JALUR MATI ALAS MERAPI
Part Akhir II - Pusaka Para Dewa
Kita tuntaskan Part Akhir POV Danan dan Cahyo.
Bantu share sama komen ya temen-temen biar cerita-cerita horor bisa kembali ramai di kancah twitter.
#bacahorror
JALUR MATI ALAS MERAPI
Part Akhir - Temui Aku di Merapi
Galang mendapati kenyataan bahwa Wulan adalah saudara kembarnya yang diminta Merapi. Tanpa ia sadari, sebagian sukma Tiwi menyadarinya lebih dulu..
@bacahorror@IDN_Horor@ceritaht
JALUR MATI ALAS MERAPI
Part 6 - Pusaka Merapi
Mereka terpisah sejak kecil, satu tinggal di alam manusia dan satu tinggal di sisi gaib hutan merapi..
#bacahorror@bacahorror
Part sebelumnya Part 1 : Sukma yang Tertinggal https://t.co/UEaQDZmeJx
Part 2 : Hutan tak Kasat Mata https://t.co/pGUdKuMRf9
Part 3 : Keraton Gaib
https://t.co/Er0a6G0W8r
Part 4 : Penari Dunia Arwah
https://t.co/ZrywbInwDV
JALUR MATI ALAS MERAPI
Part 3 - Keraton Gaib
Di balik hutan-hutan yang lebat dan puncak yang gersang, tersembuyi entitas gaib yang saling berinteraksi dan memiliki kehidupannya sendiri..
Keraton Gaib Merapi, bersembunyi di balik kabut pekat di sana.
#bacahorror@IDN_Horor
Sudut Pandang Cahyo…)
Kabut semakin pekat, menyelimuti jalur pendakian yang seharusnya tidak ada. Inilah jalur gaib yang kami cari, jalan menuju keberadaan Sukma Tiwi. Tapi kini, kami terjebak.
Dari balik kabut, bayangan-bayangan samar mulai bermunculan. Dayang-dayang keraton demit melayang mengelilingi kami, wajah mereka pucat dengan mata kosong menatap tanpa kedip.
Gaun panjang mereka berkibar tanpa suara, membentuk lingkaran semakin rapat. Udara menjadi dingin menggigit, menembus hingga ke tulang.
“Ini buruk,” bisikku, suaraku nyaris tenggelam dalam keheningan menyesakkan.
Lalu, dia muncul. Sosok kakek tua berdiri di hadapan kami, tubuhnya bungkuk dengan tongkat kayu tua yang dihantamkannya ke tanah hingga terdengar bunyi retakan. Kabut di sekitarnya bergetar, seakan tunduk pada kekuatannya.
Di tangan kirinya, tergantung sesuatu yang membuat darahku membeku—sebuah kepala manusia membusuk, matanya melotot kosong, bibirnya menyeringai ngeri. Bau busuk menyengat menghantam hidung, membuat perutku mual.
“Jangan berurusan dengannya!” seruku, suaraku bergetar saat melirik Galang, Farel, dan Raka yang wajahnya sudah pucat pasi. Tapi terlambat. Kakek itu tidak hanya menghalangi jalan. Dia mengincar kami.
“Kita sudah masuk ke wilayahnya,” bisikku, suaraku serak. “Kakek itu... dia tidak segan-segan mengambil nyawa manusia.”
Mata cekungnya bergerak lambat, memperhatikan kami satu per satu. Pandangannya terhenti pada Kliwon, kera yang berdiri di sampingku, bulunya meremang penuh kewaspadaan.
“Satu kepala saja cukup... Kuberi kalian kesempatan pergi,” suaranya parau, dalam dan dingin seperti datang dari dasar kubur. Tawaran yang terdengar seperti vonis mati.
Aku menelan ludah. Dia benar-benar menginginkan salah satu dari kami.
Dengan langkah gemetar, aku maju selangkah.
“Tak kubiarkan kau menyentuh mereka,” ucapku mantap, meski nyaliku hampir luruh.
Kakek itu menyeringai, mulutnya robek lebar memperlihatkan gigi-gigi hitam keropos. Tawanya pecah, menggema di antara pepohonan, memantul berkali-kali hingga terdengar seperti jeritan makhluk terkutuk. Udara tiba-tiba semakin dingin. Bayangan-bayangan di balik kabut bergerak gelisah.
