"Rinduilah Tuhan melebihi rindumu kepada segala kekasih. Sebab kekasih yang lain akan kita tinggalkan atau meninggalkan kita. Tetapi Tuhan sebagai kekasih, Dia-lah yang akan kita tuju"
(Inyiak Dr)
Londo Ireng
Ini adalah predikat yang diberikan kepada kaum pribumi yang diperalat oleh penjajah Belanda untuk menggolkan agenda kolonialisme dan imperialismenya di Indonesia.
Saat ini, Indonesia (dan dunia pada umumnya) tidak lagi berada di era kolonialisme, melainkan neo-kolonialisme dan neo-imperialisme (nekolim). Kekuatan besar dunia (Barat) tidak lagi mengeruk kekayaan alam di berbagai penjuru bumi dengan cara menjajah langsung, tapi melalui cengkeraman modal, ekonomi, serta intervensi politik dan kebudayaan.
Dalam praktik neokolim, MEMANG, media, jurnalis, akademisi, pengamat, dll. (yang mau, tentunya) dilibatkan secara aktif. Misal nih ya.. apa solusi ketika negara kesulitan ekonomi? Jika yang berada di pusat kekuasaan adalah pakar ekonomi berhaluan neolib Barat, solusi yang dia sampaikan: PINJAM AJA dari IMF dan Bank Dunia (WB). Padahal, utang ke WB dan IMF itu sebenarnya adalah penjajahan modern. Kekayaan alam kita disedot untuk bayar hutang yang seolah tak habis-habis.
Tapi, fakta ini belum tentu terungkap di media, belum tentu diungkap oleh 'pengamat' yang masuk TV. Yang ada, pembenaran-pembenaran.
Jadi, kalau mau bicara soal Londo Ireng, identifikasi dulu: siapa sih yang menjajah dan siapa yang dijajah? Apa agenda si penjajah?
Di level global, sudah jelas, Barat (dipimpin AS) dan Israel adalah dedengkot kubu nekolim. AS mengebomi negara-negara di dunia yang ga mau nurut, termasuk Iran. Israel, juga melakukannya ke Palestina dan Lebanon dan Suriah.
Tapi, AS dan Israel tidak bisa melakukan nekolim JIKA TIDAK DIBANTU oleh para "Londo Ireng" dari berbagai penjuru dunia. Bantuan itu, antara lain dengan membeli produk industri militer (senjata, drone, alat intel, dll) AS-Israel. Dengan memberikan konsesi pengelolaan kekayaan alam kepada AS-Israel (atau anak-cucu perusahaan yang terkait dengannya). Dengan cara itu, pundi-pundi nekolim tetap penuh dan bisa melanjutkan kejahatannya.
Lalu, ada yang membela nekolim LEWAT NARASI (seperti yang dilakukan ZSM-Zionis Sawo Matang di Indonesia). Atau dengan memfitnah & mendehumanisasi bangsa-bangsa yang berani melawan nekolim, seperti Iran (seperti yang dilakukan Wahaboy).
Nah.. tinggal cek-cek saja, siapa di kubu siapa. Semoga kita tidak menjadi Londo Ireng.
[FOTO DIBUAT DENGAN GEMINI AI, tidak bermaksud dimiripkan dengan siapapun]
Ilahi!
Jauhkan kami dari sifat:
tahu salah,
tak mau berubah.
Meski menangis,
tapi tetap mengulanginya.
Ingin dekat dengan-Mu,
tapi jiwa berat bergerak.
Allah Belum Selesai Menulis Ceritamu
Jadi gini…
“Kalau aja dulu saya diterima di situ, mungkin hidup saya udah hancur sekarang.”
Pernah nggak sih kamu mikir gitu?
Dulu kamu nangis karena ditolak, dipecat, ditinggal, atau gagal total. Eh pas dilihat lagi, justru itu yang nyelamatin kamu. Yang kamu kira mimpi buruk, ternyata malah jadi penyelamat diam-diam.
Pertemuan kecil yang kamu anggap biasa aja, bisa-bisa ubah seluruh arah hidup kamu.
Hidup emang nggak sesederhana “berhasil” atau “gagal” di satu titik doang.
Dalam Islam, hidup itu bukan foto statis. Ini film panjang yang terus muter. Al-Qur’an berulang kali bilang: jangan buru-buru judge kejadian.
Lihat Nabi Yusuf. Dibuang ke sumur? Tamat riwayat. Dijual budak? Masa depan gelap. Dipenjara? Kelar sudah.
Tapi sumur itu justru tangga naik. Penjara itu malah pintu menuju kekuasaan. Satu episode nggak pernah jadi ending cerita.
Gimana dengan kamu? Apa sumur versi kamu yang bikin kamu merasa dibuang?
Yang bikin orang depresi itu bukan susahnya. Tapi karena dia kira susah itu ada di seluruh hidupnya. Padahal hidup masih gerak terus.
Hari ini kamu diremehin? Bisa aja besok orang-orang yang dulu ngomong “dia nggak akan jadi apa-apa” justru antri minta nasihat sama kamu.
Hari ini kamu dipecat? Bisa jadi paksaan buat nemuin potensi yang selama ini kamu kubur.
Hari ini patah hati parah? Nanti kamu ketawa sendiri inget betapa “duniamu runtuh” cuma karena orang yang ternyata nggak seharusnya kamu pertahankan.
Dulu kamu buat keputusan salah dalam hidup kamu sampai orang lain ikut susah? Iya, tapi bukan berarti otomatis kamu selamanya jadi orang jahat. Kamu masih bisa kok memperbaikinya.
Imam Al-Ghazali bilang, manusia sering ketipu sama pandangan sesaat. Seolah ya guys…Kita lihat hidup cuma dari lubang kunci, lalu langsung ngomong “game over”.
Padahal waktu itu guru terbaik.
Jadi jangan terlalu sombong pas lagi di atas. Jangan juga hancur lebur pas lagi di bawah. Cerita kamu belum tamat.
Banyak hal yang baru kamu pahami bertahun-tahun kemudian. Dan sering kali, yang kamu sebut “kehancuran” dulu, ternyata cuma pintu masuk ke versi kamu yang jauh lebih baik.
Santai aja. Allah masih nulis lanjutan ceritanya…
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
ada artikel serem banget,
"..Ketika Kampus
Menjadi Pabrik..."
ditulis oleh Bondan Kanumoyoso, seorang sejarawan dan dosen dari FIB Universitas Indonesia.
Penulis mengkritik kebijakan pemerintah yang ingin menutup jurusan kuliah tertentu hanya karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini
Universitas adalah tempat untuk mengasah pemikiran dan intelektual, bukan sekadar pabrik yang memproduksi tenaga kerja untuk industri.
Masa depan sulit diprediksi, sehingga jurusan yang dianggap tidak laku sekarang bisa jadi sangat dibutuhkan di masa depan untuk mengatasi masalah sosial dan teknologi. Ilmu seperti sejarah, sastra, dan filsafat tetap sangat penting karena membantu masyarakat tetap kritis, berempati, dan memahami identitas bangsanya.
Kebijakan yang terlalu fokus pada pasar kerja dikhawatirkan akan membuat mahasiswa menjadi pragmatis dan membuat bangsa kehilangan sosok pemikir atau intelektual publik.
Penulis menyarankan agar pemerintah melakukan kolaborasi antarilmu dan memperbarui kurikulum, daripada langsung menghapus atau menutup jurusan tersebut.