The worst part is the wildlife. They don’t have a voice to protest, no choice in any of this, and no way to understand why their world is being turned to ashes. We can complain and wear masks, but they are just helpless in their own home.
‼️‼️ HATI HATI ‼️‼️
siapapun yang turun ke jalan tanggal 27 nanti, HATI HATI. tuntutan demo ini ada yang janggal karena cuman menuntut “ruu perampasan aset”
kalo kalian nyadar, demo tgl 18 lalu banyak framing buzzer yg menyalahkan mahasiswa kenapa ga ada tuntutan tentang ruu perampasan aset. ditambah yang menyebarkan info demo ini dari beberapa akun yg terdeteksi sebagai BUZZER 🙏🏻
siapapun yg turun ke jalan, jangan percaya kepada siapapun di tikum. jangan mudah di ajak sama org buat kesana kesini karena di khawatirkan demo ini bakal ditunggangi oleh beberapa oknum
JANGAN TURUN SENDIRIAN, record diri kalian sebelum turun aksi dan kalau bisa nyalain live location. fyi di titik demo itu sering hilang signal, jadi sebisa mungkin jangan sendiri.
kalo dirasa udah RUSUH dan banyak provokator, menjauh dari lokasi. jangan ikut ikutan terprovokasi 🙏🏻
Sekali lagi, El Nino itu kondisi, bukan penyebab utama kebakaran hutan.
Di banyak wilayah, peladang makin jarang berladang, tapi kebakaran tetap berulang tiap tahun, sudah pasti bukan mereka penyebabnya.
Akar masalahnya jelas ekspansi sawit skala industri.
Buka lahan pake alat berat Rp7 juta/hektar, pake api cuma Rp700 ribu.
Izin usaha di Kalimantan-Sumatra banyak tumpang tindih sama hutan lindung.
Tata kelola bobrok ini yang harus dibongkar, bukan warga kecil yang dikriminalisasi!!!
I think a lot of people don't know how important forests and all the flora and fauna of the equator are. Tropical rainforests are like the last bastion against total climate collapse.
Why we should aware about them too?
1. Bekantan.
Monyet berhidung panjang ini memiliki sistem pencernaan khusus yang hanya bisa mengolah daun-daun mangrove dan gambut.
Kalo habitatnya abis, mereka gak cuma kehilangan tempat tinggal, tapi juga perlahan mati kelaparan karna gak bisa memakan buah manis atau makanan lain.
2. Orangutan.
Sang Petani Hutan: Sebagai penyebar biji utama, hilangnya satu ekor orangutan akibat karhutla sama saja dengan mematikan masa depan regenerasi ribuan pohon hutan tropis.
3. Pohon Tualang (Koompassia excelsa).
Pohon raksasa yang tingginya bisa melebihi 80 meter ini rumah utama bagi lebah madu hutan. Sekali terbakar, butuh waktu ratusan tahun untuk menumbuhkannya kembali.
Belom lagi kita bahas Gajah, Burung-burung besar, Reptile dan lain-lainnyaa.
Sementara itu, mungkin bagi pembuat kebijakan, bekantan dan orangutan yang mengungsi ke pemukiman warga itu dianggap lagi melakukan kunjungan kerja atau studi banding kali yaa,
Lalu lagi-lagi alam yg disalahkan atas kemarau panjang, pdahal yang ngasih izin pembukaan lahan gambut — rumah bagi para fauna ini — bukan angin El Niño~ 😗
Shame on them.
Doanya masih sama:
May all governance and enablers rot in deepest hell.
🚨 DARURAT ASAP DI NABIRE, PAPUA TENGAH — 21 AGUSTUS 2026
Hari ini, Nabire menghadapi kondisi serius akibat karhutla dan kabut asap. Ratusan titik panas terpantau, asap tebal mengganggu jarak pandang hingga berdampak pada penerbangan di Bandara Douw Aturure.
Pemprov Papua Tengah telah mengaktifkan posko penanganan darurat dan mengerahkan personel untuk mencegah kebakaran meluas.
Mohon perhatian pemerintah dan semua pihak. Keselamatan warga harus menjadi prioritas.
Dari atas kelihatan jelas apa yang terjadi.
Direkam oleh aktivis lingkungan, content creator, dan YouTuber asal Kalimantan Tengah yang dikenal sebagai “Tarzan modern” atau penjaga hutan Kalimantan. Andrew Kalaweit
Hutan ditebang → dibakar → lahan dibuka.
Video ini diambil 7 Juli 2026, dan rasanya makin miris ketika sekarang Kalimantan harus menghadapi karhutla di banyak wilayah.
Api mungkin cuma beberapa hari.
Tapi kerusakannya bisa bertahun-tahun.
Yang kena bukan cuma hutan, tapi udara, satwa, lingkungan, dan manusia.
Semoga Kalimantan segera kembali bernapas. Stay safe semuanya. 🤍
I want to use my platform to talk about something that has been weighing heavily on my mind. I’m speaking about this because I have a platform, I have people who listen to me, and I believe that having reach comes with a responsibility to use it for things that matter.