Dayang-dayang demit itu tidak lagi sekadar mengelilingi. Mereka melayang maju dengan gerakan lambat, tangan-tangan kurus mereka terjulur ke arah Galang, Farel, dan Raka. Kabut tebal menyelimuti kaki mereka, menyeret mereka menjauh dariku.
Ini jebakan. Kakek tua itu mengalihkan perhatianku, sementara yang lain diincar untuk dijadikan tumbal.
“Kliwon!” teriakku.
Kliwon melesat cepat, tubuhnya lenyap ditelan kabut pekat. Aku hanya bisa berharap dia bisa menemukan mereka sebelum terlambat.
Sementara itu, aku harus bertahan di sini. Berhadapan dengan makhluk yang bahkan gunung ini sendiri telah mengutuknya.
...
@diosetta Seperti biasa mas 🔥🔥🔥🔥🔥
Gak bisa ngasih kata”, di setiap judul karya nya mas dio , yang pasti karyanya mas dio yang terbaik dari dulu,sekarang, dan seterus nya , sukses terus buat mas dio 🔥🔥
Di Pulau Dewata…
“Nan, aku masih belum ngerti kenapa Roro Mayit sampai mau mengorbankan nyawa buat ngelindungin kita. Nggak mungkin Cuma gara-gara bucin kan?” Tanya Cahyo sambil berjalan menuju sebuah rumah adat yang tak jauh dari sebuah Pura.
“Aku juga nggak yakin, tapi aku berniat menanyakannya pada Nyi Sendang Rangu..” Balas Danan.
Mereka menghampiri seseorang yang sudah menanti mereka di pendopo, Bli Waja. Mengetahui kedatangan Danan dan Cahyo, ia segera berdiri menyambut mereka berdua dan mengajak masuk ke dalam.
“Tak disangka-sangka, kalian benar-benar datang ke sini..” Sambut Bli Waja.
“Ada sahabat di pulau ini, rasanya berdosa jika saya tidak pernah mampir ke sini,” Balas Danan.
Cahyo menyikut Danan sambi tertawa, “Bisa aja kamu basa-basinya, Nan. Ajarin napa?”
“Nggak usah diajarin kamu juga lebih pinter.”
Perbincangan singkat itu terhenti saat Bli Waja mengajak Danan dan Cahyo untuk masuk ke kediamannya. Suasana yang tenang dengan suara air dan aroma kemenyan terasa di dalam bangunan itu.
Danan dan Cahyo mengutarakan maksud kedatangan mereka dimana saat ini, mereka mencari cara untuk memisahkan pusaka para danyang yang tersegel di diri mereka. Menurut nasihat paklek, seharusnya pusaka itu tak akan terdeteksi saat mereka berada di luar pulau jawa.
Pulau Dewata seharusnya menjadi tempat yang aman untuk mereka. Bukan hanya karena terpisah dari pulau Jawa, tapi juga karena di Pulah Dewata ada seorang yang paling kuat diantara mereka semua.
“Ada beberapa ritual yang mungkin bisa kalian coba. Walau tidak berhasil, setidaknya kalian bisa merasakan manfaatnya,” jelas Bli Waja.
“Kami mengerti, Bli. Kami percaya, Bli Waja pasti akan mengarahkan kemi ke jalur yang baik,” Balas Danan.
Perbincangan cukup panjang terjadi diantara mereka. Namun di tengah obrolan itu, Cahyo terusik dengan sebuah kejadian yang menurutnya aneh.
Rumah Bli Waja tiba-tiba dikerumuni kera-kera yang tak sedikit. Diantara mereka ada seekor kera putih yang memimpin. Cahyo pun meninggalkan tempatnya duduk dan memperhatikan kera itu. Seketika, kera-kera itu pun terfokus pada Cahyo seorang.
“Danan! Sepertinya kita perjalanan kita di pulau ini tidak akan biasa-biasa saja,” Ucap Cahyo yang berusaha mengerti isyarat dari kera-kera yang menghampirinya.
