“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Poin pertama saja sudah sangat problematik. Belum lagi poin2 selanjutnya.
Orang ini nggak paham soal bahwa narasi biaya pribadi presiden itu justru menabrak prinsip tata kelola negara.
Klaim bahwa kelebihan biaya ditanggung oleh dana pribadi presiden itu secara etika birokrasi dan hukum tata negara adalah hal yg sangat problematis.
Ini blurs the line. Dalam administrasi publik modern, harus ada batas yang mutlak antara kekayaan pribadi pejabat (private wealth) dan operasional negara (public fund).
Saat presiden memakai duit pribadi untuk urusan kedinasan, hal ini justru merusak standarisasi penganggaran dan akuntabilitas.
Lalu bagaimana biaya2 dicatatkan dalam LKPP?
Apakah ini dikategorikan sebagai hibah pribadi kepada negara?
Jika iya, apakah sudah melalui prosedur penerimaan hibah yang sah agar tidak menimbulkan conflict of interest di kemudian hari?
Luarbiasa cara Tempo mengingatkan Presiden Prabowo. Yaitu dengan menerbitkan edisi khusus ayahanda Presiden, Sumitro Djojohadikusumo. Enam desk dikerahkan untuk memberi gambaran lengkap sosok Begawan Ekonomi ini. Lantas membandingkannya dengan kebijakan-kebijakan anaknya.. 🫡
BPS 2024: 70% perceraian di Indonesia diajukan oleh ISTRI.
Bukan karena suaminya selingkuh.
Bukan karena ekonomi.
Alasan terbanyak: "Tidak ada keharmonisan."
Terjemahan jujurnya? "Aku sudah capek bicara dan gak didengar."
Apa ibu juga merasakan seperti itu, Bu?
Bukan chat cowok lain. Bukan history belanja rahasia.
Catatan di Notes HP.
Judulnya: "Hal-hal yg gak perlu aku bilang lagi."
Isinya:
"Minta tolong gendong anak, dia bilang capek. Udah."
"Cerita soal tetangga yg bikin kesel, dia bilang aku lebay. Udah."
"Nangis habis berantem, dia gak peluk. Gak nanya. Udah."
"Minta quality time, dia bilang weekend aja. Weekend dia futsal. Udah."
17 poin.
17 hal yang pernah istrinya sampaikan. Yang dijawab "nanti" atau "ya udah" atau "gak usah baper."
Ada hot takes menarik dari pidato Pak Anies dan menjawab pertanyaan saya tentang “gimana cara survive di sistem yang jelek?”
PNS dan CPNS, apa kabar kalian? Masih kuat ga di rezim yg awikwok ini 👀
Jadi kata Pak Anies, bikin lah 3 jangkar supaya kita gak larut dalam sistem yg jelek
1. Jaga lingkar sahabat terdekat sebagai cermin. Kalo cermin ga ada kita kehilangan pengetauan tentang rupa kita sendiri.
2. Jaga waktu untuk membaca supaya tau dunia yg ada di luar kantor kita. Baca itu cara paling gampang dan murah buat “jalan-jalan”
3. Ingat alasan dulu masuk ke sistem itu karena apa. Tulis di kertas. Posisi bisa berubah tp prinsip hrs dipegang terus lintas waktu.
Semua solusinya emang personal. Tapi ya that’s the best we can do sambil berdoa semoga suatu saat semua sistem berjalan sesuai idealnya.
Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths https://t.co/8cvnt563TJ
Photo: Getty Images
Mungkin ada yang belum tahu kalau kita bisa membaca artikel-artikel dari majalah The Economist secara GRATIS dengan cara mendaftar sebagai anggota perpustakaan digitalnya British Council. Setelah mendaftar keanggotaan, kita tinggal mendownload app pressreader dan sign in menggunakan kartu kita.
Bukan hanya The Economist, tapi kita bisa mengakses dan membaca gratis banyak majalah dan koran-koran dari berbagai negara. Tidak hanya topik politik atau bisnis, bahkan sampai ke topik tentang hewan, gardening, architecture, travelling, entertainment, cooking, dst.
