Kebetulan sekarang kami jadi satu industri. Aku dan Ginka.
Ku jelaskan secara awam tugas KOMISARIS di industri ini.
Garis besarnya;
Dia mengawasi direksi,
membaca risiko,
mengkritisi proyek,
menjaga governance,
dan memastikan perusahaan tidak dibajak kepentingan non-teknis.
Nah kalau orang yang dipilih berdasarkan loyalitas doang bukan kompetensi. Udah jelas arahnya. Supaya tugas diatas GA ADA YANG REM. Direksi bisa jalan tanpa koreksi tajam, proyek bisa lolos tanpa pertanyaan keras, procurement bisa minim kontrol, dan keputusan strategis bisa lebih mudah ditarik ke kepentingan politik.
Jabatan dia murni stempel doang, untuk kepentingan orang-orang di atas.
Dan orang-orangnya kayak Ginka ini menjamur di BUMN kita.
Soooo....Good luck WNI 😂😂😂
Cara membedakan aksi demo bayaran atau murni gerakan rakyat di Indonesia itu gampang banget.
Kalau demonya dijaga aparat, bahkan dibiarkan bebas berarti berpotensi demo settingan penguasa.
Kalau demonya dihalangi mati-matian sama aparat, bahkan disuruh bubar, itulah demo yang sesungguhnya demi kepentingan rakyat.
Buat lo para buzzer atau pendukung 02 yang narasinya gini:
“Giliran rupiah menguat pada diem bae, gak diapresiasi kerja pemerintah”.
Oke, anggap lah itu kerja pemerintah sehingga buat rupiah menguat dari 18.200 ke 17.700, berarti rupiah dari 15.500 ke 18.200 sejak pelantikan presiden, itu artinya pemerintah gak kerja kah?
Mungkin kalau digambarin gini kali ya.
cc:threadzulfahmizf
artikel ini worth banget buat yang lagi build agent atau pake Claude buat coding.
singkatnya: Karpathy complain soal cara Claude nulis code. ada yang baca complain-nya, packaging jadi 4 rule di satu file CLAUDE.md, upload ke GitHub. 5.828 stars di hari pertama. 120.000 stars sekarang.
4 rule originalnya solid. tapi orang yang nulis artikel ini ngetes di 30 codebase selama 6 minggu dan nambah 8 rule lagi buat nutup gap yang ga dicover rule original, khususnya buat multi-step agent, token budget, dan silent failure.
yang paling relate buat gua pribadi: rule soal "fail loud". berapa kali Claude bilang "migration completed" atau "tests pass" padahal ada yang kelewat diam-diam. ini yang paling sering bikin debug lama karena keliatan sukses padahal engga.
sama rule token budget. tanpa ini agent lu bisa jalan 90 menit di loop yang sama tanpa nyadar dia udah nyaranin hal yang sama yang udah lu reject sejam lalu.
kalau lu build apapun di atas Claude, paste 12 rule ini ke CLAUDE.md lu malam ini.
This is not a good sign for the economy, nor for children’s health, btw.
Foto rak susu formula yg full anti-theft lock gini sbenernya "dystopian" kl dipikir2🥲
Ini bkn gadget, bkn whiskey premium.
Merely cuma susu bayi.
Kl produk kebutuhan dasar bayi dipasang pengaman berarti ada kombinasi:
>harga susu yang dirasa makin mahal,
>tekanan ekonomi rumah tangga, dan
>tingkat kriminalitas pencurian yg dianggap signifikan di sisi retailer
Punya bayi buat sebagian orang jadi terasa kayak expensive subscription service yang makin ga terjangkau.
Di sisi lain, dominasi susu formula sebesar ini juga nunjukin kalo:
>ga ada jaminan kesejahteraan buat ibu pasca melahirkan, sehingga ibu harus cepet2 balik kerja
>support breastfeeding jadi minim
>waktu keluarga makin sempit, dan
>industri formula makin agresif.
Akhirnya ASI yg gratis dan ideal scara kesehatan makin sulit dipertahankan scara sosial-ekonomi.
