Kalau kamu mendukung mbg, seharusnya kamu juga merasa aneh kenapa saat diberhentikan sementara pas sekolah libur, yang protes malah pengusahanya. Sementara. Libur sekolah.
Padahal, libur sementara bisa dipakai untuk evaluasi, jika ingin memperbaiki programnya. Sementara, pas libur sekolah anak-anak yang jadi target utamanya bisa di rumah. Mereka tidak protes.
Kalau kamu merasa programnya baik, coba tanya para pengusahanya kenapa pas libur sekolah, masih harus ada mbg? Tuh, silakan dikawal.
Kebijakan stop MBG (meski cuma saat libur sekolah) disambut gembira semua pihak, kecuali pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI).
Ini bukti MBG bukan program, tapi proyek.
Yang lapar bukan siswa. Tapi pengusaha.
Kenapa setiap kritik dibalas pembungkaman, dan setiap masukan ditanggapi dengan emosi? Karena yang diberi saran memiliki ego yang lebih besar dibandingkan otak yang lebih pintar.
Disuruh santun di sebuah negara yang meledek rakyatnya adalah sebenar-benarnya anomali
Dari wawancara ini Mahasiswa UI dan DPR ini,
ternyata selama ini mereka tau masalah besarnya di mana, untuk memajukan bangsa Indonesia.
Tapi kok solusinya malah melencengggg,
- Tau masalah Jembatan rusak : solusinya makan
- Tau masalah Jalan rusak : solusinya makan
- Tau masalah Sekolah rusak : solusinya makan
- Tau masalah Guru honorer menderita gaji 300rb : solusinya makan
Analoginya gini,
Bayangin lagi naik motor tapi bensinnya habis.
Dikasih 2 pilihan antara SPBU buat isi bensin atau warung makan buat makan tapi lebih memilih buat makan di warung makan biar lebih semangat dorong motor!!!!
Rip logika sehat