruangan Pak Dekan."
"Ada apa ya Mbak Admin?"
"Ada yang mau diobrolin katanya."
"Jam berapa mbak?"
"Jam 1, habis makan siang."
***
"Ada apa Pak Dekan?"
"Bu Mutia kan udah 5 tahun jadi Lektor di sini kan ya?"
"Iya Pak."
"Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?"
"Iya Pak."
"Biar karir Bu Mutia lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3."
"Wah, kalau nggak gimana Pak? Saya lagi banyak pengeluaran. Mana utang waktu S1 belum kebayar semua."
"Nanti karir Bu Mutia stuck di situ."
"Oh gitu, oke Pak."
***
"Mbak Admin, kalau saya mau daftar S3 di univ sini aja, syaratnya apa aja?"
"Kok gak ke luar negeri aja Bu?"
"Anak saya baru masuk kuliah, di jurusan sebelah, adiknya mau masuk SMA."
"Wah udah gede."
"Iya, saya dulu nikah muda dan punya anak cepet."
"Oh gitu, saya cek dulu ya syarat-syaratnya Bu, nanti saya hubungi."
***
"Bu Mutia, syaratnya ini Bu: Ijazah sama Transkrip S1 dan S2, Hasil tes TPA, Hasil tes TOEFL, sama Proposal Penelitian."
"Tes TPA sama TOEFL saya udah kadaluarsa, harus tes lagi?"
"Iya Bu. Oh ya, nanti juga ada tes lagi dari jurusan."
"Bentar, saya ngajar di jurusan Farmasi ini, punya beberapa paper di jurnal internasional di bidang ini juga, masih harus dites kemampuannya?"
"Iya Bu, memang aturannya begitu."
"..."
***
"Mbak Admin, ini saya udah dapat tes TPA dan TOEFL saya, ada reimburse-nya?"
"Gak ada Bu."
"Hah? Kok gitu, bukannya ini saya melaksanakan tugas secara profesional? Kok jadi uang saya pribadi yang keluar?"
"Memang aturannya begitu Bu."
"Uang pendaftaran ke universitas juga nggak ada reimburse-nya?"
"Gak ada Bu."
"..."
***
"Pak Dekan, saya kan udah urus pendaftaran S3 ke sini, untuk biaya UKT per semesternya gimana?"
"Sekitar 15 juta per semester Bu."
"Wah, saya gak kuat harus bayar segitu."
"Bu Mutia cari beasiswa aja, ada LPDP atau BPI."
"Bentar, ini saya kan melaksanakan tugas secara profesional kan Pak? Atas perintah Fakultas?"
"Iya Bu."
"Tapi saya disuruh cari pendanaan sendiri? Antara bayar sendiri atau beasiswa cari sendiri?"
"Iya Bu. Memang begitu. Saya dulu juga begitu."
"..."
***
"Prof. Harjo, bisa jadi promotor S3 saya?"
"Bisa Bu Mutia, tapi saya lagi minim funding beberapa semester ke depan. Hampir semua guru besar di fakultas kita lagi susah Bu."
"Oh gitu Prof, kalau tanpa funding, gimana?"
"Bu Mutia harus biayain penelitian sendiri."
"Maksudnya?"
"Beli mencit, reagen, bahan kimia, sama alat-alatnya secara mandiri Bu."
"Bentar, jadi selain harus bayar UKT, saya juga harus bayar penelitiannya?"
"Iya Bu."
"Kan ini saya bertugas secara profesional kan Prof? Ada surat dari Fakultas loh saya disuruh Tugas Belajar, kok pakai uang pribadi?"
"Saya dulu juga gitu Bu. Memang begitu."
"..."
***
"Bu Mutia, ini ada surat dari lembaga beasiswa yang di-apply kemarin."
"Oh iya Mbak Admin, sudah ada pengumumannya?"
"Iya Bu, ini ada suratnya dari LPDP sama BPI. Dibuka aja Bu."
"..."
"Kenapa Bu, kok sedih?"
"Dua-duanya nggak keterima Mbak, padahal saya juga PNS Dosen."
"Waduh, jadi gimana Bu?"
"Terpaksa bayar UKT pakai uang pribadi."
"..."
***
"Mbak Keuangan Fakultas, ini kok gaji saya tinggal gaji pokok PNS doang? Ini gaji pokoknya mana di bawah UMR pula. Sama kaya awal-awal PNS?"
"Bentar saya cek ya Bu Mutia."
"Tolong ya mbak, itu semua tunjangan sama serdos jadi ilang semua, saya lagi perlu biayain anak-anak saya."
"Bu Mutia mulai tugas belajar semester ini?"
"Iya Mbak."
"Oh pantes, memang gitu aturannya Bu, selama tugas belajar yang diberikan hanya gaji pokok PNS."
"Hah, kok gitu? Saya kan mengerjakan tugas ini atas perintah Fakultas?"
"Memang aturannya begitu Bu."
"..."
