kayaknya saya bisa mengerti perasaan warga amerika yang gak milih donald trump dan melihat kelakuan presidennya yang mendukung zionis, gak mengindahkan konstitusi, mengisi kabinetnya dgn orang yg gak kompeten, dan make kekuatan militer buat mempertahankan kekuasaan.
Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini.
Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga.
Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini. Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi. Mengapa?
Mungkin bangsa-bangsa sedunia tidak peduli, atau tidak berdaya, atau mungkin tidak mampu untuk mencegahnya. Secara pribadi saya berdoa kepada Tuhan, semoga mimpi buruk terjadinya perang dunia disertai penggunaan senjata nuklir itu tidak terjadi. Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia.
Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.
Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita. Mari kita berbicara dan berupaya. Ingat kata-kata Edmund Burke dan Albert Einstein yang intinya mengatakan bahwa kehancuran dunia bukan disebabkan oleh orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik membiarkan orang-orang jahat menghancurkan dunia. Atau juga, kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang.
Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru.
Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing.
Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu “bagai berseru di padang pasir”. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way. *SBY*
Panduan Singkat Penyampaian Kritik di Ruang Digital
1. Hindari menyerang individu, fokus pada kebijakan.
❌ “Pejabat ini tidak kompeten.”
✅ “Kebijakan ini menunjukkan kelemahan dalam perencanaan dan eksekusi"
2. Hindari tuduhan langsung.
❌ “Mereka sengaja merugikan rakyat.”
✅ “Menurut penilaian saya, kebijakan ini berpotensi berdampak merugikan.”
3. Hindari bahasa merendahkan.
❌ “Keputusan tolol.”
✅ “Keputusan ini kurang berbasis kajian yang memadai.”
4. Hindari ajakan provokatif atau mobilisasi emosional.
❌ “Lawan sekarang.”
✅ “Perlu pengawasan publik dan diskusi yang lebih serius.”
5. Hindari klaim faktual dan penyebutan nama tanpa rujukan.
❌ “Institusi A selalu gagal mengelola kebijakan ini.”
✅ “Menurut laporan media Tempo, implementasi kebijakan ini.. "
6. Hindari kritik yang mengarah ke SARA.
❌ “Golongan X memang selalu jadi sumber masalah.”
✅ “Praktik tertentu dalam kasus ini menimbulkan persoalan serius.”
Tetaplah bersuara, meski tak senyaman sebelumnya.
Sudah lewat masanya “mohon maaf”, “kami prihatin” & “saya kecewa”
Rakyat Indonesia menuntut lebih.
YTH Presiden RI @prabowo & Wakil Presiden @gibran_tweet
YTH @ListyoSigitP
Mohon arahan. Kami butuh pimpinan kami di masa seperti ini.
Pak @prabowo, hari ini mobil brimob melindas rakyat sampai mati.
Pak @prabowo, hari ini mobil brimob melindas rakyat sampai mati.
Pak @prabowo, hari ini mobil brimob melindas rakyat sampai mati.
Pak @prabowo, hari ini mobil brimob melindas rakyat sampai mati.
Kita upayakan terus yang bagus semampunya.
Terus, terus, sampai akhirnya, yang dibuat dengan niat tidak tulus dan cara asal-asalan semakin tersingkirkan dan tidak punya alasan untuk minta didukung.
Memang perlu yang gelap untuk tahu masa depan animasi Indonesia bisa terang.
Pay attention Bapak Presiden @prabowo,
CC : @baznasindonesia
Rencana mendanai MBG dari dana zakat, direspon oleh ulama, setidaknya Ust Fatih Karim sudah mengingatkan.
Bahwa para ulama sepakat dan tidak ada perbedaan pendapat. dana zakat hanya bisa dialokasikan kepada 8 asnaf.
Jika dana zakat diutak atik lalu diperuntukan kepada yang bukan haknya, maka kesalahan besar ini akan dihisab dan azab Allah amat pedih!
Perdebatan yg terjadi di timeline gue, harus dianggap sbg sebuah kewajaran.
Perbedaan pendapat harus diterima sbg sebuah kebiasaan.
Kalau semua HARUS nurut sama pendapat kita..
Kalau semua HARUS ikut aja sama apa yang kita mau..
Kita jadi sama dong dgn Dwifungsi TNI yg masuk ke posisi sipil krn pengen cepet, gampang & “udah nurut aja mau gue”
Baca buku: Dibakar.
Pameran Lukisan: Dibatalkan.
Pementasan Teater: Digembok.
Lagu kritik: Dihapus.
Tukin dosen: Tak dibayar.
Dana pendidikan: Dikurangi.
rezim ini secara sistematis memang ingin rakyatnya jadi bodoh dan diam.