TUHAAAANNN TERIMAKASIH BANYAK ATAS KEHIDUPAN YANG ENGKAU BERIKAN
ATAS TAKDIR YANG MENJADI KAN KAMI PENGGEMAR BARCELONA YANG HIDUP DI ERA INI
SPAIN VS ARGENTINA IN THE 2026 WORLD CUP FINAL HERE WE GOOO!!!!
๐ฅบ๐ฅบ๐ฅบ๐ญ๐ญ๐ญ๐ช๐ธ๐ฆ๐ท๐๐โค
April, 13 tahun yang lalu, Andie Peci dibacok dan dipukuli sekitar 12 orang berbadan besar.
Peci dianiaya beberapa saat setelah ia mengikuti aksi damai mendukung Persebaya Surabaya 1927 yang tak diakui eksistensinya oleh PSSI.
Karena sepak bola, pria2 beringas itu hendak menculik Peci. Namun Peci menolak, melawan, dan menangkis sabetan2 celurit pelaku. Tangan Peci berdarah, beberapa bagian tubuhnya lebam. Di rumah sakit, Peci menerima 29 jahitan pada tangannya.
Teror itu tidak pernah menghentikan Peci. Dia bersuara semakin lantang, semakin aktif turun ke jalan. Sampai hari ini, para pelaku pembacokan itu tidak pernah terungkap. Siapa otak di balik penyiksaan itu tidak pernah tersingkap.
Hari ini, Peci meninggal dunia, meninggalkan jejak kenangan berupa keberanian dan idealisme pilih tanding.
Peci, sebuah kehormatan bisa mengenalmu. Selamat jalan. Semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Innalillahi wa innailaihi rojiun.
Di tengah masifnya seruan #OleOut waktu itu, ada satu hal yang sering dilupakan: era Ole Gunnar Solskjรฆr sebenarnya tidak seburuk narasi yang dibangun media dan netizen.
Ya, dia gagal bawa trofi. Tapi kalau kita lihat lebih dalam, ada fondasi yang jelas terbentuk. Di bawah Ole, United mencapai 3 semifinal (FA Cup 2x, Carabao Cup 1x), 1 Final Europa League 2021, Finis 3rd (2019/20) dan 2nd (2020/21) di Premier League.
Ini bukan pencapaian tim yang โberantakanโ. Ini jelas tim yang on trajectory. Masalahnya? Ekspektasi.
United pasca Sir Alex Ferguson hidup dalam bayang-bayang kejayaan instan. Setiap progres harus langsung berujung trofi, padahal secara struktur skuad, mereka belum sepenuhnya siap.
Musim 2021/22 seharusnya jadi titik penentuan. Banyak yang melihat United hanya butuh satu kepingan penting: defensive midfielder elite yang bisa menyeimbangkan lini tengah. Alih-alih mengisi kebutuhan itu, klub justru mengambil keputusan oportunistik dengan memulangkan sang Legenda.
Di atas kertas, itu terlihat seperti no-brainer. Tapi secara taktik, itu mengubah arah proyek Ole: Sistem pressing-nya jadi tidak konsisten. Struktur serangan berubah lebih direct. Ketergantungan pada individu kembali muncul.
Hasil akhirnya? Proyek yang sebelumnya dibangun perlahan jadi kehilangan arah sebelum sempat matang. Apakah Ole pelatih sempurna? Jelas tidak. Dia punya keterbatasan dalam game management dan struktur taktik di level elite. Tapi menyederhanakan eranya sebagai โgagal totalโ juga gak adil.
Karena kalau dilihat secara objektif, Ole sama sekali gak menghancurkan United seperti framing yg dia terima waktu itu, dia justru membawa United kembali ke jalur kompetitif, sebelum arah itu berubah di momen yang sangat krusial.
#utdfocusid