1/
Kasus Chromebook bukan sekadar perkara laptop.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan nasional bisa diseret oleh arogansi kekuasaan, konflik kepentingan, tata kelola yang rusak, dan kultus teknologi.
Saya menyaksikan sebagian proses itu dari dekat.
Ngawur..
Tdk ada roda ekonomi yg berputar dgn konsep sentralisasi buying.
Yg trjd justru ongkos produksi hulu ditekan serendah utk sentralisasi buying, sementara biaya hilir naik setinggi mgkn nutupi cost oportunity umkm.
Yg cuan? Tengah. Makelar. Rente.
Ini ekonomi ala Orba.
Mengapa Soeharto tak ditangkap setelah jatuh pada 1998?
Pada tahun 2000, Gus Dur berusaha melakukan itu.
Gus Dur berusaha menangkap Soeharto dan keluarganya.
Sidang dijadwalkan pada 14 September 2000.
Pada 13 September 2000, bom raksasa meledak di Bursa Efek Jakarta.
15 orang tewas terburai menjadi potongan-potongan kecil. Tubuh mereka hancur berceceran oleh bom mobil raksasa yang diparkir di basement Bursa Efek. Puluhan lainnya terluka parah.
Asap tebal membumbung di tengah-tengah SCBD di jantung perekonomian Indonesia. Gedung-gedung kantor besar perusahaan multinasional, bank, dan pemerintahan yang berisi ratusan ribu karyawan dilanda kepanikan dan dievakuasi.
Bom teroris besar itu menyebabkan kepanikan yang lebih besar.
Saat itu, Indonesia sedang tertatih-tatih memulihkan diri dari krisis 1997 dan mengembalikan kepercayaan internasional.
Kesejahteraan ekonomi ratusan juta rakyat bergantung pada kesuksesan pemerintahan Gus Dur melakukan hal itu.
Bom teroris di Bursa Efek sangat menggoncangnya. Harga saham jatuh. Indonesia terancam roboh kembali.
Jika Indonesia tak stabil, jutaan rakyat terancam kembali jatuh miskin dan menganggur.
Tentu saja, secara teori, jika Indonesia roboh, Soeharto dan keluarga Cendana tak akan bisa ditangkap.
Keluarga Cendana tidak akan pernah bisa ditangkap polisi apabila tidak ada polisi dan tidak ada penjara karena Indonesia bubar.
Siapa dalang bom teroris tersebut?
Kecurigaan tentu langsung tertuju pada keluarga Cendana, terutama Tommy Soeharto.
Alasan pertama, serangan bom teroris terjadi satu hari sebelum persidangan kedua yang seharusnya menyeret Soeharto dan keluarganya ke peradilan hukum.
Alasan kedua adalah Gus Dur yang langsung mengumumkan bahwa Tommy adalah tersangka utama dan memerintahlan pemeriksaan. Gus Dur sebagai presiden tentu berkuasa atas informasi intel.
Alasan ketiga, sebelumnya Tommy sudah terlibat dengan serangkaian kasus bom dan penembakan.
Lima bulan sebelumnya pada 13 Maret 2000, Tommy diseret ke hadapan Komisi V untuk diperiksa tentang kasus korupsi dan kegilaan monopoli cengkeh BPPC.
Pada saat itu, jendela ruang rapat Komisi V tiba-tiba ditembak orang misterius dengan senjata api.
Anggota Komisi V merasa sangat terancam. Bagaimana kalau yang ditembak berikutnya bukan jendela kosong, melainkan kepala mereka? Atau kepala anak mereka?
3 bulan kemudian, pada 4 Juli 2000, Tommy diseret Jaksa Agung Marzuki Darusman untuk diperiksa di Kejaksaan Agung.
Satu jam setelah Tommy meninggalkan gedung, gedung Kejaksaan Agung meledak oleh bom.
Ternyata yang meledak seharusnya dua bom. Tetapi salah satu bom untungnya gagal meledak.
Dua bulan kemudian, pada 31 Agustus 2000, sidang pertama kasus korupsi Soeharto dan keluarganya digelar.
Tiba-tiba, bus yang diparkir mencurigakan di samping tempat persidangan meledak. Ada orang yang menaruh bom besar di situ.
