@GoodLifeBCA Setahu saya, Chat di WA yg resmi dan telah diverifikasi olh WA adalah yang ada centang hijaunya...jadi kalau ngaku-ngaku dari.suatu perusahaan tanpa ada centang hijau, sudah pasti akun palsu.
@satpasmetrojaya Mohon diumumkan juga biaya resmi pengurusan perpanjangan SIM dengan rinciannya, agar lebih transparan, karena selama ini biaya yang di publikasikan di media kok lebih murah dari kenyataannya....terima kasih
@satpasmetrojaya Saya temani putra saya untuk perpanjang SIM nya yang akan habis berlakunya pas Hari Lebaran nanti, saya tanyakan biayanya waw ....Rp.270 ribuan. Berapa sebenarnya biaya resmi perpanjangan SIM? kok beda jauh dengan biaya yang di resmi publikasikan?
@korlantas Saya temani putra saya untuk perpanjang SIM nya yang akan habis berlakunya pas Hari Lebaran nanti, saya tanyakan biayanya waw ....Rp.270 ribuan... Berapa sebenarnya biaya resmi perpanjangan SIM? kok beda jauh dengan biaya yang di resmi publikasikan
PSI memilih dukung Prabowo-Gibran — sesuai dgn gelagatnya akhir2 ini.
Saya anggota PSI, ikut menyeleksi calon2 legislatornya, ikut kampanye. Tapi saya tak bisa menyetujui keputusan ini. Saya kecewa dan sedih.
Partai ini saya kira akan berani mengoreksi gaya politik lama yg transaksional (“saya dapat posisi apa jika saya dukung”). Tapi ternyata tidak.
Keputusannya dukung Prabowo-Gibran karena berharap dapat kursi di Parlemen.
Juga semangatnya menerima Kaesang dan menjadikannya Ketua Umum dengan seketika.
PSI kini jadi bagian komplotan nepotisme dan oligarki — tak lagi bertanya: buat apa membentuk partai sebenarnya?
POLEMIK PUTUSAN MK YANG BERKEPANJANGAN
Menyimak polemik pro dan kontra terhadap putusan MK No 90/PUU-XXI/2023 beserta implikasinya terhadap Pilpres 2024, saya memandang perlu menyarankan kepada Pemerintah untuk segera mengambil langkah kongkret untuk mengakhiri polemik tersebut.
Penyelenggaraan Pilpres memerlukan adanya keadilan dan kepastian hukum. Jangan polemik dibiarkan berlarut-larut yang dapat membawa implikasi pada legitimasi Pilpres dan hasilnya nanti.
Saya sendiri sedang memikirkan penyelesaian seperti apa yang paling bijak untuk mengakhiri polemik tersebut agar tidak berkepanjangan.
Pilpres harus dilaksanakan tepat waktu sesuai jadwal KPU, agar agenda ketatanegaraan dan pergantian kekuasaan pemerintahan sesuai UUD 45 dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Semoga menjadi perhatian Pemerintah...
𝗠𝘂𝘀𝗶𝗸 𝗗𝗮𝗻𝘀𝗮 𝗜𝘁𝘂 𝗦𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘁𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗜𝗯𝘂 𝗠𝗲𝗴𝗮
Masih ingat tamsil Ibu Megawati soal manuver elit-elit politik yang disebut dengan "dansa-dansa politik".
Selama PDI Perjuangan belum mengumumkan Cawapresnya Mas Ganjar dan belum mendaftarkan ke KPU, kita disuguhi dansa-dansa politik elit.
Ada yg bicara kemana-mana Mas Ganjar mau dijadikan Cawapresnya Prabowo, sampe Ibu Mega bilang "Saya sebagai Ketua Umum saja bingung, iku sing ngomong sopo"
Ada juga yg menawarkan Prabowo sebagai Cawapres Ganjar, atau tawaran ini itu.
Sampai dansa-dansa politik itu kebablasan, berdansa-dansa di ruang MK, otak-atik aturan melalui MK.