Right now, different parts of Indonesia are going through very different kinds of crises. In Aceh, people are still trying to recover from the devastating floods and landslides that happened months ago. For many families, “the disaster” didn’t end when the water receded or when the news moved on. Homes, roads, livelihoods, access to healthcare and basic infrastructure take much longer to rebuild. Recovery isn’t simply the moment when the emergency headlines stop appearing.
And then there is NTT, where people have just experienced devastating earthquakes. On August 15, a magnitude 7.7 earthquake struck off Flores. People were killed. Homes and public facilities were damaged. Roads were disrupted by landslides. Thousands of people were forced to evacuate, and aftershocks have continued.
I think it’s important to remember that when we see a number representing the death toll, that number isn’t simply a statistic. Every number is someone's parent. Someone's child. Someone's sibling. Someone's friend. Someone's entire world.
And while people in NTT are trying to survive the immediate aftermath, another part of Indonesia is dealing with a crisis that has been happening for years, but becomes impossible to ignore when the sky fills with smoke.
Kalimantan is burning. And when I say this, I don't mean only the trees.
The forests are home to an incredible amount of biodiversity and wildlife. They’re ecosystems that can’t simply be replaced once they’re destroyed. Animals lose their habitats, people lose livelihoods, and communities living around these fires are exposed to hazardous smoke.
So when a forest burns, it isn't only an environmental statistic. It becomes someone's lungs. Someone's child's breathing. Someone's school day. Someone's ability to work. Someone's ability to rest. Someone’s ability to live.
And somewhere farther east, fires have also been reported in Papua.
Perhaps the numbers reported from individual fires there don’t look as enormous as the figures we see elsewhere. But I don't believe suffering should be measured by how effectively it can become a national headline. A hectare of forest is a habitat. Smoke is still smoke. A community is still a community.
All these communities deserve to have their struggles seen and taken seriously, even when they aren't receiving the same level of national attention.
I’m not posting this because I think one social media post will solve any of these problems. It won't. And I don't want to pretend that it will. I’m posting this because silence is also a choice. If you have a large platform, you have the ability to make something visible that otherwise might not reach the people who need to see it.
If you have money, you may be able to donate. If you have knowledge, you may be able to educate someone. If you have audience, you can amplify information. And even if you have none of those things, you can still care.
Most importantly, please don't look away. Indonesia isn’t only the places that receive the most media coverage, or the most attention. Aceh is Indonesia. NTT is Indonesia. Kalimantan is Indonesia. Papua is Indonesia.
So I’m asking the people who see this to do one simple thing: Don’t let this disappears.
Support legitimate relief efforts when you can. Listen to people from the affected communities. Hold institutions accountable when accountability is necessary.
And most importantly, remember these places after the rest of the internet has moved on. Because a disaster doesn't end when the hashtag stops trending. And people shouldn’t have to become a trending topic before we decide that their lives matter.
#PRAYFORKALIMANTAN
#PRAYFORACEH
#PRAYFORNTT
#PRAYFORPAPUA
#PRAYFORINDONESIA
kritik santun, my ass. mrk korupsi uang pajak kita, mengeruk SDA kita, bertindak semaunya. lalu knp kita ga boleh mengkritisi kinerja mrk? knp kritik dari rakyat hrs selalu dibungkus dgn kesantunan & intelektualitas, sementara yg kita kritik ga selalu bertindak dgn cara yg sama?
🚨 NEWS MALAM INI — JEJANGKIT MENYALA!
Jejangkit, kecamatan termuda di Kabupaten Barito Kuala (Marabahan), Kalimantan Selatan, malam ini dilanda kobaran api yang sangat besar. 🔥
Api terlihat membesar dan kepulan asap memenuhi area sekitar.
Situasi di lapangan perlu segera mendapat perhatian dan penanganan. Jangan sampai api meluas dan membahayakan warga.
📍 Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan.
🔥 API BESAR SEKALI MALAM INI.
Karena kelas menengah di Indonesia gak mau berorganisir untuk tujuan politik. Kunci kemenangan mamdani itu Democratic Socialist of America yang udah berkali-kali menangin pemilihan. Di NYC sendiri mereka berorganisir untuk Bernie Sanders dan AOC. Tanpa mesin itu Mamdani gak akan jadi. Mamdani juga udah pernah menang pemilihan sebelumnya.
.
Masalah Identity, non-white itu bukan Minoritas. 60% warga NYC itu udah non white (african-american, hispanik, asian etc). Jadi kalau ada non-white akan lebih mungkin dipilih, makanya Walikota sebelumnya Eric Adams yang African-American.
.
Untuk agama sendiri, moslem itu kira antara 5-8%, setara sama yahudi lah yang 7-9%. Malah yang mayoritas itu Non-Agama sampe 26%.
.
Jadi keliatannya klaim tentang identitas itu gak juga. Kemenangan Mamdani bagi gw itu keberhasilan pengorganisasian massa untuk politik, konsistensi pesan komunikasi dan keberhasilan mendengar masalah di grassroots yang sebel sama Trump.
stupid ass fucking country run by stupid ass fucking people because of stupid ass fucking people who voted for the stupid ass motherfuckers oh my god get me the fuck OUT OF HERE