Meğer 300 milyon sperm yumurta finaline doğru 100 metre yarışı yapmıyormuş ve birinci gelen sperm döllenme hakkını kazanmıyormuş. En iyi, en uygun olan sperm yumurtaya girebiliyormuş. Onu da yumurta seçiyor.
Stockholm Üniversitesi ve Manchester Üniversitesi bünyesindeki araştırmacılar yumurtayı çevreleyen ve sperm hücrelerini çeken kimyasal maddeler içeren foliküler sıvının, her kadında farklı bir kimyasal imza taşıdığını keşfetmişler.
Bu çalışma, döllenmenin sadece en hızlı yüzen spermin yarışı kazandığı düz bir süreç olmadığını, yumurtanın aktif olarak sürece dahil olduğunu ve kendi tercihini yaptığını ortaya koymuş.
Bu seçilim mekanizmasının arkasındaki temel evrimsel mantık da genetik kaliteyi maksimize etmek.
Yumurta, kendi kimyasal sinyalleri sayesinde genetik olarak daha uyumlu veya daha yüksek kaliteli (DNA bütünlüğü daha iyi olan) spermleri "koklayarak" kendine çekmeye çalışıyormuş. Buna "kriptik seçilim" deniyor.
Yumurta hücresi biyokimyasal düzeyde ikinci bir oylama yapıyor. Bu, kadının seçtiği partnerin genetik profilinin yumurta için her zaman en iyi olmadığı durumları açıklıyormuş.
Nedeni açıklanamayan kısırlık vakalarının bir kısmının, yumurta ve sperm arasındaki bu kimyasal uyuşmazlıktan kaynaklanabileceğini düşünüyor bilim insanları.
ARIEL TATUM
POLA LAMA KEMBALI! Ariel Tatum Ikuti Jejak Kiki Saputri, Genk Solo Mulai Gerak Lagi di Tengah Konflik dengan Prabowo
Di tengah pusaran konflik kepentingan antara Jokowi dan Prabowo yang semakin terasa panas, gencarnya Ariel Tatum MEMASAK di siang bolong tentang kegelisahan masyarakat sipil justru membangkitkan kembali ingatan akan hubungan mesra yang pernah terjalin antara dirinya dan mantan Presiden Jokowi.
Bukan tanpa alasan. Ariel Tatum pernah membintangi film Sepeda Presiden karya Garin Nugroho, yang secara gamblang menggambarkan anak-anak Papua yang sangat ingin bertemu Presiden Jokowi. Selain itu, ia juga beberapa kali diundang ke Istana Negara dalam berbagai acara yang melibatkan pegiat seni dan figur publik di era Jokowi. Kedekatan ini bukan sekadar kebetulan biasa wak.
Kini, ketika suaranya tiba-tiba muncul lagi dengan nada kritis terhadap pemerintahan saat ini, muncul pertanyaan yang tak bisa diabaikan wak. apakah ini strategi Jokowi untuk menjatuhkan prabowo dan menaikkan gibran jadi presiden dengan menghidupkan kembali pola lama melalui wajah baru, atau memang hanya kebetulan semata?
Dari sudut pandang yang lebih awak, apa yang disuarakan Ariel Tatum saat ini terdengar sumbang. Bukan karena isinya salah, melainkan karena timing dan konteksnya yang terlalu pas dengan narasi yang selama ini digulirkan oleh lingkaran dekat Jokowi. Suaranya yang tiba-tiba lantang mengangkat keresahan masyarakat sipil justru terasa seperti bagian dari proyek yang sudah dirancang rapi. Pola lama dengan kemasan baru.
Jika pola ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan kembali menyaksikan kemunculan para influencer dan figur publik lama yang dulu getol mendukung Jokowi seperti Kiki Saputri dan sejenisnya yang perlahan-lahan mulai DIDENGARKAN lagi untuk membentuk opini publik. Semuanya dibungkus dengan narasi SUARA RAKYAT, padahal di baliknya ada kepentingan yang lebih besar, menjadikan gibran RI 1.
Ariel Tatum mungkin hanya satu bagian kecil dari skenario yang lebih luas. Namun melihat kedekatannya dengan GENK SOLO di masa lalu, suara kritisnya saat ini patut dicermati dengan hati-hati. Jangan sampai kita terjebak pada ilusi bahwa ini murni suara independen, sementara yang sebenarnya terjadi adalah upaya menghidupkan kembali mesin pengaruh lama di tengah medan politik yang sedang retak.