2 minggu kemudian, sehari sebelum sidang kedua pengusutan keluarga Cendana, terjadilah bom di Bursa Efek yang sangat brutal dan mengerikan ini. Ini adalah pengeboman teroris paling mematikan sejauh ini.
Gus Dur memerintahkan penyelidikan untuk mengusut Tommy dan antek-antek gerombolan premannya yang diduga keras menjadi dalang terorisme pengeboman Bursa Efek itu.
Pada saat itu, Menteri Pertahanan Mahfud MD menjadi sangat resah.
Ia membaca pola ancamannya: jika Gus Dur terus menginvestigasi Soeharto, gerombolan keluarga Cendana, dan pundi-pundi raksasa kekayaan pribadi hasil rampokan mereka selama 20 tahun terakhir, Indonesia akan terus digoncang bom dan instabilitas. Ini sudah masuk ranah ancaman pertahanan nasional.
Mahfud seakan membaca tulisan yang ditulis dengan darah orang-orang Bursa Efek: "Jika kamu terus mengusut, Republik ini akan jatuh."
Gus Dur bebal. Dua bulan kemudian, Gus Dur menolak permohonan grasi yang dengan sangat belagu diajukan Tommy Soeharto. Saat itu Tommy baru saja didakwa korupsi memaling aset tanah Bulog dan akan segera dipenjara.
Apa yang dilakukan Tommy? Ia kabur dan menjadi buronan.
Pada 14 November 2000, polisi mengirim 18 tim untuk melakukan penggerebekan di 18 lokasi. Sebanyak 206 anggota polisi diturunkan untuk melakukan penggerebakan serentak, termasuk di rumah Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta.
Gagal. Tommy tak bisa ditemukan.
Sebulan kemudian, rentetan bom teroris kembali meledak, yaitu pada Malam Natal 24 Desember 2000.
Yang ini sangat mengerikan.
23 gereja berbeda yang tersebar di Batam, Pekanbaru, Jakarta, Mojokerto, Bandung, Ciamis, dan Lombok hancur oleh bom teroris yang dijadwalkan meledak serentak.
Serangan bom serentak ini menewaskan jemaat Kristen yang sedang berdoa, juga menewaskan Riyanto, anggota Banser NU yang ditugaskan menjaga gereja dari ancaman teroris. Ia mati syahid ketika berusaha menjauhkan bom dari para jemaat gereja.
Beberapa minggu kemudian pada Januari 2001, salah satu teman dekat Tommy, Elize Tuwahatu, berhasil ditangkap oleh Polda Metro Jaya. Elize tertangkap basah membawa-bawa tiga buah bom raksasa dari Tommy.
Dari mulut Elize dan pelapornya, berbagai kelakuan Tommy berhasil dibongkar.
Ternyata, berapa hari setelah Bom Malam Natal, Elize ditugasi Tommy untuk menyusun rencana membunuh Jaksa Agung Marzuki Darusman serta Menteri Industri dan Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan dengan bom.
Bom pertama dan kedua ditujukan pada Marzuki dan Luhut, yang dianggap mengancam pundi-pundi raksasa kekayaan dan aset keluarga Cendana.
Apabila Luhut berhasil dibunuh dengan ledakan bom, kematian sadisnya juga akan mengguncang stabilitas industri dan perdagangan Indonesia, mengingat jabatan strategis Luhut saat itu.
Menperindag sebelum Luhut adalah Jusuf Kalla. Menperindag sebelum Jusuf Kalla adalah Rahardi Ramelan di zaman Habibie. Menperindag sebelum Rahardi Ramelan adalah Bob Hasan, operator bisnis keluarga Cendana.
Barangkali Luhut yang saat itu jadi anak buah Gus Dur menyentuh "sesuatu" yang membuat keluarga Cendana dan kroninya (seperti Bob Hasan) sangat marah.
Selain Marzuki dan Luhut, kedua bom itu juga diharapkan memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf Kejaksaan Agung dan staf Kemenperindag dan menciptakan sebesar-besarnya teror dan kekacauan nasional.
Bom ketiga ditujukan untuk memutilasi dan membunuh acak sebanyak-banyaknya staf di kantor Direktorat Jenderal Pajak untuk semakin menebar teror di sektor-sektor kunci pemerintahan dan kestabilan ekonomi.
