Aku terbiasa merekam tingkahmu. Ketika kau makan; ketika kau tertawa; ketika kau menggodaku dengan tingkah konyolmu. Kau bertanya, “Untuk apa?” Dulu, aku punya jawabannya. “Untuk kita kenang jika kelak kita sudah tua.”
.
Kini, aku tidak tahu lagi untuk apa
Kalau anggota keluarga besarmu masih saja bertanya kapan kau akan menikah, tatap matanya dalam-dalam, lalu katakan, “Empati dan toleransi diciptakan untuk semua orang yang punya hati nurani. Mungkin Anda tidak punya”