Dukung suara kritisnya tapi jangan sampai mengkhususkan pribadinya.
Semakin ke sini, saya makin yakin KDM memang lebih pantas disebut gubernur konten daripada gubernur yang benar-benar fokus membangun organisasi birokrasi.
Ia menyindir ASN karena katanya yang dipikirkan cuma tukin, bukan cita-cita bangsa.
Padahal argumennya punya banyak sekali celah .
Pertama, argumen KDM cenderung membangun false dichotomy, seolah ASN harus memilih antara memikirkan tukin atau memikirkan bangsa. Padahal keduanya bisa berjalan bersamaan. Seorang ASN dapat memiliki idealisme sekaligus memperjuangkan kompensasi yang adil. Menginginkan kesejahteraan bukan berarti kehilangan nasionalisme.
Kedua, KDM tampak mencampuradukkan peran (role confusion). Dalam organisasi, pembentukan visi besar, arah pembangunan, dan tujuan negara adalah tanggung jawab pemimpin politik dan pejabat struktural. ASN pada dasarnya adalah pelaksana kebijakan (bureaucracy as executor), bukan aktor politik yang merumuskan cita-cita bangsa setiap hari. Wajar jika percakapan sehari-hari pegawai lebih banyak berkaitan dengan target kerja, SOP, beban administrasi, atau kesejahteraan seperti tukin.
Ketiga, argumen KDM mengabaikan insentif ekonomi. Dalam teori ekonomi kelembagaan, perilaku organisasi sangat dipengaruhi oleh sistem insentif. Jika pemerintah sendiri menjadikan tukin sebagai instrumen utama untuk mendorong kinerja, maka tidak mengherankan apabila ASN memperhatikan tukin. Sulit menyalahkan individu karena merespons insentif yang dirancang oleh organisasi.
Jika birokrasi kehilangan idealisme, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang mendesain sistem birokrasi, indikator kinerja, mekanisme promosi, dan budaya organisasi? Itu merupakan tanggung jawabnya sebagai pimpinan pemerintahan. Mengkritik ASN tanpa mengevaluasi desain sistem berisiko hanya menyalahkan gejala, bukan akar masalah sesungguhnya.
"Suatu saat, di kelak kemudian hari, kekayaan yang ada di segelintir orang akan pelan-pelan menetes ke bawah"
Yang disebut Prabowo itu, dikenal sebagai trickle-down effect: salah satu ilusi ekonomi terbesar dalam sejarah kapitalisme modern.
Secara sederhana, ini adalah keyakinan bahwa kalau kelompok kaya dibiarkan makin kaya, diberi ruang akumulasi lebih besar, diberi insentif, atau dilindungi kepentingannya, maka pada akhirnya kekayaan itu akan “menetes” ke masyarakat bawah lewat investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Masalahnya, sejarah membuktikan bahwa teori ini sangat jauh dari kenyataan. kekayaan tidak otomatis menetes, yang terjadi justru kekayaan justru mengendap, berputar di lingkaran yang sama, lalu berubah menjadi kekuasaan politik.
Bahkan IMF sendiri pernah menunjukkan bahwa ketika porsi pendapatan kelompok terkaya naik, pertumbuhan malah justru cenderung melemah, sama halnya yang terjadi di Indonesia.
Pendeknya, trickle-down economics adalah dongeng paling sukses yang pernah dijual elite kepada rakyat miskin.
Dan dia adalah bagian dari elite yang menjual dongeng itu.
#intinyadeh komisaris PT Pertamina Retail, Ginka Febriyanti Ginting, lg jd sorotan netizen krn:
> Usia 28thn, gak ada pengalaman korporat/ industri energi
> Background sbg Koordinator Nasional BISON (relawan Prabowo-Gibran)
> Organisasi sayap BISON merupakan mitra Polri
(1/3)
Patriot Bond dan Merah Putih Bond ini bentuk Premanomics sesungguhnya.
Tata kelola absurd dan semua dibikin tabrak2 masuk.
Beberapa pertanyaan yang harus diajukan sambil nunggu PP turunan terbit
1) Kenapa beli surat utang khusus termasuk Patriot Bond dan Merah Putih Bond bisa dapet perlindungan khusus?
2) Kenapa beli SBN ga dapet perlakuan yang sama? Danantara lebih powerful dari negara?
