Kita berhak dapet orang yg menomorsatukan kita sebagaimana kita.
Yg memperlakukan istimewa dan engga disama rata.
Seseorang yg menanggung resiko itu bareng².
Sekarang kita perlakukan diri sendiri dulu yg baik, sebaik²nya kita bisa.
Sisanya tinggal tunggu waktu baiknya aja -tsana
Baru males-malesan, tiba-tiba nemu kalimat ini :) :
“Kematianmu, akan datang di hari-hari biasa, disaat rencana-rencanamu yg blm selesai, dan dunia akan tetap berjalan tanpamu. Jadi, hiduplah lebih berani”
Dk boleh trllu diumbar. Tp setelah setahun ini, kali ini perlu di umbar.
Si paling word affirmation ini bikin kansudbauwhdbjswjkslwoq ♡
Aku si paling quality time sgt² terbantu sm beliau. Menenangkan. Semoga selalu ya kali inii .. 🥹
Lopyuuuu more lah!
gini ya rasanya hidup setengah-setengah, ga cantik ga jelek, kaya juga ga, dibilang miskin juga ga, ga pinter tapi ga bodoh juga, punya 3-4 temen tapi bisa bergaul sama siapa aja, kuat tapi lemah, ramah tapi pemalu, percaya diri tapi kadang insecure, ngerasa seneng tapi kadang nangis tanpa alesan, butuh seseorang tapi pengen sendiri.
kalau kamu tumbuh di rumah yang setiap habis berantem cuma diakhiri dengan silent treatment lalu ga lama kamu harus langsung switch ke “nothing happened” mode, pura-pura semua baik-baik aja tanpa closure, tanpa maaf, tanpa ngobrolin, perasaan sama sekali, maka itu bukan cuma “kebiasaan keluarga”. itu adalah pelajaran paling awal yang kamu dapat soal perasaan, bahwa emosi itu mengganggu, berbahaya, dan lebih baik dipendam sendiri daripada diungkapin, dari kecil kamu diajarkan bahwa vulnerability = risiko, jadi otak kamu sekarang otomatis memilih emotional shutdown setiap kali mau open up, makanya susah banget buat bilang “aku sedih”, “aku marah”, atau bahkan “aku butuh kamu”, bukan karena kamu ga punya perasaan, tapi karena inner child kamu masih takut kalau mengungkapkan apa yang ada di hati, rumah akan hening lagi dan kamu harus sendirian dengan luka itu, ini warisan yang ga kamu pilih, tapi sekarang kamu bisa ubah.
ternyata bener ya, kalau berdoa itu jangan sekedar sebut “semoga”
tapi sebut “Ya Allah tunjukkanlah, lancarkanlah, mudahkanlah, izinkanlah, dan jadikanlah.”
Sebagai musisi, saya iri, tidak pernah bisa membuat karya seindah Tulus. Tapi sebagai pendengar, saya bahagia. Setiap karya Tulus memang patut dirayakan 🫶🏻