“Jika mereka sampai meninggalkan habitatnya, mungkin saja kalian memang sudah dinanti di pulau ini..” Ucap Bli Waja.
***
(PERANG TANAH DANYANG -TAMAT )
Hancurnya kesadaran Angkarasaka membuat mustahil membangkitkan kembali makhluk terkutuk itu. Para Danyang hitam pun menyerah dan memilih mengucilkan diri.
Sayangnya Danan dan Cahyo harus menghadapi kenyataan bahwa tubuh mereka saat ini menjadi wadah bagi pusaka para danyang itu. yang artinya tak menutup kemungkinan mereka akan diincar oleh kekuatan-kekuatan besar setelah ini.
“Kitab leluhurku menceritakan tentang kedua pusaka itu. Aku akan mencari cara untuk melepaskan pusaka itu dari tubuh kalian..” Janji Mbah Jiwo.
“Kami benar-benar bergantung padamu, Mbah,” Balas Danan.
“Tapi sebuah ramalan juga tertulis di kitab itu..” Mbah Jiwo melanjutkan ucapannya sementara Cahyo dan Danan memperhatikannya dengan cemas.
“Ketika pusaka para danyang berada di alam manusia, maka rentetan peristiwa sakral akan terjadi.
Kebangkitan pusaka, peperangan antar pengguna pusaka yang melibatkan manusia-manusia yang menghamba pada pusakanya. Rentetan peristiwa yang berakhir dengan kejadian yang disebut dengan
‘Pusakayana’”
Mendengar penjelasan itu, Danan dan Cahyo berdiri meninggalkan tempat mereka.
“Mbah.. saya titip apa namanya itu, ‘Pusakayana’ pada mbah Jiwo ya! Saya nggak mau ikut-ikutan,” ucap Cahyo yang tak mau tahu semakin jauh.
“Benar, Mbah! Saya mau ngabisin kopi dulu sama jajan bakso! Nggka ikut-ikutan saya!” Danan buru-buru meninggalkan Mbah Jiwo.
Saat ini yang mereka butuhkan hanyalah segelas kopi, gorengan hangat dan makanan yang bisa menghangatkan perut mereka.
Mereka pun menikmati sajian itu di halaman luar sambil menatap langit yang mulai cerah. Dalam hati mereka membayangkan bahwa kadang mereka tak pernah sadar bahwa ada sosok-sosok besar yang memiliki andil dalam kejadian alam yang terjadi di sekitar mereka.
Mereka adalah makhluk-makhluk yang lahir dari kekuatan alam. Seharusnya mereka ada untuk menjaga alam agar tumbuh dan mengalir sebagaimana mestinya. Merekalah yang dikenal oleh orang zaman dulu denga sebutan, Danyang.
***
SELESAI
“Kita tuntaskan,Mas Jagad!” ucap Danan.
Jagad mengangguk.
Cahyo membacakan ajian penguat raga pada Jagad, sementara Danan memperkuat pusaka Keris Jagat angkoro itu dengan mantra yang sama yang menyalakan kilatan cahaya pada keris Ragasukma.
Angkarasaka gentar dengan luapan kekuatan dari keris itu. Ia sadar, jika kesadarannya musnah, maka tubuhnya yang masih terjebak di alam bawah hanya akan menjadi cangkang kosong dan tak dapat dibangkitkan.
“Cukup! Kalian makhluk rendah tak pantas melawanku!!” Teriak Angkarasaka.
“Musnahlah! Kebangkitanmu takkan pernah terjadi!!!” Teriak Jagad.
“Makhluk terkutuk!!” Angkarasaka tak bisa menghindari serangan keris yang dikendalikan oleh Danan, Jagad, dan Cahyo itu. Ia berusaha melawan dengan sisa kekuatannya, namun semua itu sia-sia.
DHAARRRRR!!!!
Ledakkan besar menghancurkan sebagian wilayah tanah perjanjian. Kekuatan dari para danyang yang diserap dilipatgandakan dan diperkuat itu memusnahkan wujud Angkarasaka itu tanpa sisa.
