Bangga juga udah kenal mas @surjorimba sejak lama ๐คฃ
Tapi agak salah kalau menganggap referensi musik beliau mentok di 70-80an sih. You'd be surprised.
gua tuh nemu profile spotify yang menurut gua sangat otentik bapak-bapak yang referensinya gak anachronistic alias emang orang indonesia pada jaman 70-80an cuman bisa dapet akses tau-tauan lagu barat ya cuman lewat kaset evergreen
Amidst their renovation (read: converting around 25% of their store area into a cafe), Kinokuniya completely butchered their glorious magazine rack and just randomly place them on a table and some cashier area ๐คท๐ป
@kotakmakan Pengalaman sih, gue relakan aja haha. Kalo kondisinya masih mulus banget mungkin bisa ada yang mau beli 1/4 - 1/3 harga, kalau hyper targeting marketnya. Tapi kalau niatnya bersihin rak, ya gue anggap ilmu/hiburannya udah gue dapet, dan harga gue beli itu cost-nya. Bye bye.
same thing goes to rakyat jelata yang ga bisa antri, atau road rage, atau hal-hal inconsiderate lainnya.
tahun 2010an kita kira social media dan social shaming bisa bikin shift in behavior. how naive we were.
sejak jaman Twitter berdiri sampai dibajak dan dipretelin sama Elon, postingan gini selalu ada dan ga ada perubahan apapun di sisi kelakuan pejabat. so why bother?
Kelakuan pejabat2 di +62 udah lah menikmati fasilitas mobil mewah dari uang rakyat,masih juga minta diistimewakan di jalan seolah2 urusan dia paling penting dan urusan rakyat pengguna jalan lainnya nomer sekian
First time using the passport-less immigration gate in Changi. Feels like literally stepping into the future. Whether it's a scifi or a dystopian one, up to you to decide.