BISA NGGAK GELAR PREMIER LEAGUE MAN CITY DICABUT?
Jawabannya: secara teori, bisa. Tapi ada hal yang perlu dipahami.
Dalam Rule W51 Premier League, pencabutan gelar memang nggak disebut secara eksplisit sebagai bentuk hukuman. Namun, ada satu klausul yang memberikan komisi kewenangan untuk menjatuhkan hukuman lain yang dianggap sesuai.
Artinya, opsi pencabutan gelar nggak bisa sepenuhnya dikesampingkan.
Selain itu, sanksi yang tersedia juga mencakup denda, pengurangan poin, skorsing, hingga pengusiran dari Premier League. Komisi bahkan bisa memerintahkan City membayar kompensasi kepada klub rival dalam jumlah yang nggak dibatasi.
Tapi perlu digarisbawahi, kemungkinan hukuman bukan berarti hukuman tersebut pasti dijatuhkan. Bentuk sanksi yang akan diterima City tetap bergantung pada keputusan komisi.
Dan kalau City nggak puas dengan hasilnya, mereka masih punya hak untuk mengajukan banding.
Jadi, apakah gelar-gelar Premier League City benar-benar bisa dicabut? Secara teori, iya. Tapi untuk saat ini, itu masih sebatas kemungkinan, bukan keputusan resmi.
📰: @TeleFootball
“What we did, they cannot take it out of us. It's something that is not paid by money. It's paid with effort"
Mate. Lo bisa ada di lapangan juga berkat "duit" itu. Biaya transfer lo, gaji lo, semuanya dibayar pake "duit".
Jelas kok, semua hasil yg mereka dapetin itu memang hasil "effort" dari para pemain, no doubt.
Tapi yang juga jelas adalah klub butuh "DUIT" buat ngebangun skuad yang ngelakuin semua "effort" itu.
You know what,
Bukan hanya Manchester United, sepertinya ini juga berlaku pada klub lain yang juga masuk kedalam "what if" apabila Man City dicopot gelar Premier League nya yang pada kasus ini berarti Liverpool, juga Arsenal apabila sanksi beratnya tidak hanya berdasarkan dakwaan fokus penyelidikan periode 2009-2018.
Kita itu bukan semerta-merta "ngarep" dapat trophy itu, tidak, tapi dengan vokal dan menganggap trophy itu akan jadi milik kita meskipun belum ada keputusan apapun, yang lebih BOLD adalah:
Kalau apapun nanti yang terjadi, andaikan trophy tetap terhitung milik Manchester City, sampai kapanpun nantinya publik tidak akan menganggap secara utuh bahwa mereka layak mendapatkan itu.
Dan menurutku justru itu yang lebih fundamental ketimbang hanya sekedar status.
Intinya, Manchester City dinyatakan bersalah dan berarti mereka melakukan pelanggaran dalam jangka waktu yang lama.
Sesimpel itu 👋
Hi @grok , analisis tweet saya, profil, dan balas dengan list berikut:
Gender :
Seksualitas :
Usia :
Usia Mental :
Hobi :
Gangguan Kepribadian :
IQ :
Adjektiva Kualifikasi untuk Mendeskripsikan Saya :
5 Hal Favorit :
5 Hal yang Tidak Saya Sukai :
🔱 KALAU gelar-gelar domestik city sampai dilucuti gara-gara kasus 115 pasal itu, ini dia daftar klub yang mendadak ketiban durian runtuh dapat jatah piala hiburan:
4 - Manchester United (3 Premier League, 1 Piala FA)
4 - Liverpool (3 Premier League, 1 Carabao Cup)
4 - Arsenal (2 Premier League, 2 Carabao Cup)
2 - Chelsea (1 Piala FA, 1 Carabao Cup)
1 - Watford (1 Piala FA)
1 - Tottenham (1 Carabao Cup)
1 - Sunderland (1 Carabao Cup)
1 - Aston Villa (1 Carabao Cup)
#MUFC🔰
JANGAN SAMAKAN KASUS MAN CITY DULU DAN SEKARANG
Jangan samakan pemberitaan kasus Manchester City sekarang dengan beberapa tahun lalu. Kasusnya memang sama, yaitu perkara 115 charges Premier League, tetapi status prosesnya sudah berbeda.
