Orang orang yg masuk partai tujuannya hanya satu: mengubah nasibnya.
Aktivis punya tiga tingkatan:
1. Koar koar kepada penguasa untuk tujuan dirinya sendiri sesudah kebagian jatah mingkem.
2. Koar koar kepada penguasa untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya sesudah kebagian biasanya jadi penjilat dan buzzer pemerintah.
3. Koar koar mengkritik kebijakan penguasa dengan tujuan memperbaiki nasib bangsa, yg model begini gak pernah ada🤣
Omongannya lucu tapi berkelas👇
Gak nyangka bakal dibikin merinding cuma gara-gara sebuah iklan. Awalnya iseng nonton, eh pas selesai malah diem beberapa detik. Jarang ada iklan yang bisa nyampein pesan sekuat ini
Mirwan Suwarso, Presiden Como 1907, dalam wawancara terbarunya bareng Helmy Yahya, cerita kalau ia membangun Como pakai konsep Moneyball: pendekatan manajemen tim olahraga yang dipopulerkan Billy Beane di awal 2000-an.
Idenya simpel tapi revolusioner, pakai analisis statistik untuk nemuin pemain yang undervalued di pasar, terus bangun tim kompetitif dengan budget terbatas. Konsep ini biasanya jadi andalan klub-klub kecil yang nggak bisa bersaing di bursa pasar melawan klub-klub tajir. Di Premier League, Brentford dan Brighton adalah dua contoh paling terkenal yang berhasil jalanin filosofi ini.
Yang bikin menarik, Mirwan nggak cuma belajar teorinya doang. Dia ngaku pernah ketemu langsung sama Billy Beane untuk bekerjasama soal ini, dan juga sama Tony Bloom, pemilik Brighton, buat pelajarin sistemnya dari orang-orangnya langsung. Habis itu, dia sama timnya mulai bedah sistem tersebut, menganalisa apa yang bagus, apa yang kurang, sebelum akhirnya bikin versi Moneyball mereka sendiri. Prinsipnya satu: semua keputusan sepak bola harus berbasis data.
Tapi Mirwan juga menegaskan satu hal penting: Como dibangun di atas sistem, bukan individu. Siapapun yang duduk di kursi pelatih nggak boleh jadi figur yang nggak tergantikan. Makanya, ia bentuk yang namanya “Dewan Sepak Bola” yang terdiri dari head of recruitment, head of development, head of football strategy, head of performance, tim pelatih, perwakilan pemilik, sport director, sampai tim keuangan. Semua keputusan sepak bola harus lahir dari kesepakatan bersama.
Nah, konsep ini paling keliatan nyata di proses rekrutmen pemain Como. Mirwan Suwarso menjelaskan prosesnya yang berlapis dan cukup ketat. Mulai dari tim rekrutmen yang nyaring kandidat berdasarkan data. Kalau lolos, nama itu diterusin ke tim scouting buat dikonfirmasi langsung, apakah datanya akurat atau nggak, gaya mainnya cocok sama filosofi tim atau nggak. Kalau cocok, lanjut ke tahap behavior analysis, di mana sikap dan karakter si pemain dinilai. Baru setelah itu diserahin ke tim keuangan buat ngecek apakah nilai pasarnya masuk budget atau nggak.
Kalau semua tahap itu udah dilalui, baru deh nama-nama kandidat yang lolos diserahin ke tim pelatih, biasanya 5-6 nama. Tim pelatih bebas milih siapapun dari daftar itu. Tapi kalau mereka punya kandidat sendiri di luar daftar, nama itu tetap bisa diajukan, dengan syarat harus ikutin seluruh proses rekrutmen dari awal juga.
Melihat betapa sistematisnya Como dijalankan, proses rekrutmen yang ketat, semua diselaraskan dengan visi pelatih, dan ujungnya bermuara pada hasil nyata di lapangan, rasanya nggak heran kenapa mereka bisa bicara banyak musim ini di Serie A.