3) Kenapa surat utang terbitan Danantara bisa kasih perlakuan khusus dapet perlindungan dan jaminan bidang dari penuntutan pidana umum, pidana perpajakan, dan gugatan perdata?
4) Danantara itu apa? siapa? kok bisa kasih jaminan itu semua? Kejaksaan, DJP udah dikunci harus setuju dan tutup mata?
5) Danantara mau ngutang tapi kok ga ada laporan keuangan?
6) Apa ini bentuk dari off-budgeting? Ngutang tapi ga mau bikin debt ratio, debt service ratio, dan defisit di APBN keliatan jelek dan melampaui threshold yg diatur UU, makanya surat utangnya via Danantara?
7) Tau kan potensi moral hazardnya di mana? atau sengaja tutup mata, halal haram hantam semua uang diterima dan negara via danatara siap jadi mesin laundry-nya?
8) Mau pake argumen : selama ini uang haramnya di Singapura, "if you can't beat them, be them", makanya kita fasilitasi via Danantara
9) silahkan netizen melanjutkan pertanyaan berikutnya....
Bayangin lo baru aja berhasil nyatuin negara yang nyaris pecah jadi belasan negara kecil.
Gara-gara lo, negara itu utuh lagi.
Presiden percaya, lo diangkat jadi perdana menteri.
Eh, 6 bulan kemudian kabinet lo kalah voting di parlemen.
Apa yang lo lakuin?
Kalo politisi jaman sekarang: nyari celah hukum, reshuffle internal, lobi sana-sini, atau diem-diem dikasih kursi baru biar tetep di lingkaran kekuasaan.
Mohammad Natsir?
Dia langsung balikin mandat ke presiden.
Pulang. Ga ada drama, ga ada manuver.
Ini ceritanya.
Aktor BREAKING BAD Giancarlo Esposito baru saja jadi mualaf. Dia pindah ke agama Islam setelah merasa nyaman berinteraksi dengan Muslim selama syuting di Arab Saudi.
Beneran jadi "Gus" Fring 😁
Kalau nanti tarif listrik sampai naik, jangan cuma marah ke PLN. Salah satu yang harus ikut disalahkan adalah MBG.
Kok bisa?
Mari saya jelaskan.
Masalah listrik hari ini salah satunya berawal dari pasokan batu bara ke PLN yang tidak lancar. Padahal batu bara itu bahan bakar utama banyak pembangkit listrik kita.
Kenapa bisa terjadi?
Karena ada yang namanya DMO (Domestic Market Obligation)
Sederhananya, perusahaan batu bara diwajibkan menjual sebagian produksinya untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk ke PLN.
Masalahnya, harga batu bara untuk PLN dipatok lebih rendah dibanding harga pasar ekspor.
Jadi secara bisnis, pengusaha batu bara lebih "tergoda" menjual ke luar negeri karena marginnya lebih besar.
Kalau pemerintah mau bikin pasokan PLN aman, harga batu bara DMO harus dibuat lebih kompetitif.
Tapi konsekuensinya biaya produksi listrik PLN naik.
Nah, dari sini pilihannya cuma dua:
tarif listrik dinaikkan, atau subsidi/kompensasi listrik ditambah.
Saat ini, subsidi listrik sekitar Rp90–100 triliun per tahun.
Jika ditambah kompensasi untuk menahan tarif, beban listrik di APBN bisa tembus Rp245,58 triliun.
Masalahnya, ruang fiskal negara sudah keburu disedot program jumbo seperti MBG.
Jadi ketika subsidi listrik butuh tambahan, pemerintah akan bilang APBN terbatas.
Ujung-ujungnya?
rakyat lagi yang diminta untuk mengerti:
bayar listrik lebih mahal,
atau terima pemadaman bergilir.
Dan semua ini tidak akan terjadi kalau ratusan triliun APBN tidak dikunci untuk MBG.
Udah berapa kali akun ini bilang, skema BGN pake yayasan itu sengaja agar tidak bayar pajak penghasilan badan.
Insentif harian tidak dicatat sbg penghasilan. Tp dianggap sbg hibah
Mostly SPPG juga bukan PKP jadi ga mungut PPN
Jadi 335 Triliun uang muter tanpa generate pajak
Ini dalam Ilmu Politik disebutnya Predatory State.