“Ba—bagaimana bisa? Seharusnya serangan Angkarasaka itu menghabisi kalian berdua.” Wirabumi bersyukur melihat Danan dan Cahyo selamat dari serangan Angkarasaka, namun ia tak mengerti caranya.
Rasa penasaran itu terjawab saat Danan dan Cahyo tak mengindahkan rasa lelahnya dan buru-buru bangkit menghampiri tempat mereka beradu serangan tadi.
Terlihat sosok Nyi Sendang rangu sedang berlutut memegangi kepala seseorang yang tengah sekarat.
“Tidak.. Jayanti! Jangan!” Danan setengah tak percaya dengan apa yang terjadi.
Ketika Danan, Cahyo, dan Nyi Sendang Rangu bersiap menerima serangan Angkarasaka itu, tiba-tiba Roro Mayit muncul dan menerima serangan itu dengan sisa kekuatannya.
“Pergi! Tak ada manusia yang bisa selamat dari serangan ini!” Perintah Roro Mayit.
Nyi Sendang Rangu membawa Danan dan Cahyo menuju Jagad, Roro Mayit menerima serangan itu seorang diri.
“Tak disangka, Roro Mayit yang kekuatannya dirampas oleh Angkarasaka pun tak mampu bertahan. Walau telah meyadari hal itu, ia tetap memilih untuk menyelamatkan kita,” ucap Nyi Sendang Rangu.
Suasana di tanah itu hening seketika. Kematian Angkarasaka mengembalikan kekuatan para Danyang ke pemiliknya masing-masing. Tapi kekuatan Roro Mayit sirna.
“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini, Jayanti? Kami ini bukan siapa-siapa!”
Danan berlutut di samping tubuh Roro Mayit, air matanya jatuh tanpa henti.
Dengan suara lemah, Roro Mayit tersenyum samar.
“Kalau bukan siapa-siapa, kenapa ada air mata untukku?”
Kata-katanya menyayat hati Danan. Ia menyeka air matanya, tapi penyesalan telah menyelimuti hatinya.
“Seharusnya kisahnya tidak seperti ini!” seru Cahyo dengan nada tinggi. “Seharusnya kau berkhianat, dan kami mengalahkanmu! Itu akan jauh lebih baik!”
Roro Mayit tertawa pelan, suaranya semakin melemah.
“Katanya kau takkan tertipu olehku… ternyata aku berhasil menipumu. Aku menang...”
Tawa kecil itu justru membuat tangisan Cahyo pecah, menggema di antara keheningan.
“Jangan tangisi aku. Aku ini makhluk jahat. Gelar Roro Mayit membuatku menikmati kematian manusia, menari di antara teriakan siksaan dan darah. Sudah banyak nyawa kaum kalian yang mati karenaku...” ucapnya lirih.
“Benar! Kau makhluk terkutuk!”Danan menyahut dengan penuh emosi. “Tapi kenapa aku tak bisa menahan air mataku!”
Roro Mayit tersenyum lembut mendengar jawaban itu, senyuman terakhirnya sebelum keheningan abadi menyelimuti tubuhnya.
…
“Nyi.. apa yang terjadi jika Danyang mati?” Tanya Danan yang berusaha mengendalikan air matanya.
Nyi Sendang Rangu melangkah sambil menatap langit yang mulai tenang. Apa akan yang ia katakan seolah mencerminkan dirinya sendiri.
“Kami ini hanyalah kekuatan alam yang memiliki kesadaran, Danan. Ada yang kesadaranya tumbuh, Ada yang merasuk pada makhluk atau roh manusia, atau ada yang mempelajari dari gerak gerik makhluk lain..
Seperti aku yang menyatu pada roh Rahayu, Roro Mayit menyatu para roh Jayanti. Lagipula Roro Mayit dan Nyi Sendang Rangu itu hanya gelar. Kelak bisa saja ada yang menggantikannya.
Saat kami musnah, kami hanya akan kembali menjadi bagian dari alam..”
Danan mengernyit. “Apa tak ada surga dan neraka untuk kalian?” tanyanya penuh penasaran.
Nyi Sendang Rangu tersenyum memahami kekhawatiran Danan.