Contohnya ini yang aku pinjam (lihat gambar 3 & 4)
mohon izin, saya coba jadikan poster sederhana agar lebih mudah dibaca di ipad for kids 🙏
mudah-mudahan dibaca juga oleh pak prabowo, biar lebih paham apa dampak kenaikan kurs dolar terhadap masyarakat desa.
nb: sudah disertai solusi juga.
Karena saya ada di foto tersebut, izin ikut menyampaikan pendapat berdasarkan pengalaman empiris mengikuti komunitas baca/sastra yang ada diskusinya, maupun yang silent reading.
Kritik @berhomonim benar. Apalagi kalau memang betul, latar belakang pendidikannya linguistik maka, semakin valid.
Tapi, seperti banyak akademisi dan kritikus juga, dia nampaknya (sekali lagi saya tekankan nampak atau sepertinya, karena saya gak tau juga apakah dia pernah mengelola/mengikuti komunitas baca/sastra yang berdiskusi dan atau yang hening) terjebak dengan teori tanpa melihat realita lapangan.
Di dalam masyarakat yang literasi serta minat bacanya rendah, klub baca hening diperlukan untuk awalan. Tidak semua orang mampu mendiskusikan bacaan yang berat dan terarah/terfokus.
Karena memang tingkat pemahaman bacaan tiap orang berbeda, bahkan di dalam Pendidikan Tinggi bahkan di satu fakultas katakanlah fakultas bahasa dan sastra.
Makanya, sampai rata-rata angka minat baca dan pemahaman literasi masyarakat kita tinggi ya biarkan saja malah harus ditumbuhkan: klub baca hening tersebut. Tapi, kalo di kampus sih emang harusnya diskusi, tukar gagasan dan tukar pikiran tentang buku yang dibaca, kalau mahasiswa atau anak kampus aja gak diskusi gimana masyarakat umum dah.
Oh iya, saya sepakat tidak usah terlalu meromantisasi baca buku karena seharusnya itu adalah hal yang normal. Mau di toko buku, kereta, kopi shop, bis, angkot, toilet, semak-semak, harusnya emang baca buku ya bukan hal yang romantis tapi normal bahkan wajib. Ini pernah saya sampaikan juga di FGD dengan Gramedia dan Populix 2 tahun lalu sebelum mereka buat Makarya dan Jalma.
Namun, sekali lagi, kita perlu melihat adat istiadat setempat alias local wisdom, mungkin emang perlu baca diromantisasi dulu biar jadi hal yang normal dan biasa.
Tabik... Salam hormat, apapun klub bacanya, cara bacanya mau rame-rame tapi hening, mau ramai diskusi, mau read aloud, bahkan hanya baca sendiri, yang penting baca. Yang salah yang kagak baca kayak pemerinteh eh wakel presidan eh gibrun.
Haha, ada kecenderungan aneh di diskusi sastra kita. Pengalaman middle-upper urban sering dianggap “kurang valid” buat dibaca serius, seolah suffering adalah satu-satunya jalan menuju depth. Padahal pertanyaan pentingnya bukan “tokohnya kaya apa nggak”, tapi what kind of world is this text trying to capture?
Metropop emang nggak selalu politically radical. Tapi kalau langsung direduksi jadi “fantasi hedon orang Jakarta”, itu juga lazy reading. Karena urban life modern sendiri emang penuh performance, konsumsi, career pressure, transactional relationship, sampai emotional alienation yang dibungkus lifestyle estetik. Dan itu social reality juga, bukan sekadar aesthetic decoration.
Terkait “membuka wawasan”, perspektif nggak selalu datang dari kritik sistem yang loud dan eksplisit. Kadang datang dari hal yang lebih subtle, kek perempuan yang baru lihat possibility hidup di luar domestifikasi, pembaca daerah yang ngelihat ritme hidup kota, atau orang yang baru sadar kalau privilege ternyata nggak otomatis bikin hidup less lonely.