Apakah yakin kita masih bebas aktif ? Selama bertahun2, Iran adalah negara sahabat 🇮🇩. Kita sama2 anggota NonBlok, OKI, D8, G77, BRICS. Kita sering beda pandangan dan beda posisi dgn Iran, dan sistim politik + ideologi masing2 juga beda, namun 🇮🇩 dan Iran tidak pernah cekcok. Iran punya sejumlah musuh tapi tidak pernah meminta 🇮🇩 memusuhi musuh2nya. Fokus hubungan bilateral kita adalah kerjasama, persahabatan dan saling menghormati.
Sayangnya, ketika Ayatollah Khamenei dll tewas terbunuh, Pemerintah 🇮🇩 tidak menyatakan ucapan belasungkawa, sbgmana lazimnya kl pemimpin negara sahabat 🇮🇩 meninggal. Kelupaan atau sengaja ? Kalau sengaja, yg kita takutkan apa ? Apakah yakin kita masih bebas aktif ? Krn merasakan sikap dingin kita thdp kematian pemimpinnya, tidak heran Menlu Iran menolak dgn halus tawaran mediasi 🇮🇩. Mungkin mereka menyangsikan motivasi 🇮🇩 .. something to think about #wisdomwithoutfear
Kepikiran bikin cerita fiksi.
----
Premis:
Seorang bapak, kepala keluarga, tiap malam nongkrong di panggung dangdut kampung. Nyawer.
Awalnya receh.
Lama-lama jutaan.
Sampai ngutang koperasi.
Di rumah:
Anak 4 orang
SPP nunggak
Istri gali lubang tutup lubang
Utang warung menumpuk
Tapi dia merasa dirinya benar.
Konflik:
Istri menegur.
“Itu uang buat sekolah anak, Pak.”
Dia marah.
Merasa tidak dihargai.
Merasa dizalimi.
Lalu dia bikin status di Facebook:
“Saya dituduh menghamburkan uang buat nyawer. Padahal itu uang hasil penghematan dari jajan anak dan belanja makan.”
Netizen terbelah:
Ada yang simpati
Ada yang menghujat
Rasionalisasi:
“Kalau uangnya saya kasih ke rumah, nanti juga habis dikorupsi keluarga saya. Mending saya sawer. Jelas transparan. Saya lihat langsung hasilnya. Penyanyinya senang.”
----
Menurut kalian, ending yang paling realistis buat cerita ini apa ya?
BREAKING:
Pemerintahan Prabowo Digugat karena Dinilai Abaikan Dampak Krisis Iklim
Di tengah bencana yang kian sering dan parah akibat krisis iklim, pemerintah justru menerbitkan kebijakan yang berpotensi memperburuk situasi. Kementerian ESDM telah mengesahkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2026–2060, yang memperpanjang penggunaan batubara dan gas, membuka risiko deforestasi besar-besaran, serta mengandalkan "solusi palsu" seperti co-firing biomassa & CCUS.
Apa yang terungkap di persidangan? Ini rangkumannya 👇
INI BENAR SEKALI
ACEH belum selesai. Seminggu yg lalu tim Hanyengkuyun Sumatera-nya kami ke sana. Intinya aceh jauuuh dr selesai. Jangankan utk bekerja, utk kembali ke rumah saja mereka gk tau kapan. Hidup normal, bertetangga, bekerja, masih mimpi.
Sayangnya algoritm sosmed memilih hal lain drpd Aceh. Di bawah saya rangkum bbrp rekam kamera/kejadian dr teman² kemarin:
Interaksi dgn warga, mrk blm ada bantuan recovery untk rumah. Jd sampai skr masih byk bgt yg msh tinggal di pengungsian dg kondisi berdebu pekat, sanitasi tdk memadahi. Bahkan td ada kerbau di dalam rumah warga mati udah 2 bln blm bs di evakuasi. Sepanjang jalan tdk terlihat alat berat yg bantu untk bersihkan lumpur atau tumpukan puing dan batang pohon
Anak² masih minum air keruh. Yg bahkan sdh direbus. Air lho ini. Kebutuhan dasar 😞
Di Tamiang kota ada sorang ibu yg minta nomer tim kami minta di bantu alat² per warungan krn semuanya hanyut. Sbelumnya mereka jualan ayam geprek, lontong sayur dll. Bisa jd ini jenis bantuan yg belum trpikirkan sama sekali.
Mngkin ada yg komen:
"kamu terlalu underestimate. tunggu aja hasil kerjanya knp sih?"
Here's the thing:
Klo ini perusahaan keluarga sih terserah
Tapi di hidup, khususnya bernegara, ada yg namanya opportunity loss.
Kerugian yg ga keliatan karena posisi ditempati orang yg salah
Di umur berapa kalian tau kalau yang bikin skripsi susah itu bukan nulis, tapi nyari research gap?
Research gap itu krusial, kalau gap-nya ga valid proposal kamu gampang "ditembak" dosen.
Gap yg diambil mahasiswa seringkali kurang di-backup dengan literatur, sehingga hanya akan dianggap sebagai asumsi penulis.
Di thread ini aku mau share tools + langkah singkat utk bantu kamu mencari research gap.
Save thread ini buat kamu baca nanti.