Pada Februari 2023, Manchester City masih berada pada tahap didakwa/dituduh setelah Premier League merujuk dugaan pelanggaran ke komisi independen.
Premier League sendiri saat itu menyebut dugaan pelanggaran tersebut berkaitan dengan periode 2009/10 hingga 2017/18, termasuk kewajiban memberikan informasi keuangan yang akurat.
Setelah itu, proses masuk ke tahap persidangan dan hearing komisi independen berlangsung pada 2024 sebelum akhirnya proses tersebut ditutup pada Desember 2024.
Sekarang situasinya sudah berbeda.
Pada 25 September 2026, David Ornstein dari The Athletic melaporkan bahwa Manchester City dinyatakan bersalah atas hampir seluruh charges tersebut, dengan laporan spesifik menyebut 114 dari 115 tuduhan.
Reuters kemudian melaporkan hal yang sama: City dilaporkan bersalah atas 114 dari 115 dugaan pelanggaran dan diperkirakan akan mengajukan banding.
BBC Sport juga melaporkan bahwa sumber mereka menyebut City bersalah atas mayoritas dari 115 dugaan pelanggaran tersebut.
Sky Sports melaporkan bahwa tribunal independen telah mencapai keputusan dan prosesnya kini bergerak menuju tahap banding.
Financial Times juga melaporkan bahwa panel independen menemukan City bersalah atas 114 dari 115 charges setelah investigasi yang berlangsung bertahun-tahun.
Jadi, narasi “Manchester City masih didakwa 115 charges” sebenarnya sudah tidak menggambarkan perkembangan terbaru kasus tersebut. Sekarang sudah ada laporan mengenai hasil keputusan tribunal, meskipun proses hukumnya belum selesai.
Tapi jangan juga dibalik menjadi “kasus City sudah selesai dan hukumannya sudah keluar.” Itu juga belum tepat.
Premier League belum mengonfirmasi detail putusan tersebut secara resmi karena prosesnya bersifat privat dan rahasia, sementara Manchester City menyatakan bahwa proses Premier League masih berlangsung dan masih ada bagian penting yang harus diselesaikan.
Sanksinya juga belum diputuskan dan City diperkirakan akan mengajukan banding terhadap keputusan tersebut.
Jadi kalau mau membahas kasus ini secara akurat:
2023 — City didakwa atas 115 charges.
2024 — Hearing komisi independen berlangsung dan kemudian selesai.
September 2026 — Media besar melaporkan tribunal telah mengambil keputusan dan City dinyatakan bersalah atas mayoritas, dengan laporan The Athletic menyebut 114 dari 115 charges.
Sekarang — Proses belum final: sanksi belum ditentukan dan banding diperkirakan akan dilakukan.
Jadi poinnya sederhana: jangan pakai status berita 2023 untuk menjelaskan situasi 2026. Kasusnya sama, tetapi tahap prosesnya sudah jauh berbeda.
MENURUT KALIAN MEREKA BAKAL TURUM KASTA DAN KEHILANGAN GELAR EPL MEREKA NGGAK?
GUA SIH RAGU YA, DUIT MINYAK NIH BOS🤣🤣
Klub-klub Premier League, termasuk Manchester United, kabarnya sedang MEMPERTIMBANGKAN LANGKAH HUKUM setelah Manchester City dinyatakan bersalah atas hampir seluruh tuduhan terkait pelanggaran regulasi finansial.
Nah, United sendiri udah melakukan assessment internal buat menghitung seberapa besar kerugian ekonomi yang mereka alami dan yang mungkin bisa dikaitkan sama pelanggaran City.
Terus contoh aplikasi nyatanya kayak gimana?
Gampangnya, kita bisa lihat kasus Everton vs Burnley.
Musim 2021/22, Everton itu melanggar aturan PSR Premier League. Tapi karena waktu itu mereka belum "ketahuan", akhirnya mereka masih bisa lolos dari hukuman pengurangan poin.
Efek dominonya? Everton selamat dari degradasi, sedangkan Burnley yang malah terdegradasi.
Si Burnley nggak terima dong, dan akhirnya nuntut si Everton. Singkat cerita, Everton dinyatakan bersalah dan wajib bayar ganti rugi £35,1 juta ke Burnley.
Nah, kalau dalam kasus United gimana?