Mereka pada sibuk berdansa dgn iringan musik. Sudah terlihat seperti sakau tak peduli lagi aturan.
Tiba-tiba Ibu Mega mengumumkan Prof Mahfud Md sebagai Cawapres Mas Ganjar.
Esok harinya, langsung daftar ke KPU. Sat-set. Cepat. Selesai.
Yg selama ini sibuk berdansa tiba-tiba melongo. Tamat.
Musik dansanya sudah dimatikan Ibu Mega.
Atau pengendali musiknya & panggungnya sudah diambil-alih Ibu Mega.
Dengan "tiket emas" PDI Perjuangan, Ibu Mega bisa saja memilih pendamping Mas Ganjar yg punya MODAL KAPITAL yg berlimpah, atau calon yg bisa menyenangkan "every bohir" krn Prof Mahfud ini bikin spot jantung "every bohir" bisa copot, atau mengambil kader partai lain agar koalisi orang lain bisa bubar dan terganggu.
Tapi pilihan Ibu Mega, lagi-lagi pilihan yg sangat tepat, sejak memilih Mas Ganjar kemudian Prof Mahfud Md yg bisa diuji soal integritas, rekam jejak, dan pengalaman.
Ganjar Mahfud lagi-lagi pilihan dari kejeniusan & integritas Ibu Mega, pilihan pasangan untuk rakyat Indonesia, bukan untuk menyenangkan "every bohir", bukan unt mengganggu koalisi lain, atau cawe-cawe ke parpol-parpol lain, bukan untuk dapat setoran (malah kata Prof Mahfud Md tidak setor sepeser pun unt jadi Cawapres Mas Ganjar).
Sekali lagi, dan lagi, dan lagi, Terima kasih Ibu Megawati Soekarnoputri 🙏
Mohamad Guntur Romli
#GanjarMahfud #Ganjar #Mahfud #Megawati #MegawatiSoekarnoputri #PDIPerjuangan
Sejarah mencatat tahun politik 2024 adalah tahun politik kotor dan tidak beretika, tidak perlu lagi kehormatan Parpol dengan bercermin AD/ART.
Semua dilakukan demi kekuasaan oligarki semata, lawan !!!
Golkar Resmi Dukung Gibran Jadi Cawapres Prabowo https://t.co/P5FhUHwuqE
Begitulah kalo LAGI BUTUH
Puja sana, puji sini. Sodor sana, sodor sini. TAK BERPENDIRIAN, tak punya HARGA DIRI
Dulu hari-hari sibuk MENGKRITIK dan adu GENGSI, sekarang tiba2 datang TERGOPOH2 setelah sang anak DICAMPAKKAN oleh ABAS dan Surya Paloh
Saya tetap Apresiasi pak SBY, apresiasi atas usahanya menyodorkan sang anak agar mau dipinang walau ga punya nilai jual
MISKIN pengalaman, MISKIN IDE apalagi soal Inovasi, jangan ditanyakan
SBY adl BAPAK yang BAIK, baik karena hari2 tuanya sekalipun tetap BERJUANG demi sang anak kesayangan
Dinas Militer tak mungkin lagi bisa dipakai lagi, kecuali hari2 tertentu saja sebagai undangan
Saking baiknya, nama Anak sudah TENGGELAM malah makin diikat dengan BATU. Apa2, mesti SBY yang berurusan, padahal sang anak adl KETUA UMUM
Sudah usia matang, tapi masih dijadikan sebagai BONEKA, hilang dalam gelapnya BAYANG2 bapak yang terlalu GEMUK
Entah jadi apa Demokrat tanpa SBY nanti, entah kemana arah partai ini...atau jangan2 sesuai lambangnya...arahnya bisa keatas...kekanan atau kekiri hehehe
Semangat Pepo
Semua orang itu tidak lah sempurna begitu pula seorang @ganjarpranowo
Blio hanya manusia biasa yang tidak luput dari kekurangnya, namuunn saya tetap memilihnya sebagai pemimpin Indonesia kedepannya .