Bukan Negara Islam = Zakat diurus negara
Negara tropis = buah mahal dan impor
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = minyak goreng mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = keadilan tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal dan impor
Bebas aktif = tunduk kepentingan asing
Negara religius = kitab suci dan haji dikorupsi
Negara agraris = keranjingan pangan impor
Lapor polisi = rugi berkali lipat
Pendidikan gratis = uang gedung mencekik
Jaminan kesehatan = kamar penuh, obat beli sendiri
Banyak pakar ekonomi = utang negara meroket
Raja nikel = pekerja lokal gigit jari, PAD nyungsep
Gaji pejabat kecil = hartanya banyak
Anti-KKN = anak dan menantu diusung Pilkada
Rakyat disuruh hemat = pejabat ganti mobil dinas
Taat bayar pajak = jalanan tetap berlubang
Penjara penuh = koruptor dapat fasilitas VIP
Jalan tol bertambah = biaya logistik tetap mahal
Kaya rempah = garam dan bumbu dapur impor
Swasta dicekik aturan = BUMN rugi disuntik dana
Janji lapangan kerja = tenaga kerja asing difasilitasi
Aturan hukum tebal = urusan lancar pakai "orang dalam"
Tanah vulkanis subur = kedelai dan pakan ternak impor
Banyak sungai besar = air bersih harus beli
Transportasi publik dibangun = macet hanya pindah lokasi
Dana desa triliunan = kepala desa pamer harta
Cita-cita swasembada daging = harga daging sapi termahal
Pesta demokrasi = menang karena serangan fajar
Komisi pengawas banyak = pungutan liar jalan terus
Bangga produk lokal = bahan bakunya impor semua
Tertangkap tangan korupsi = masih bisa senyum di TV
Konstitusi = bisa direvisi kilat demi kekuasaan
Wajib cinta tanah air = pejabat berobat ke luar negeri
Kebebasan berpendapat dijamin = kritik dipenjara pasal karet
Lahan negara luas = rakyat susah punya rumah
Subsidi triliunan = pupuk selalu gaib saat musim tanam
Budaya gotong royong = tetangga sakit tidak ada yang tahu
Digitalisasi birokrasi = urus izin tetap fotokopi KTP
Upah minimum naik = harga sembako naik duluan
Anggaran militer besar = alutsista yang dibeli barang bekas
Bangsa yang ramah = komentar netizen paling barbar
Darurat iklim = hutan lindung jadi kawasan tambang
Anggaran riset dipotong = pejabat rajin studi banding
Pusat data nasional = server gampang diretas
Gelar akademik berderet = kualitas kebijakan amatiran
Kaya warisan budaya = seniman tradisional melarat
Anti-penjajahan = rakyat digusur paksa proyek negara
Keadilan sosial = hanya untuk yang mampu membayar
TIPS SELAMAT DARI KRISIS 2026—2030: SURVIVAL MODE ON!
1. stop kredit dulu: jangan nambah cicilan atau utang baru. beresin yang ada aja.
2. fokus yang ada: jangan nafsu besarin bisnis dulu. fokus rawat yang sudah jalan biar tetap stabil.
3. amankan kerjaan: tahan diri buat resign. di masa krisis, punya gaji tetap itu kemewahan.
4. hemat pangkal selamat: potong pengeluaran yang nggak penting. self-reward boleh, tapi secukupnya.
5. hati-hati investasi: jangan gampang tergiur bisnis baru atau mlm yang janjinya muluk-muluk.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Prabowo
TAK PERNAH JADI DANDIM
TAK PERNAH JADI DANREM
TAK PERNAH JADI PANGDAM
Tidak pernah berada benar-benar dari bawah.
Ia tidak lahir dari jalur kewilayahan.
Tak pernah ditempa oleh ritme desa,
tak pernah membaca denyut rakyat dari meja Danramil, tak pernah menghirup bau keringat petani lewat lintasan Babinsa.
Ia asing pada bahasa sungai, buta pada logika hutan, dan tak pernah memahami wilayah sebagai ruang hidup—bukan sekadar batas administratif.
Bagi dirinya, kewilayahan hanyalah koordinat di slide presentasi.
Ia berbicara wilayah seperti turis berbicara kampung:
fasih istilah, miskin pemahaman.
Yang muncul bukan kepekaan ruang,
melainkan refleks kekuasaan.
Rakyat direduksi menjadi objek bantuan, bukan subjek pemulihan.
Ia mengalami gagap struktural:
pengalaman komandonya terputus dari realitas tanah, sungai, dan desa.
Tak heran, kebijakannya sering jatuh seperti sepatu bot di lumpur:
berat, bising, namun tak pernah benar-benar melangkah.
Namun perlu ditegaskan:
🔹️Ini bukan soal kepedulian personal.
🔹️Ini soal formasi mental.
Sejak awal, ia dibesarkan untuk menguasai, bukan memahami.
Wilayah tidak pernah tunduk pada mereka yang hanya mengenal peta
tanpa pernah menjejak tanah.
Pada akhirnya, ini bukan kritik emosional, melainkan evaluasi struktural atas kepemimpinan yang kehilangan rasa tanah.
Karena negeri ini tidak dibangun dari PowerPoint, melainkan dari lumpur, sungai, hutan, dan manusia yang hidup di dalamnya.
Dan siapa pun yang gagal memahami itu, akan selalu salah alamat—betapapun tinggi jabatannya.
:: WeKa ::
i once worked with someone extremely wealthy and what stood out was their mindset and how they never complained about small inconveniences
their coffee order was wrong? they just drank it. flight delayed? they pulled out a book.
they had this quiet acceptance that some things simply aren’t worth the emotional energy while the rest of us stressed over what we couldn’t control, they had already shifted focus to what they could control.
it wasn’t really about money solving problems…
it was about having enough security that they didn’t feel the need to fight every battle... they could afford, mentally and emotionally, to let things go.