Tommy sendiri ternyata memiliki penyuplai bom yang menurut investigasi kepolisian diduga adalah suatu oknum pengkhianat negara di Kopassus. Secara semangat korsa, ini sangat menyedihkan mengingat Luhut sendiri adalah mantan komandan Kopassus. Tetapi memang, pada zaman Soeharto, Kopassus sempat dipimpin oleh orang yang sangat dekat dengan keluarga Cendana.
Enam bulan kemudian, pada Juli 2001, tragedi kembali terjadi. Hakim yang sedang mengusut Tommy Soeharto, Syafiuddin Kartasasmita, dibunuh dengan sangat brutal di tengah jalanan Jakarta menggunakan senapan mesin ketika sedang menuju tempat kerjanya.
Hakim Syafiuddin ini mati syahid dengan tubuh berlubang-lubang. Kematian mengerikannya sangat menghebohkan Indonesia.
Pembunuhan Hakim Syafiuddin yang luar biasa sangat sadis inilah yang ternyata berhasil digunakan penegak hukum untuk mengumpulkan cukup bukti tak terbantahkan untuk menangkap Tommy Soeharto.
Dalam suatu periode drama kehebohan nasional yang membuat rakyat menempel ke TV, Tommy si Penjahat Nomor Satu diburu oleh penegak hukum.
Tim sangat elite ini diberi nama Tim Kobra dan dikomandoi oleh perwira lapangan bereputasi cemerlang yang sedang naik daun saat itu, Tito Karnavian. Meski begitu, awalnya penyelidikan mengalami kebuntuan.
Menggunakan penyadapan sinyal telepon dan pengamatan intel, lokasi Tommy diisolasi ke sebuah rumah di Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.
Akhirnya Tommy berhasil digerebek, diseret keluar, dan ditangkap sebagai hewan buruan terbesar pemerintahan Gus Dur pada 28 November 2001, 4 bulan setelah Syafiuddin mati dibunuh.
Tommy dipenjara selama beberapa tahun dan hidup mewah di penjara dengan sofa, kulkas, TV, dapur, dan akses untuk bermain golf di Jakarta.
Tommy bebas dengan masa tahanan yang sangat dipotong remisi. Setelah bebas, ia langsung berusaha membeli Golkar pada tahun 2009 dengan pundi-pundi raksasa kekayaan keluarganya. Ia dikalahkan Aburizal Bakrie.
Gus Dur sendiri tidak sempat melihat Tommy ditangkap dari posisi menjabat sebagai presiden.
Gus Dur keburu digoncang dengan Operasi Semut Merah dan berbagai krisis politik.
Akhirnya, Gus Dur kalah dan digulingkan dari kursi kepresidenan pada pertengahan 2001.
---
Itulah bagaimana keluarga Cendana berhasil lolos dari jerat hukum.
Soeharto mati dengan pulas dan santai pada tahun 2008. Tubuhnya dikubur di suatu ancient temple mistis di atas bukit yang tersembunyi di tengah hutan lebat kaki Gunung Lawu yang angker, seperti seorang raja Jawa kuno. Ketika gw solo travelling ke situ dengan motor, templenya dijaga segerombolan penjaga.
Baru aja kemarin nonton putbal-nya @pandji sama Ust. @felixsiauw bahwa pengetahuan itu either a curse or a power.
Pandji bertanya: "Kenapa banyak lulusan madrasah yg perilakunya tidak mencerminkan spt lulusan madrasah?"
Ustd. Felix menjawab bahwa knowledge itu bisa jd curse (kutukan), bisa jd power (kekuatan).
Knowledge jadi curse ketika tidak memberikan manfaat utk kita/orang banyak, dan knowledge jadi power ketika bermanfaat utk kita/orang banyak.
Lalu beliau mencontohkan orang yg tahu tentang hukum sholat dan tahu bagaimana caranya utk sholat, tp kita tidak melakukan sholat. Maka pengetahuan orang tsb tentang sholat itu adalah curse bagi mereka.
Itulah kenapa dalam Islam kita diajarkan utk memohon ilmu yg bermanfaat.
@MadPandazx Di politik awalnya ya mbak dee kartika. Bikin jasmev 2012. Tapi masih banyak yg relawan. Pilpres 2014 tambah kenceng. Abis pilpres 2014 buzzer dipake buat counter kritik. Instansi jg pake. Jd ada rate card tuh. terus muncul homeless media yg jadi buzzer. Panjang kalo diceritain.