Kenapa ?? Karena dari rekam jejak 3 Capres yang ada saat ini Ganjar Lebih Baik dari yang lain .
Ingat rekam jejak itu sangat penting!jangan mau dibodohi bunglon yang rela berubah menjdi apa saja demi menginginkan kekuasaan !
Dulu jadi Idola publik saat jadi Jubir KPK, terutama saat melawan serangan Fahri Hamzah cs
Habis dari KPK malah jadi pengacara PEMBUNUH berdarah dingin Ferdy Sambo, malah keterusan jadi pengacara TERSANGKA KORUPSI Syahrul Yasin Limpo
Lucunya, dulu jadi punggawa KPK melawan KORUPTOR, sekarang malah dipanggil oleh KPK karena membela KORUPTOR
Sungguh teramat luar biasa fenomena ini, dulu bicara Integritas sekarang jadi MISKIN kredibilitas
Efek Muhaimin bagi Anies
SMRC mengukur efek Muhaimin pada elektabilitas Anies di Jatim ~sebagai basis NU dan PKB~ lewat dua survei.
Pertama, survei nasional tatap muka 2-11 September 2023:
Di Jatim, Tanpa Pasangan:
Anies 14,2%
Ganjar 44%
Prabowo 23%
tidak menjawab 18,8%
Berpasangan,
Anies-Muhaimin 12%
Ganjar-RK 46%
Prabowo-Erick 23%
tidak jawab 19%
Kedua, Survei Telpon 20-22 September 2023:
Anies–Muhaimin 12%
Ganjar-Mahfud MD 45% Prabowo-Erick Thohir 28%
tidak jawab 14%
Jadi, tiga pekan setelah deklarasi, di basis sendiri, Muhaimin dan PKB belum memberi efek elektoral bagi Anies.
Data dan analisa lebih lengkap sudah tayang di SMRC TV.
Linknya di sini:
https://t.co/cKWmmDR0y3
Surat dari Manila untuk Budiman Sudjatmiko: Kucatat “Khianatmu” dalam Suara Menolak Lupa!
Oleh Tuan Kopong MSF, Dari Manila, Philipina
Salam jumpa, Budiman Sudjatmiko. Semoga selalu sehat. Salam dari Manila, Philipina. Mesti tinggal di negeri orang, saya selalu punya perhatian untuk negeri tercinta. Dan karena alasan cinta itulah saya menuliskan surat ini untukmu.
Ketika engkau mengunjungi Prabowo dan memuja-muji dirinya hingga engkau lupa akan peristiwa kudatuli 1996 yang membuat dirimu dan kawan-kawan menyembunyikan diri, dan beberapa orang yang karena nurani kemanusiaan menyelamatkanmu ikut ditangkap dan disidang, saya akhirnya menyetujui kata-kata salah satu pejuang kemanusiaan yang tertembak dan meninggal dunia dalam tragedi Semanggi I (1998), yakni Bernardus Realino Norma Irawan (Wawan).
Kata-kata Wawan, “Perjuangan belum selesai sudah banyak yang meninggalkan perjuangan karena mereka tidak tahan lapar dan haus. Yang dulu menjadi simbol perlawanan dan kemanusiaan terhadap Prabowo kini menjadi simbol kekuasaan bersama Prabowo.”
Ketika engkau dengan lantang menyuarakan dukungan bagi Prabowo dan dengan percaya diri menjadi garda terdepan untuk kemenangan Prabowo pada pilpres 2024 nantinya, saya berani mengatakan padamu untuk “menolak lupa pada sosok yang pernah menyelamatkan dirimu bersama teman-temanmu”.
Saat itu engkau dicari dengan ancaman tembak mati di tempat. Romo Sandyawan (waktu itu-1996) dan kakanya Pak Beny Sumardi yang karena nilai kemanusiaan menjadi pelindung bagimu dan rekan-rekanmu, ikut ditangkap dan disidang dengan tuduhan membantu gerakan Partai Rakyat Demokratik (PRD).