Beberapa contoh yang bisa dihitung:
• United dibawah SAF finish sebagai runner-up di musim 2011/12.
• United dibawah Mourinho finish sebagai runner-up di musim 2017/18.
• United dibawah Ole finish sebagai runner-up di musim 2020/21.
• United finish di posisi ke-5 pada musim 2015/16, satu posisi dibawah City, dan akhirnya City yang lolos ke Champions League.
Nah, beberapa contoh diatas inilah yang lagi dihitung sama United, berapa potensi keuntungan finansial mereka yang hilang akibat "kecurangan" dari City.
[@AdamCrafton_, @TheAthleticFC]
🚨 EKSKLUSIF: Manchester City dinyatakan bersalah atas hampir semua tuduhan terkait pelanggaran regulasi keuangan Premier League. #MCFC diperkirakan akan mengajukan banding terhadap putusan yang dikeluarkan oleh komisi independen. Sanksi belum ditentukan, proses masih berlangsung
tetangga kena strike ini🤔🤔
Throwback statement Jose Mourinho setelah musim 2017/18:
🗣️: "Jika saya katakan, misalnya, bahwa saya menganggap finis di posisi kedua Premier League bersama Man United sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam karier saya, Anda pasti akan berkata, 'orang ini gila,"
'Dia sudah memenangkan 25 gelar, tapi malah menyebut posisi kedua sebagai salah satu prestasi terbaiknya?'"
"Saya terus mengatakan hal ini karena orang-orang tidak tahu apa yang terjadi di balik layar."
"Dan terkadang kami menganalisis berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda." #MUFC
MAKIN 'HITS DIFFERENT' WOII 😬
🔱 TRISULA WAVE
Manajemen Manchester United ternyata sudah menghitung berapa kerugian klub mereka gara-gara kelakuan city yang menabrak aturan keuangan EPL.
Info ini di dapat dari sumber internal yang bisik-bisik anonim karena memang tidak boleh berbicara ke publik.
Memang rada lain emang manajemen kampang yang satu ini. Giliran ada celah bisa nuntut atau ngeklaim ganti rugi cuan, kalkulatornya langsung keluar paling cepat.
😌
[Sumber: @AdamCrafton_, @TheAthleticFC]
Kasus finansial Manchester City sebenarnya melibatkan dua badan sepak bola yang berbeda: UEFA dan Premier League. Keduanya punya investigasi, tuduhan, dan proses hukum masing-masing.
UEFA lebih dulu mengambil tindakan terhadap Manchester City pada 2019. Hasilnya, City sempat dijatuhi larangan tampil di Liga Champions selama dua tahun. Tapi, mereka berhasil membatalkan hukuman tersebut setelah mengajukan banding ke Court of Arbitration for Sport (CAS).
Premier League kemudian menyusul dengan kasusnya sendiri. Pada Februari 2023, City dirujuk ke komisi independen atas 115 dugaan pelanggaran aturan finansial dalam periode 2009–2018.
Awal mula kasus ini berasal dari laporan Der Spiegel pada 2018, yang menggunakan dokumen dari Football Leaks. City dituduh memanipulasi nilai sejumlah kesepakatan komersial, termasuk dugaan suntikan pendapatan dari perusahaan-perusahaan Abu Dhabi, demi memenuhi aturan Financial Fair Play (FFP).
Ada juga dugaan pembayaran kepada mantan manajer Roberto Mancini melalui klub Al Jazira, yang dimiliki Sheikh Mansour.
City membantah tuduhan tersebut dan sampai sekarang tetap mempertahankan posisi mereka.
Kasus ini juga berbeda dari kasus Everton, Nottingham Forest, maupun Chelsea. Bukan berarti klub-klub tersebut nggak pernah melanggar aturan finansial, tetapi skala dan kompleksitas kasus City jauh lebih besar.
Dengan proses investigasi dan persidangan yang memakan waktu bertahun-tahun, kasus ini menjadi salah satu perkara finansial paling kompleks dalam sejarah Premier League.
Jika putusan akhirnya merugikan City, sanksi yang mungkin dijatuhkan bisa berupa pengurangan poin, degradasi, denda, hingga pembatasan belanja. City juga diperkirakan akan mengajukan banding, yang bisa membuat prosesnya semakin panjang.
📰: @TheAthleticFC