“Kami hidup bukan untuk surga dan neraka, Danan. Berbeda dengan kalian. Jika kamu rasa keberadaan kami memiliki arti, maka percaya saja bahwa Tuhan itu Maha Adil dan takkan memberikan tempat yang buruk untuk makhluk yang baik..”
Danan menatap Nyi Sendang Rangu dengan sedikit kagum. Ia berajar banyak dari sosok yang selama ini terus menolongnya itu.
“Terima kasih, Nyi…”
***
Nyi Sendang Rangu sudah bersiap melindungi mereka berdua, namun tiba-tiba terdengar suara teriakkan.
“SEKARANG!!!”
Suara Wirabumi menggema, dan sesaat kemudian tali-tali hitam kembali muncul menjerat mereka dan memindahkan mereka dari tanah danyang.
“KUBUNUH KALIAN!” Angkarasaka merasa di permainkan. Saat itu seketika mereka kembali berpindah ke alam manusia.
Seluruh manusia, danyang yang sedari tadi masih berada di tanah perjanjian kaget dengan kemunculan Angkarasaka dan Danan Cahyo yang babak belur.
Tak memberikan celah, Angkarasaka tetap melontarkan api hitam untuk membakar Danan dan Cahyo.
“Eyang! Jangan pedulikan kami! Lakukan!” Danan tak mau rencana Eyang Wirabumi gagal. Ia pun mencoba menerima serangan itu bersama Cahyo dan Nyi Sendang Rangu, walaupun mereka tau. Kekuatan Angkarasaka tak bisa ditahan walaupun mereka bertiga bertarung dengan kekuatan penuh.
Wirabumi cemas, namun ia memiliki tanggung jawab yang lebih besar. “Jagad! Sekarang!” Teriaknya
Sebuah keris melayang dari tangan Wirabumi dan ditangkap dengan cepat oleh Jagad yang muncul secara tiba-tiba di tempat keris itu melayang.
Sebuah ajian dibacakan dan kekuatan keris Jagat Angkoro meluap tak terkendalikan. “Kekuatan yang mengerikan,” Gumam Jagad.
Keris yang telah menyerap kekuatan para danyang dari pertarungan Angkarasaka melawan Danan Cahyo itu kini melakukan tugas terakhirnya.
“Takkan kubiarkan!!” Nyai Durgati yang kekuatannya berbeda dari danyang lainnya memaksa dirinya untuk menyerang Jagad dalam wujud rangda. Tapi setiap ia menyerang Jagad, luka jagad menutup begitu saja. Ada api putih yang membakar tubuh Jagad, Api Sukmageni.
Dari reruntuhan tanah itu, Paklek mendapatkan kembali kekuatan keris sukmageni dari Mbah Jiwo.
“Tuntaskan, Jagad!” Perintah Paklek.
Ia pun menggunakan kekuatan Ajian watu geni pada Keris Jagat Angkoro. Kekuatan keris itu menjadi berlipat-lipat meningkat hingga batasnya. Ia pun melemparkan keris yang menampung kekuatan danyang itu pada Angkarasaka dengan sekuat tenaga.
“Tidak! Jangan biarkan kesadaranku sirna di alam ini!” Perintah Angkarasaka pada nyai Durgati,.
Sosok itu pun menahan lengan Jagad sekuat tenaga. Jagat hampir tak berkutik dengan kekuatan danyang hitam itu, tapi dari asap hitam yang mengepul dua manusia muncul.
“Wanasuraa!!!”
Raungan keras terdengar bersama sebuah tendangan yang menguir Nyai Durgati dari tubuh Jagad. Kilatan cahaya melesat bertubi-tubi dari ajian lebur saketi Danan.
Danyang itu terpental, dan seketika geni baraloka paklek memulihkan kekuatan Danan dan Cahyo secara bersamaan.
“Kubalas! Akan kubalas kalian!!” Angkarasaka mengamuk. Ia menciptakan asap hitam yang begitu panas dan menyiksa tubuh Danan dan Cahyo.
Cahyo dan Danan berusaha bertahan.. tapi, kekuatan yang bukan milik mereka pun akhirnya habis tak bersisa. Manjing Marcapada dan Pusaka Ratu ular telah kosong.
Angkarasaka terpojok di bukit batu. Ia menahan semua serangan itu hingga kewalahan. Tapi ia tidak mati..