Sudah lupakah engkau pada mereka yang telah menjadi garda terdepan untuk menyelamatkanmu saat itu, termasuk seorang tokoh bangsa Gus Dur? Sudah matikah nurani kemanusiaanmu karena rasa lapar dan haus akan kekuasaan yang sudah tidak bisa lagi engkau tahan dan bendung sehingga engkau dengan mudahnya mengkhianati doa dan dukungan dari orang-orang yang tulus mendoakanmu agar tidak mendapatkan hukuman mati
Menjadi lawan politik Prabowo bukan berarti harus memusuhinya. Selama Prabowo masih diam dan bungkam terhadap hilangnya nyawa para mahasiswa dan aktivis kemanusiaan saat itu, dan bahkan selama Widji Tukul dan kawan-kawannya yang hingga detik ini belum kembali ke rumah dan keluarga mereka, dan Prabowo tidak mau menjelaskan keberadaan mereka, selama itu juga Prabowo masih menjadi simbol rezim Orde Baru.
Dia harus dimintai pertanggungjawaban tanpa harus memusuhi. Bersamaan dengan itu, harus tetap ada semangat untuk tetap menjaga kemurnian perjuangan teman-teman yang tulus demi kembalinya demokrasi Indonesia yang bebas dari segala tekanan dan tindakan represif kekuasaan.
Segala argumentasi pembelaanmu telah menjadi sebuah catatan pengkhianatanmu bagi para korban Semanggi I dan II, termasuk bagi Widji Tukul dan kawan-kawannya yang hingga hari ini tak satupun mengetahui keberadaan mereka. Itu juga menjadi catatan bagi khianatmu pada Pak Sandyawan, Pak Beny Sumardi, Gus Dur dan doa tulus dari orang-orang yang tidak peduli apa agamamu, mendoakan dan mendukung engkau bersama kawan-kawanmu.
Melihatmu yang kini tak lagi kuat menahan haus dan lapar pada kekuasaan, ini menjadi catatan “khianatmu” dalam satu suara sunyi untukmu: Kami Menolak Lupa!!
Kerja NYATA, MASTERPIECE tukang ANDONG yg kini jadi perhatian DUNIA
Proses konstruksi dasar IKN tahap 1 sudah mencapai 38,1% sesuai dengan scedule
Banyak yang MENGHALANGI pembangunan IKN agar nama Jokowi BURUK dalam buku sejarah
Tapi, Tuhan selalu MERESTUI niat ORANG BAIK
Di Desa-Desa Ada Gambar Pak Lurah Yg Dijual Prabowo
Oleh : Randaru Sadhana
Teman saya di Jakarta membagikan sebuah cerita, tentang baliho-baliho yang sudah tertancap dan memenuhi ruang publik di ibukota. Saya tanya saja, baliho apa. Kalau iklan seperti di TV kan banyak, dan pastinya sudah menjadi hal yang wajar.
Belum juga pertanyaannya selesai saya ucapkan, dia sudah menyahut kalau gambar yang tercatut pada baliho adalah Capres Gerindra, Prabowo Subianto. Ya kalau sendiri sih tidak masalah, lha kalau yang dipasang fotonya dengan Presiden Joko Widodo?
Apa sih yang mau diperlihatkan selain kebersamaannya dengan sang presiden? Saya jadi makin kepo, itu mau ngumbar kebersamaan? Atau malah persaudaraan yang erat melekat, jadi satu hati gitu?
Bukan lagi kaget tapi sudah memasuki taraf heran, kenapa capres Gerindra ini menggunakan cara lama untuk menunjukkan keeksistensiaennya? Ingat dong saat melawan Jokowi di pilpres 2014 dan 2019, nama siapa yang melatarbelakangi potretnya?
Yes, sang mertua, presiden kedua RI, Soeharto.
