Sudah satu tahun berlalu, tapi hal-hal yang membuatku merasa nggak aman masih bisa jadi trigger.
Kapan sembuhnya?
Mungkin bukan tentang kapan berhenti merasa, tapi kapan hati kembali merasa aman.
Kantor kakak, ngadain seminar parenting. Satu ruangan isinya 40 bapak-bapak. HRD yang ngundang.
Pembicaranya psikolog anak. 9 tahun praktik. Klien 200+ keluarga.
Dia buka sesi dengan satu pertanyaan:
"Bapak-bapak, saya mau tanya satu hal. Jawab jujur di kepala masing-masing."
"Terakhir kali anak Bapak cerita soal masalahnya, Bapak JAWAB apa?"
Ruangan sunyi.
Let me repost this, tulisan daniel mananta terinspirasi dari buku Bob goff " love does/cinta bertindak", aku juga baca. Byk bgt cerita kasus orang terdekat gk bisa ngobrol sama ortunya sendiri. Penulisnya punya tradisi anaknya tuh masih kecil2 ditanya one by one nanti klu umur 10
Pun saya. Ketika merasa tidak nyaman pada hal-hal yang terasa tidak profesional,
saya belajar bahwa tidak semua hal perlu didiskusikan. Kadang, menjaga jarak dan berbicara seperlunya adalah cara terbaik untuk tetap waras dan tenang.
Setiap orang punya harapan dan perasaan terhadap orang lain.
Untuk menghindari kondisi yang bisa disalahartikan, berjaga jaraklah.
Kadang menjaga jarak adalah bentuk menghormati, bukan menjauh.
Menurut saya, sebagai orang tua, kita perlu membiasakan anak untuk berkunjung ke psikolog setahun sekali. Entah untuk tes tumbuh kembang, tes IQ, konsultasi, atau lainnya, agar stimulasinya tetap berada di jalur yang tepat.
Seorang anak kelas 4 ternyata gifted (cerdas istimewa). Awalnya ia dites IQ karena komunikasinya kerap tidak nyambung, tetapi kemampuan eksperimen sainsnya sangat baik. Hasil tes psikolog mengonfirmasi ia gifted. Sayangnya, ini termasuk keterlambatan penanganan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Dunia berduka atas wafatnya YM Paus Fransiskus, seorang pemimpin yang melampaui sekat agama, menyapa dunia dengan welas asih, membela kaum papa dengan keteguhan hati, dan menjunjung tinggi martabat keadilan.
Paus Fransiskus bukan hanya gembala bagi umat Katolik, tetapi juga suara moral dunia yang tidak gentar bersuara lantang bagi yang lemah dan tertindas. Dari lorong-lorong kumuh kampung halamannya di Buenos Aires, hingga seruan damai untuk Gaza, ia adalah penjaga nilai-nilai kemanusiaan universal.
Dalam zaman yang sering gaduh oleh kepentingan, Paus Fransiskus berdiri tenang membela Palestina, menyerukan perdamaian, dan mengingatkan bahwa kekuasaan tak berarti jika tak berpihak pada yang lemah.
Indonesia kehilangan sahabat yang lembut tutur, namun tegas sikapnya dalam memperjuangkan kasih dan keadilan. Semoga suara dan teladannya akan terus hidup dalam nurani dunia.