Cuma mau bilang, kadang kita terlalu cepat nyebut pengalaman yang jauh dari hidup kita sebagai “dangkal”. Padahal bukannya itu justru fungsi membaca? buat ngerti dunia yang bukan punya kita.
dr tirta : usaha dulu apa tawakkal dulu?
aldi taher : tawakkal dulu, baru dagang
dr tirta : rugi tetep bersyukur, untung tetep??
aldi : rugi itu di neraka bang. jadi kalo orang dagang, tiba tiba dia rugi, itu bukan rugi… tapi rezekinya segitu, syukuri.
dr tirta : 👏🏻👏🏻👏🏻
tata cara solat di kendaraan ini prinsipnya sama. islam itu mudah tapi jangan meremehkan yaa
🔅pertama, soal BERSUCI. selama masih ada air, maka wajib berwudhu. jadi selama ada toilet, berwudhulah semampunya. klo sulit, cukup wudhu anggota wajib wudhu saja (basuh muka, basuh tangan sampai siku, usap kepala, basuh kaki sampe mata kaki)
kalau tayammum padahal ada air dan bisa wudhu di toilet? maka bisa ga sah☺️
🔅kedua, soal SOLAT.
yg disepakati seluruh ulama dan paling aman adalah: solat di musola/masjid dan bisa di JAMAK sebelum perjalanan jika sekiranya bakal ngelewatin waktu solat tertentu (bisa jamak dzuhur asar atau maghrib isya).
atau misal berangkatnya abis asar, dan kendaraannya ga berhenti kecuali sampe di tujuan dan itu ba’da isya, nah bisa solat maghrib & isya ketika sudah sampai tujuan dgn di JAMAK pula.
bahkan bisa jamak qoshor saat sudah sampai kalo lokasi tujuannya sudah keluar dari kota yg kita tinggali.
apalagi kalo antar kota biasanya hanya menempuh beberapa jam saja jika pake kereta/pesawat. kalopun naik bis, kadang ada mampir ke rest area di tengah perjalanan.
Di suatu negara yang aneh
Negara tropis = buah mahal
Negara maritim = ikan mahal
Negara CPO = migor mahal
Negara SDA = listrik dan BBM mahal
Negara hukum = tunggu viral
Swasembada pangan = beras mahal
Bebas aktif = ikut BOP
Negara religius = korupsi nya banyak, sampai kitab Tuhannya dikorupsi
Semuanya karena sistem yang buruk dan political will yang tidak berpihak rakyat tapi berpihak cepat balik modal dan nambah kekayaan pribadi hehe
Mirip dengan pemerintah kolonial Belanda ketika memutuskan mendirikan sekolah kedokteran dan teknik di Hindia Belanda: untuk menyediakan tenaga kerja murah.
Pemerintah kolonial sangat membatasi ilmu-ilmu sosial, hukum, atau politik pada masa awal karena dianggap berbahaya. Ilmu sosial dapat memicu pemikiran kritis tentang kesetaraan, hak asasi, dan kedaulatan negara.
Membangun infrastruktur (jalan, jembatan, pelabuhan) dan menjaga kesehatan masyarakat membutuhkan tenaga ahli. Mendatangkan ahli dari Eropa sangatlah mahal. Oleh karena itu, Belanda mendirikan sekolah seperti STOVIA (kedokteran) dan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) untuk mencetak tenaga 'tukang' dan 'asisten' tingkat tinggi dari kalangan pribumi yang bisa digaji lebih rendah daripada tenaga kerja berkulit putih.
Pendirian sekolah kedokteran diawali oleh maraknya wabah penyakit seperti cacar dan pes di abad ke-19. Wabah ini tidak hanya menyerang pribumi, tetapi juga mengancam populasi orang Eropa dan produktivitas perkebunan yang menjadi sumber kekayaan Belanda. Para 'dokter Jawa' awalnya dilatih khusus sebagai mantri cacar untuk menjaga stabilitas kesehatan buruh di sektor-sektor ekonomi penting.
Setelah diberlakukannya UU Agraria 1870, modal swasta asing masuk besar-besaran ke Hindia Belanda. Muncul pabrik gula, perkebunan teh, tembakau, dan pertambangan yang membutuhkan penerapan teknologi. Sekolah teknik didirikan untuk memastikan mesin-mesin industri dan jalur kereta api tetap beroperasi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pengiriman teknisi dari Belanda.
Inilah pendidikan yang relevan dengan industri pada masa kolonial.
📷 KITLV / Leiden University Libraries
@raykairi Bersyukur banget jadi muslim karena rezeki bukan hanya berupa gaji, tapi ketenangan hati juga. Udah gitu rezeki sudah tertakar dan tidak akan tertukar, masyaAllaaaahhh