Di setiap kunjungannya dalam rangka kampanye dan pertemuan di ruang publik, poster yang memperlihatkan Soeharto terpampang dengan terang. Mungkin foto itulah yang dipercaya menjadi jimat keberuntungannya.
Tapi sekarang sudah tidak lagi. Setelah dua kali pencapresan terbukti foto Soeharto tidak laku, tokohnya kali ini yang diubah. Bukan lagi mantan mertuanya, melainkan mantan lawannya yang kini menjadi seorang teman.
Siapa lagi kalau bukan Jokowi. Awalnya saya percaya dengan penuturan para tokoh-tokoh yang berada di barisan Prabowo Subianto. Mereka menumpahkan kalimat yang begitu cantik, seperti Prabowo itu seorang patriotisme.
Banyak pula pendapat tentang dirinya yang negarawan, berjiwa pancasilais, dan nilai positif lainnya. Jatuhnya bukan lagi pada sebuah penilaian, tapi lebih ke pujian. Digelontorkan dengan bergelimang pujian membuatku makin bergedik ngeri. Karena kali ini ada makna nyata dari “ekspektasi tak seindah realita”.
Bisa saja pujian itu berasal dari lisan, tanpa ada tindakan langsung. Bagimana bisa seseorang disebut negarawan, kalau kisah masa lalunya saja mangukir pahatan luka di daftar pelanggaran HAM berat?
Bagaimana bisa orang yang lebih memilih lari ke luar negeri katimbang menghadapi masalah di negaranya sendiri, justru mendapat julukan seorang patriot? Dimana letak jiwa kepahlawanannya? Biarlah pertanyaan itu dijawab langsung oleh rakyat, yang melihat tindak-tanduk calon pemimpinnya.
Saya hanya sangat menyayangkan, karena Prabowo harus merogoh kocek yang besar demi mengumbar kedekatannya dengan Jokowi. Padahal dari banyak sudut pandang mengatakan kedekatan keduanya itu wajar, karena menggambarkan hubungan antara presiden dan menteri dalam kabinetnya.
Akan lebih baik, jika sang menhan ini memperlihatkan kelihaiannya dalam bekerja. Karena kinerja dan prestasi yang nyata keberadaannya, menjadi bukti akurat rekam jejak untuk bahan pertimbangan para pemilih.
Gibran Jatuhkan Bom Untuk Kawan Baru Prabowo
Kamu tahu latar belakang tim mawar? Identik dengan zaman orde baru, salah satu tim yang ditugasi untuk melancarkan aksi menjaga stabilitas negara. Sekilas memang seperti tugas mulia yang gunanya mengabdi untuk bangsa dan negara.
Tapi semua yang dilakukan dengan embel-embel demi bangsa dan negara, hanya sebuah dalih untuk membungkam suara rakyat. Tujuannya agar tukang kritik mandeg dari aksinya yang dapat membahayakan posisi pemerintah.
Tim mawar inilah dalang dibalik pelanggaran HAM berat di bumi pertiwi, salah satunya penculikan aktifis di bulan Mei 1998. Korbannya ada yang balik dengan kondisi baik-baik, tapi ada juga yang tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Jejaknya pun dimusnahkan.
Cerita beberapa saksi, jasad mereka yang mati terbunuh hanya dilempar ke sungai-sungai besar. Mengungkit cerita mencekamnya sikon kala itu, memang seperti menabur garam di luka yang belum kering. Karena sampai sekarang keluarga korban masih mencari keadilan bagi anak, kakak, adek, ayah, dan saudara mereka.
Anehnya salah satu aktifis yang dulu mendukung agar ketua tim mawar diadili, sekarang berbalik arah. Dia salah satu kader PDIP yang bernama Budiman Sujadmiko. Beberapa temannya sudah coba mengingatkan bagaimana konfrontasi mereka kala itu, yang menyuarakan kekejaman dan mencari keadilan bagi teman seperjuangannya.
Sebuah utas 👇👇👇