my therapist told me this and it hit me: “healing is so hard because it is a constant battle between your inner child who is scared and just wants safety.... your inner teenager who is angry and just wants justice.... and your current self-who is tired and just wants peace."
Fun fact, you can be ambitious as heck and still have no interest to defeat others.
Since in your eyes, the only things that exist are you & your dreams. Nothing else matters.
That's why you only run and run to your goal and forget competition with anyone else.
Cukup resonate sama experience ini, termasuk jadi “anak baik” dalam konteks hubungan sosial. Aku tumbuh dgn konsep “kalau dijahatin orang jgn dibales, doain aja”. Buat aku, ini paradoks. Kelihatan baik, tapi efeknya damaging. aku gk berani memperjuangkan hak-ku, nrimo dan doa aja
Aku sayang alm. Mama, paham dan salut sama perjuangan dia sejak ayah meninggal, tapi mamaku juga punya flaw, aku dari bayi dianggap anak anteng, bahkan suka dicek aku masih idup apa engga 😂 kebetulan kebawa sampe tumbuh besar, dianggap anak yg tidak pernah merepotkan.
Mama nganggep aku pinter tanpa effort, selalu ranking satu sampe kelas 6, masuk SMP bagus, SMA Unggulan, Universitas top 3 beasiswa sampe lulus, begitu lulus lgsg keterima kerja, dll. Ga pernah minta yg aneh2 ke mama.
Beliau selalu bilang, aku gampang diurus, bisa ngurus diri sendiri, bisa mandiri sendiri, sedangkan kakakku gak bisa "ditinggal", jadi perhatian mama dr dulu lebih banyak ke kakakku. Bahkan tugas praktek sekolah kakakku mama suka kerjain, aku? Mana pernah. Hahaha
Bahkan kakakku mengamini kalo dia anak favorit mama.
Aku berusaha cari sisi positifnya aja, alm. Mama ke aku begitu krn dia tau sbg perempuan hidup itu lebih tough, spt hidupnya.
Efeknya sampe skrg aku sulit bgt sama yg namanya minta tolong sama orang, merasa selalu dituntut harus bs handle semua sendiri krn ekspektasi alm. Mama ke aku untuk mandiri & "tidak merepotkan" orang lain.
Tapi, alm mama dari dulu tidak pernah lupa mengucap syukur atas semua progress aku, selalu mendoakan yang baik-baik dan selalu berbangga atas achievement aku. That's what keeps me going, until the day she passed away.
invisible child.
bukan istilah medis resmi, tapi ini sering dipakai untuk menamai case seperti ini.
anak baik yang di mata orang tua & sekitar selalu akan baik-baik saja, tapi sebenarnya orang tua tidak memberikan ruang untuk berbagi perasaan emosional.
anak yang tumbuh dengan berpikir, "selama aku ga ngerepotin, semuanya akan baik-baik aja"
dan akhirnya memendam banyak luka.
Bisa berpikir logis. Karena prefrontal cortex sudah berkembang sempurna. 👍🏻
Jadi kalo udah 25, beranikan diri ambil keputusan ya. Mulai yg kecil2 aja, biar makin pede ambil keputusan yg lebih besar.
Duit, jabatan, semua bisa diusahakan kalau otaknya sudah bisa berpikir logis.👍🏻
Aku kagum sama orang yang punya pacar / suami / partner. Berarti mereka harus konsisten bales chat, angkat telepon, kabarin setiap saat, komitmen kan, dan itu ribet banget menurutku :") walaupun aku kesepian sih. Tapi keren orang orang bisa konsisten gitu sampe bertahun tahun
tiap kali denger wacana "kurikulum pencegahan LGBT" buat anak SD, gua selalu kepikiran film Monster (2023) karya Koreeda
banyak org selesai nonton film itu terus nanya "emang monster-nya siapa?"
and that's the point, monster-nya bukan Minato, bukan juga Yori. mereka cuma dua anak kecil yang bahkan belum sepenuhnya ngerti apa yang mereka rasain
buat gua, monster-nya adalah masyarakat yang bikin anak-anak ini percaya kalo ada sesuatu yang salah dalam diri mereka, sampe mereka harus tumbuh dengan rasa takut, rasa malu, bahkan nganggep diri mereka "berotak babi" cuma karena ngerasa beda
anak queer itu exist, and will always be.
mereka bukan jadi queer karena diajarin di sekolah, nonton film, atau ketemu orang LGBT. tapi kalo dari kecil mereka terus diajarin LGBT adalah sesuatu yang harus "dicegah", then once they fully understand themselves, hal pertama yang ikut tumbuh bukan penerimaan diri, melainkan rasa takut, rasa malu, dan keyakinan bahwa mereka adalah barang rusak
kalau dari kecil negara mulai menanamkan bahwa keberadaan mereka adalah sesuatu yang harus "dicegah", yang lahir bukan generasi yang "straight", yang lahir justru anak anak yang ngabisin masa kecilnya dengan "kenapa gua salah?"
that's the real tragedy, dan menurut gua, itulah monster yang sebenarnya, I hope no other Minato or Yori ever has to grow up believing they're the monster