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
Banyak laki-laki tumbuh dewasa tanpa benar-benar mengenal dirinya. Mereka diberi makan, disekolahkan, bahkan diajari untuk mengejar kesuksesan—tapi jarang diajari bagaimana caranya merasa, apalagi cara menghadapi luka batin tanpa merasa kewalahan. Di dalam psikologi, itu disebut emotional neglect—pengabaian emosional yang gak terlihat, tapi meninggalkan bekas seumur hidup.
Gak semua luka berasal dari kekerasan. Banyak yang tumbuh dan dibesarkan oleh orang tua yang gak pernah nanya ke anaknya:
“Apa yang lagi kamu rasakan sekarang, nak?”
atau bilang
“Kalo kamu merasa sedih, gpp menangislah sayang”.
Secara budaya, anak laki-laki dipaksa untuk diam ketika sedih, harus tetap berani saat takut, dan bangkit secepat mungkin saat sedang terluka. Emosi dianggap ancaman, bukan bagian dari kemanusiaan. Akibatnya, banyak laki-laki yang cerdas secara kognitif, tapi terputus dari emosinya. Bisa bicara strategi, tapi bingung saat diajak bicara soal perasaan. Terlihat tenang, meski sebenarnya merasa sepi tapi malu untuk mengakuinya.
Itu bukan sepenuhnya kesalahan pribadi. Itu adalah pola yang diwariskan antar generasi: ayah yang gak pernah diajari mengenali dan mengurai emosi, ibu yang lebih memilih memendam emosi demi menjaga stabilitas rumah tangga sehingga gak pernah benar-benar belajar meregulasi emosinya dan pandangan masyarakat yang memuja keheningan sebagai tanda kekuatan.
Tapi luka yang gak dikenali gak akan bisa pulih. Luka yang gak pernah dibicarakan akan jadi pola yang menyabotase hubungan, kesehatan mental dan rasa aman di dalam diri sendiri. Luka pengasuhan gak akan sembuh dalam semalam. Tapi satu laki-laki yang berani membuka ruang untuk dirinya sendiri dan demi generasi yang nanti lahir dari tubuh dan pikirannya, itu sudah cukup untuk memutus siklus.
Berani jujur bukan tentang menjadi rentan tanpa kendali. Ini tentang memberi diri sendiri hak untuk hadir sebagai manusia, bukan hanya sebagai peran sosial yang dikonstruksi masyarakat. Menjadi laki-laki bukan tentang tidak pernah merasa. Justru, laki-laki tangguh adalah yang paling berani untuk jujur dan bersedia menyentuh kembali bagian dirinya yang paling lama ditinggalkan.
Jawabannya gini:
Era saat ini memandang bawah makna laki-laki direduksi menjadi komoditas swmata alias dilihat apa jabatannya, seberapa sukses dia, dua digitkah gajinya, dll. Maka keinginan "ditemani dari nol" ini sebuah perlawanan oleh laki-laki terhadap relasi transaksional.
Nih saya jawab, apakah PSI @psi_id bakal paham?
.
Analisis yuridis kelayakan Gibran Rakabuming Raka:
Pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres mendampingi Prabowo Subianto pada Pemilu 2024 memicu kontroversi karena usianya di bawah 40 tahun, sebagaimana diatur UU No. 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 90/PUU-XXI/2023 mengubah syarat usia, memungkinkan seseorang di bawah 40 tahun mencalonkan diri jika pernah/sedang menjabat posisi melalui pemilu, termasuk kepala daerah. Ini membuka jalan bagi Gibran, Wali Kota Surakarta, untuk mendaftar.
Namun, putusan ini menuai kritik. Banyak pihak menilai MK melampaui kewenangan sebagai negative legislator, bertindak sebagai positive legislator dengan menambah norma baru. Prosesnya juga bermasalah: Ketua MK saat itu, Anwar Usman, ipar Presiden Joko Widodo dan paman Gibran, terbukti melanggar etik berat oleh Majelis Kehormatan MK (MKMK) karena konflik kepentingan. Sanksi berupa pemberhentian dari jabatan Ketua MK diberikan, namun putusan tetap mengikat.