Sebaliknya.. Danan dan Cahyo kembali menjadi manusia biasa. Kliwon dan Nyi Sendang Rangu muncul dari raga mereka.
“Jadi ini batas kita..” Cahyo berusaha berdiri.
“Sial… sedikit lagi…” Danan masih berharap.
Saat itu Nyi Sendang Rangu memeluk Danan dan Cahyo bersamaan.
“Sudah.. cukup!” Kalian tak lagi memiliki kekuatan para danyang. Nyi Sendang Rangu tak tega melihat Danan dan Cahyo terluka lebih dalam lagi.
“Haha… sejak kapan kami mengandalkan kekuatan Para Danyang, Nyi?” Ucap Danan.
“Benar.. kalau kita dekat dengan Yang Maha Perkasa, sudah sewajarnya kita yakin kita akan berhasil kan, Nyi?” Cahyo memperjelas perkataan Danan.
Walau dalam keadaan terdesak seperti itu, Danan dan Cahyo masih bergantung pada Iman yang selama ini menyelamatkan mereka dari segala kesulitan.
“Jadi ini akhir kalian..” Ucap Angkarasaka.
Kepalan tangan Danan sudah dipenuhi kekuatan ajian lebur saketi, sedangkan roh wanasura merasuk pada Cahyo. Sayangnya, kekuatan yang selama ini menolong mereka dalam berbagai pertarungan itu tak lagi bisa menyelamatkan mereka.
“Kuhabisi kalian terlebih dahulu…”
Walau sebagian tubuhnya sudah hancur, tubuhnya masih bisa bergerak dan di tangannya sudah menyala api hitam yang begitu kuat yang siap menghanguskan Danan dan Cahyo.
“Sial..” Cahyo kelelahan, Danan tak mampu mengendalikan kekuatan pada dirinya. Mereka terengah-engah menghadapi kekuatan Angkarasaka yang begitu gila.
“Kebangkitannya yang tidak sempurna saja sudah semengerikan ini! Apa yang terjadi jika ia benar-benar bangkit seutuhnya..” Cahyo gemetar.
“Kiamat untuk umat manusia… itu yang akan terjadi..” Balas Danan.
Walau pertarungan terjadi diantara mereka, Angkarasaka tetap tidak menganggap Danan dan Cahyo. Angkarasaka percaya diri dengan kekuatan seluruh Danyang yang ada padanya saat ini.
“Mengurungku di sini? Kalian makhluk rendah memang tak pernah mengerti!” Angkarasaka tertawa.
Angkarasaka menyempurnakan wujudnya. Sosok yang terbentuk dari batuan hitam itu kini memebentuk wujud perkasanya layaknya dewa penghancur dari alam bawah.
Dharrr!!! Tiba-tiba sebuah hutan menghilang begitu saja. Danan dan Cahyo menyadari itu adalah ulah Angkarasaka.
Dharr!! Dharr!! Ledakan demi ledakan terjadi berawal dari kekuatan-kekuatan hitam yang berasal dari Angkarasaka.
“Cahyo.. Segel pusaka ratu ular di tubuhmu. Kekuatan Wanatunggal mampu menahannya. Dan Danan, Manjing Marcapada yang ada di tanganmu saat ini terbentuk dari empat sukma sambara. Seharusnya tubuhmu mampu menerimanya,” Jelas Purbawengi.
Danan dan Cahyo mencoba mencerna ucapan itu, mereka bertatapan sesaat dan memandang kedua pusaka itu.
“Sepertinya tak ada pilihan lain..” ucap Danan.
“Benar. Ini satu-satunya harapan..” Cahyo mengenakan Pusaka ratu ular itu di kepalanya tanpa ragu. Kekuatan hitam merasuk ke dalam dirinya dengan brutal, bagian relied dari mahkota itu bergerak dan mencengkeram kepala Cahyo dengan kuat.
“Arrrrgggghhh!!!!”
Danan tak menunggu. Ia menyatukan Manjing Marcapada pada sukmanya. Perasaan aneh yang meledak-ledak merasuki tubuhnya.