Dan MBG adalah Project penjarahan skala raksasa…
Siklus predatory state klasik:
Rakyat bayar pajak → negara biayai program → program berputar di luar sistem pajak → defisit melebar → rakyat bayar pajak lebih banyak untuk tutup defisit → program tetap jalan → lingkaran tidak putus.
335 Triliun,
Kita yang bayar masuknya.
Mereka yang nikmati keluarnya.
Mantap bukan?
Dan sistemnya dirancang agar kita gak bisa lacak aliran uangnya.
Lagi dan lagi dan lagi
Cermin gaya komunikasi publik pemerintah yg usang, simplistis, dan cenderung berlindung di balik narasi global untuk menjustifikasi beban yg dilemparkan begitu saja ke pundak rakyat.
Menahan kenaikan harga sejak Maret? Apa pula ini? Mau bikin narasi seolah2 pemerintah pahlawan hebat yg telah berkorban? Lalu rakyat harus tahu diri dan memaklumi kenaikan ini?
Gini ya ted, menyediakan energi dgn harga terjangkau adl kewajiban konstitusional pemerintah. Bukan kebaikan hat atau sedekah.
Pokoknya adak..
Jujur ya mahasiswa dan masyarakat sekarang lebih pinter loh, ga lagi berkoar koar di depan gedung politikus yang sudah di setting untuk kosong, tapi memanfaatkan spotlight jalanan ibukota, banyak banget gedung gedung tinggi yang dimana para manusia, orang orang penting, pengusaha pengusaha, bisa melihat langsung kejadian tersebut dari balik jendela, media juga lebih banyak yang datang dan menyoroti, keren 🙌🏻😭🔥
Reminder buat yang nggak ikut aksi tapi kena dampak macet hari ini di Bundaran HI, mohon sabar ya. 5 tuntutan yang dibawa: stop pemborosan APBN, turunkan harga sembako & BBM, hentikan MBG & Koperasi Desa Merah Putih, hentikan militerisme di ranah sipil, dan minta pemerintah akui kesalahan.
Mereka udah berjuang nyampein aspirasi buat kita semua, jadi mari saling menghargai.
SBY itu fair..
Dia terbuka. Dia jelaskan kenapa BBM naik. Dan siapkan kompensasinya.
Dia membiarkan rakyat marah dan kecewa
Dia bebaskan rakyat buat ngehujat
Dia biarkan demo berhari hari.
Sampai sampai dia dikatain kebo oleh you know who.
Tapi ini lebih baik
Dan terbukti, setelah rakyat puas marah-marah. Mereka akhirnya lebih tenang dan menerima keputusan itu.
Kek gitu seharusnya.
Bukan malah naikin BBM diam diam pas tengah malam!
Polanya gini:
Pertamax naik
Pengguna pertamax pindah ke pertalite
Antrian pertalite ramai dan jadi langka
Yang tersedia hanya pertamax
Orang-orang terpaksa pakai pertamax
Harga-harga akhirnya melambung semua
Pejabat tidak peduli karena mereka isi bensin bukan pakai duit mereka. Dan kalau pertalite yang dibuat melambung, tragedi 98 akan langsung berulang.
Bacot doang dollar ga ngaruh.
Romantisasi lagu MBG dan percaya Bahlil bisa kerja yang bener. Tai semua.
Kenapa Pertalite ditahan mati-matian harganya padahal BBM yang lain naik gila-gilaan?
Karena kalau Pertalite naik, chaos 98 pasti akan terjadi.
Yang akan meletuskan bubble kemuakan masyarakat hanyalah Pertalite.
Karena harga Pertalite lah yang akan dirasakan secara langsung dan merata oleh semua kalangan.
Bahkan pendukung 02 sekalipun.
Masyarakat belum terlalu ngeh dengan kenaikan suku bunga.
Orang kaya senang karena SBN mereka cuan.
Warga menengah mengeluh karena KPR mereka makin berat.
Warga bawah gak merasakannya langsung.
IHSG dan Rupiah juga begitu. Belum merata dan efeknya belum langsung.
Tapi kalau Pertalite berubah, tamatlah sudah alkisah wowo dan bolu ketan.
Ini yg dikemukakan ama beberapa ahli ekonomi tempo hari.
Kenaikan barang itu terjadinya perlahan, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, baru bahan jadi.
Kenaikan bensin itu baru langkah awal, yg akan memberikan efek domino ke naiknya harga2 yg lain.
Yg tercekik itu yg finansialnya dan gajinya terbatas.