KPU menerima pendaftaran Gibran pada 25 Oktober 2023 berdasarkan Putusan MK 90, meski PKPU No. 19/2023 belum disesuaikan. DKPP menyatakan KPU melanggar etik karena tidak segera merevisi PKPU dan berkonsultasi dengan DPR serta Pemerintah, menjatuhkan sanksi peringatan keras kepada Ketua KPU dan peringatan kepada anggota.
Secara yuridis formal, Gibran memenuhi syarat pasca-Putusan MK 90. Namun, cacat etik dan prosedural dalam proses MK dan KPU menggerus legitimasi pencalonannya. Ini memunculkan paradoks: sah secara hukum, tetapi dipertanyakan secara etis. Kontroversi ini berdampak luas, merusak kepercayaan publik terhadap MK, KPU, dan demokrasi. Kasus ini berpotensi jadi preseden berbahaya, memperlemah supremasi hukum dan kualitas demokrasi elektoral. Reformasi kelembagaan dan penguatan etika diperlukan untuk mencegah krisis serupa, memastikan hukum tidak hanya formal, tetapi juga adil dan legitimate.
Entah ini AI atau bukan, tapi ada jalan ginian kalo mau ke arah Dieng, nama jalannya di maps adalah "Dalan Anyar Candiyasan"
Sebenernya nih jalan alternatif menuju Wonosobo kota dari arah Temanggung, tapi buat yang baru pertama kali ke Dieng & gamau lewat jalan ekstrim Parakan-Tambi, bisa dicoba lewat sini terutama yg dari arah J-Team
Enaknya lewat sini tuh lebarrrr, pemandangannya auwapik poll soalnya lewat Kebon Teh Bedakah di kaki Gunung Sindoro & trafficnya masih sepi
Kalo mau ingpo² traffic arah Dieng yg lebih aptudet sih bisa follow @FestivalDiengID tuh, adminnya sering share rute² yang aman kalo ke arah Dieng
Ketika ruang politik tidak lagi bicara gagasan:
Peta ideologi politik Indonesia sering disalahartikan seperti model Barat: kiri vs kanan, konservatif vs progresif. Padahal, spektrum politik itu terbentuk oleh sejarah; di Eropa, konflik antara proletariat dan borjuis (lihat historical materialism à la Hegel & Marx) kemudian melahirkan sosialisme.
Indonesia tak pernah mengalami revolusi industri. Maka, konflik kelas bukan pangkal politik kita. Seperti apa yang Tan Malaka katakan: konflik utama Indonesia adalah kolonialisme. Karena itu, yang lahir bukan sosialisme, tapi nasionalisme — dengan cita-cita negara kuat dan ekonomi mandiri, melawan liberalisme yang dianggap sebagai wajah penjajahan.
Sukarno bisa dilihat sebagai personifikasi nasionalisme: proteksionisme, sentralisasi, dan kesatuan sebagai harga mati. Hatta mewakili kutub liberal: demokrasi parlementer, desentralisasi, dan ekonomi terbuka. Hatta mendukung federalisme — bukan untuk memecah, tapi untuk memberi keadilan antar daerah.
Konflik antara Omnibus Law Cipta Kerja—yang mempermudah eksploitasi sumber daya seperti penambangan pasir Gunung Merapi—dengan regulasi lokal DIY yang melindungi kawasan berdasarkan nilai-nilai Sumbu Filosofis, adalah contoh klasik dari pertarungan ideologi dimana partai harusnya berdebat.
Hari ini perbincangan politik tidak mengindahkan gagasan namun personalitas. Partai jadi kendaraan elektoral semata. Akuntabilitas bergeser — bukan ke rakyat, tapi ke ketua partai.
Dalam konteks perdagangan internasional misalnya, seorang politisi bisa menganut proteksionisme di pagi hari, lalu memuji free trade di sore hari. Padahal, proteksionisme jargon nasionalisme. Free trade adalah karikatur dari liberalisme. Tanpa peta ideologi, yang tersisa hanyalah oportunisme.
Indonesia butuh kerangka yang lahir dari sejarahnya sendiri: liberal-nasionalisme. Agar politik punya arah, dan kekuasaan punya batas.
Further: https://t.co/C15W4nxejS