Dan untuk kita sebagai orang Indonesia, ada kebanggaan tersendiri melihat klub yang paling dibicarakan belakangan ini, pemiliknya adalah orang Indonesia. 🥹❤️
Lintang, Ikal dan Mahar, siswa pintar dari SD terpencil berhasil memenangkan lomba cerdas cermat.
Lintang dikira curang, tapi berani membuktikan.
juri laskar pelangi 1 : 0 juri MPR RI
ENGGAK MAU KABUR AJA DULU
Salah satu alasan bangga menjadi bagian dari Indonesia adalah karena negeri ini masih dipenuhi jiwa-jiwa mulia yang memandang rezeki bukan semata soal angka dan uang, melainkan tentang keberkahan, ketulusan, dan keikhlasan saat memberi.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dengan hitung-hitungan untung rugi, bangsa ini masih memiliki banyak orang yang rela menolong tanpa syarat, membantu tanpa pamrih, dan berbagi tanpa menunggu balasan.
Inilah kekuatan sejati Indonesia. Bukan hanya kekayaan alamnya, bukan sekadar luas wilayahnya, tetapi hati rakyatnya yang tetap hidup dengan nilai gotong royong, kepedulian, dan kemanusiaan.
Selama semangat itu masih menyala di dada rakyatnya, Indonesia akan selalu menjadi bangsa besar yang layak dibanggakan.
📹: Adiabdilah.23
#PENTING
Izin edukasi pertolongan yg lebih tepat yaa 🙏🏻
Klo kita liat ada org tbtb ga sadar, bisa jd dia serangan jantung, kejang, strok, atau pingsan biasa.
Terus gmn cara taunya? Gmn cara bedainnya? Pertolongan pertama utk masing2 gmn?
Baca & bookmark utas ini! Kita belajar bareng!!!
KEINGET CERITA TEMEENNN😭. Di deket rumahnya ada orang kaya.. setiap bulan puasa mendekati lebaran suka bagi-bagi sembako gituh rutin pokoknya tiap tahun.
Tiba si orang kaya ini meninggal.. gak ada yang nerusin bagi-bagi sembako, eh rumahnya di demo dong😭
Dibilang “mana hak kami, kewajiban kalian tiap bulan puasa kasih kami” 😭😭😭
Guys ini update koperasi merah putih yang perlu lo tau.
Sudah 7 bulan beroperasi keuangannya masih minus.
Dan solusi yang dipilih bukan evaluasi model bisnisnya. Bukan perbaiki manajemennya. Bukan tanya kenapa setelah 7 bulan masih belum balik modal.
Tapi larang Indomaret dan Alfamart buka cabang baru.
Gw perlu berhenti sebentar di situ.
Jadi logikanya begini koperasi yang dibiayai uang negara tidak bisa bersaing secara sehat di pasar. Solusinya bukan bikin koperasinya lebih kompetitif. Tapi eliminasi kompetitornya.
Itu bukan ekonomi kerakyatan. Itu proteksionisme untuk menutupi ketidakmampuan.
Dan yang paling ironis Indomaret dan Alfamart itu bukan perusahaan asing. Itu perusahaan Indonesia yang sudah puluhan tahun bangun ekosistem ritel dari nol. Yang kasih lapangan kerja jutaan orang. Yang ada di setiap sudut kampung sampai kota. Yang stoknya lengkap, harganya transparan, dan buka 24 jam.
Mereka dilarang berkembang bukan karena melanggar hukum. Tapi karena terlalu kompeten dibanding koperasi yang belum bisa jalan sendiri setelah 7 bulan.
Dan ini bukan pertama kali pola ini terjadi di Indonesia. Bisnis yang tidak kompetitif dilindungi bukan dengan cara ditingkatkan kualitasnya tapi dengan cara pesaingnya dihambat.
Hasilnya selalu sama. Konsumen yang rugi karena pilihan berkurang. Pasar yang tidak efisien karena kompetisi dibunuh. Dan koperasinya sendiri tidak pernah benar benar tumbuh karena tidak pernah dipaksa untuk bersaing.
Kalau memang misi koperasi merah putih adalah berdayakan ekonomi rakyat buktikan dengan bersaing. Bukan dengan minta pesaingnya dipasung.