- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Ditambah LBH Muhammadiyah mainnya cantik
Mereka sadar ngelawan ormas jalanan nggak bisa pakai otot balasan.
Jadi, mereka langsung mainin bidak catur nya lewat hukum:
1. Langsung bawa kasus ini ke Polda Metro Jaya (laporan penyekapan).
2. Minta perlindungan ke LPSK pada 25 Mei 2026.
3. Lapor dan audiensi ke Komnas HAM.
Strategi by the book ini bikin gaya premanisme langsung berhadapan head-to-head dengan instrumen penegak hukum negara dan tekanan publik.
Ormas mana pun, sekuat apa pun backing politiknya, bakal mikir dua kali kalau harus nabrak institusi agama sebesar Muhammadiyah yang bergerak secara konstitusional.