“Pulau ini takkan mampu menahan kekuatan ini!” Ratu Puspa Cempaka cemas.
“Untuk itulah ritual ini kulakukan…” Suara Mbok Sar terdengar dari langit yang terbuka itu. “Kutitipkan takdir alam ini pada kalian…”
Seketika benang-benang hitam muncul dari dalam tanah mengikat Angkarasaka, Danan, dan Cahyo. Dalam satu kedipan mata tiba-tiba mereka bertiga muncul di sebuah alam dengan energi yang meluap-luap.
“Ini…” Danan bingung dengan keberadaan dirinya ddan Cahyo saat ini.
“Tanah Para Danyang.. Tuntaskan pertempuran kalian disini,” ucap Eyang Kertasukmo yang berada di sana seolah sudah menanti mereka berdua.
“Jangan lengah. Seluruh kekuatan danyang kini menjadi kekuatan makhluk terkutuk itu.” Eyang bumi duduk di sisi lain sambil mengawasi Angkarasaka yang masih berusaha mengendalikan kekuatan para danyang yang ia ambil.
“Jika eyang semua disini berarti Paklek dan Mas Jagad..” Tanya Cahyo.
“Mereka sedang menjalankan bagiannya..” Balas Eyang kertasukmo.
Tanpa ritual yang sempurna, Angkarasaka tak bisa bangkit. Ia hanya memanfaatkan kesadaran, dan bagian tubuhnya yang telah muncul di alam manusia untuk membentuk wujud itu.
“Cukup Bli Waja..” Serahkan sisanya pada kami.
Bli Waja menatap ke depan dan mendapati serangan Jagatbara ditahan oleh Cahyo yang dirasuki Wanatunggal. Sementara Danan menjulurkan tangannya pada Bli Waja.
“Aku hanya sampai di sini…” Ucap Bli Waja menyerahkan Majing Marcapada pada Danan.
Saat itu Ratu Puspa cempaka segera menyelimuti tubuh Bli Waja dengan dedaunan yang muncul dari kekuatannya. “Istirahatlah.. kau aman bersamaku..”
Di belakang Danan dan Cahyo berkumpul danyang danyang putih. Di tangan Danan, Manjing Marcapada semakin menyala terang, sedangkan di Pusaka Ratu ular aman di genggaman Cahyo.
“Menyerahlah, kami akan menyegel pusaka ini..” ucap Danan.
Jagatbara tak mampu menahan rasa kesalnya. Ia meledakkan apinya yang semakin panas. “Aku tak terima dipermainkan oleh manusia!”
Melihat hal itu Danan tak gentar. Kekuatan Nyi Sendang Rangu di dalam dirinya membuatnya mampu bertahan dari tekanan makhluk-makhluk di sekitarnya.
Keseluruh Danyang hitam menarik begitu banyak kekuatan Angkarasaka, hingga tanah di sekitar mereka bergetar.
“Hati-hati.. pertarungan berikutnya adalah pertarungan hidup dan mati,” ucap Roro Mayit.
“Kami mengerti” balas Cahyo.
Kekuatan yang begitu besar merasuki ketiga danyang hitam itu. Tapi belum sempat mereka menggunakannya tiba-tiba hal yang aneh terjadi.
Sebuah petir menyambar tepat di tengah-tengah para danyang itu. bongkahan-bongkahan batu hitam muncul dari petir yang menyambar tempat itu.
“Sepertinya aku tak bisa lagi mengharapkan kalian..” Suara yang begitu berat dan menakutkan terdengar dari bongkahan batu yang membentuk wujud manusia. Kebangkitan sosok itu sekaligus menyerap keuatan dari seluruh danyang yang ada di sana.
“Ti—tidak mungkin!” Roro Mayit mengenali sosok itu. Ia terjatuh mencoba menahan kekuatannya untuk terhisap, namun ia tak mampu.
“Angkarasaka?! Tidak mungkin?!!” Dewi agni kehilangan kekuatan apinya.
Seluruh Danyang putih maupun hitam tak berdaya dengan perwujudan kesadaran Angkarasaka. Sebagian dirinya sudah terpanggil di alam manusia dan mengambil wujud itu untuk menyelesaikan sendiri ritual kebangkitannya.