Indonesia punya 56 juta "pengusaha."
Malaysia cuma 3 juta.
Kedengarannya bangga. Padahal itu alarm.
Malaysia 75% pekerjanya formal, bergaji, terserap sistem.
Indonesia? 38%.
Sisanya jadi "pedagang" bukan karena mau, tapi karena nggak ada pilihan lain.
Bukan wirausaha. Survival mode.
Selisih itu bukan bukti kita lebih entrepreneur.
Itu bukti sistem kerja kita gagal nyerap orang.
Retorika ‘silakan kabur’ adalah kerak mentalitas kolonial yang memandang negara sebagai Tanah Perdikan (fiefdom) milik penguasa, bukan mandat rakyat. Dulu Digul menjadi pembuangan bagi nalar merdeka; kini, watak purba itu menubuh kembali—seolah kita memang tidak pernah beranjak.
Ada kutipan menarik dari film the Dark knight yang paling berkesan...
"You either die a hero, or live long enough to see yourself become the villain"
Puluhan tahun belajar ilmu serangga untuk proteksi tanaman, hanya untuk akhirnya jadi hama.
Di atas podium sok teges; mengagung-agungkan sistem merit. Anti koneksi-koncoisme, anti ini anaknya siapa, ponakannya siapa. Faktanya? Bayangken, satu orang ADIK KANDUNG menjabat 5 posisi strategis sekaligus.
WHAT AN UNMISTAKABLY, PAINFULLY BLATANT HYPOCRISY!! 🫵🏻
#RezimMunafik
Pendidikan itu hak, public goods, alat untuk menyadarkan bahwa ada situasi penindasan di sekitarnya
Kalau cuma dianggap ga relevan, jurusan gue Ilmu Pemerintahan harus dibubarin paling pertama karena ujung-ujungnya pemimpin pemerintahan kita juga penjual martabak 🙃
Ada jurnal menarik yang neliti sampe 14 tahun buat ngejawab pertanyaan apakah kemiskinan yang terjadi pada masa anak-anak hanya berdampak sementara, atau efeknya terbawa sampai dewasa
Rakyat diminta berhemat. Tapi pejabatnya hedon dan buang buang anggaran.
Bukan ini implementasi kebijakan yang benar! Jangan tebang pilih penegakan hukum!
Lawan politik diadili dengan alasan kerugian negara. Badan Gizi Nasional terang-terangan melakukan pemborosan depan mata justru didiamkan. Adili segera!