@mazzini_gsp Nah, sama satu lagi nih bang. Kok cabup halmahera utara yg coli gk ada update juga? Ketutup sama kasus "Agus sedih" yah.π π π π π π π π π
Dua bulan lalu saya dan Detha keheranan dan sangat susah mencerna oleh nalar tindakan akademisi sejarah di Universitas Indonesia bawa materi ke konferensi sejarah internasional hasil comot artikel di rubrik Memori VOI.
Paparan materi di International Conference Universiti Malaya itu di-klaim akademisi tersebut sebagai hasil penelitiannya yang jujur, walaupun saat di-cek copy-paste hampir menyeluruh.
Tahapan heuristiknya tidak satu pun menyebut artikel kami di VOI sebagai salah sumber beliau, boro-boro menulis/menyebut/merujuk teman saya @Dethazyo dalam literatur review.
Plagiasi oleh akademisi yang menimpa Kang Fadly Rahman kembali jadi pembicaraan di medsos dan dia tangkap basah langsung di forum diskusi, pernah dialami @voidotid kebetulan materi yang ia plagiasi menurut beberapa teman, di bawa ke forum yg sama yg dihadiri Kang Fadly
Akhirnya saya pribadi menyimpulkan, plagiasi yg bermuara dari nihilnya apresiasi mungkin karena akademisi Ilmu Sejarah UI itu berpikir artikel sejarah di VOI atau pembahasan sejarah via medsos ditulis oleh orang yang tak jelas latar belakangnya akademiknya.
Memang benar, Detha dan saya sama-sama membahas sejarah tanpa background kuliah Sejarah formal, kami hanya bermodal membaca dan wawancara.
Semoga hal ini segera terhenti dan para akademisi menempatkan integritas dan orisinalitas sebagai hal dikedepankan.
Dua bulan lalu saya dan Detha keheranan dan sangat susah mencerna oleh nalar tindakan akademisi sejarah di Universitas Indonesia bawa materi ke konferensi sejarah internasional hasil comot artikel di rubrik Memori VOI.
Paparan materi di International Conference Universiti Malaya itu di-klaim akademisi tersebut sebagai hasil penelitiannya yang jujur, walaupun saat di-cek copy-paste hampir menyeluruh.
Tahapan heuristiknya tidak satu pun menyebut artikel kami di VOI sebagai salah sumber beliau, boro-boro menulis/menyebut/merujuk teman saya @Dethazyo dalam literatur review.
Plagiasi oleh akademisi yang menimpa Kang Fadly Rahman kembali jadi pembicaraan di medsos dan dia tangkap basah langsung di forum diskusi, pernah dialami @voidotid kebetulan materi yang ia plagiasi menurut beberapa teman, di bawa ke forum yg sama yg dihadiri Kang Fadly
Akhirnya saya pribadi menyimpulkan, plagiasi yg bermuara dari nihilnya apresiasi mungkin karena akademisi Ilmu Sejarah UI itu berpikir artikel sejarah di VOI atau pembahasan sejarah via medsos ditulis oleh orang yang tak jelas latar belakangnya akademiknya.
Memang benar, Detha dan saya sama-sama membahas sejarah tanpa background kuliah Sejarah formal, kami hanya bermodal membaca dan wawancara.
Semoga hal ini segera terhenti dan para akademisi menempatkan integritas dan orisinalitas sebagai hal dikedepankan.
Dua bulan lalu saya dan Detha keheranan dan sangat susah mencerna oleh nalar tindakan akademisi sejarah di Universitas Indonesia bawa materi ke konferensi sejarah internasional hasil comot artikel di rubrik Memori VOI.
Paparan materi di International Conference Universiti Malaya itu di-klaim akademisi tersebut sebagai hasil penelitiannya yang jujur, walaupun saat di-cek copy-paste hampir menyeluruh.
Tahapan heuristiknya tidak satu pun menyebut artikel kami di VOI sebagai salah sumber beliau, boro-boro menulis/menyebut/merujuk teman saya @Dethazyo dalam literatur review.
Plagiasi oleh akademisi yang menimpa Kang Fadly Rahman kembali jadi pembicaraan di medsos dan dia tangkap basah langsung di forum diskusi, pernah dialami @voidotid kebetulan materi yang ia plagiasi menurut beberapa teman, di bawa ke forum yg sama yg dihadiri Kang Fadly
Akhirnya saya pribadi menyimpulkan, plagiasi yg bermuara dari nihilnya apresiasi mungkin karena akademisi Ilmu Sejarah UI itu berpikir artikel sejarah di VOI atau pembahasan sejarah via medsos ditulis oleh orang yang tak jelas latar belakangnya akademiknya.
Memang benar, Detha dan saya sama-sama membahas sejarah tanpa background kuliah Sejarah formal, kami hanya bermodal membaca dan wawancara.
Semoga hal ini segera terhenti dan para akademisi menempatkan integritas dan orisinalitas sebagai hal dikedepankan.
Supaya kekerasan fisik dan doxx identitas seorang wartawan gak terjadi lagi.
Pentingnya publik tau redaksi dalam sebuah media dan Dewan Pers adalah lembaga yg tepat untuk mengajukan hak jawab dan koreksi bila kalian meyakini jurnalis memuat info dan data yg salah dalam beritanya.
Mungkin @dewanpers bisa ganti cara soasialisinya karena terbukti kurang optimal dipahami publik.
@mazzini_gsp Knp ekonomi syariah bru dibikin pemerintah stelah ada ICMI thun 90an? Bukannya dri setelah merdeka Islam udah jdi agama mayoritas & gerkan Islam udh tumbuh ya?
Pecatan anggota polri dan anggota POLRi aktif berkolaborasi menipu seorang anak petani yang berkeinginan mengabdi kepada negara dengan menjadi anggota POLRi.