kapan ya orang indo sadar akan kesadaran kelas 😞. Ada orang naik jet pribadi cuman karena GABUT, komennya banyak yang muji2, minta duit, bahkan manifest mereka punya kesempatan naik privat jet. Padahal 1 kali penerbangan itu menghasilkan sekitar 6 ton CO2, sedangkan perkapita penduduk indo rata2 per TAHUN cuman 2.5 ton CO2 pertahun. Kegabutan sesaat kaum oligarki ini dibayar mahal oleh kerusakan ruang hidup masyarakat kecil.
Please @UNICEF , @UNICEFIndonesia , @kpp_pa and @KPAI_official , protect Indonesian children!!
Children are the future of our nation. They should never become shields for those in power, tools of propaganda, or symbols used to build support for any government policy.
Indonesia's Child Protection Law (Law No. 35 of 2014), Article 15, clearly states that every child has the right to be protected from abuse and exploitation in political activities. This principle exists because children deserve to grow up free from political manipulation and exploitation.
When elementary school children are brought to public demonstrations, asked to carry signs, chant slogans, or serve as symbols of support for a government program, we must ask a simple but important question: Who is truly being protected the children, or political interests?
Children are not born to carry the burden of adult politics. They are born to learn, to play, to dream, and to grow. They are not mature enough to fully understand political issues or to give informed consent to participate in activities with political implications. That is precisely why the law exists—to protect them from being used to advance the interests of others. If a government program is truly beneficial, its success should speak for itself. Public trust should be built through transparency, accountability, and measurable results—not by placing children at the center of political messaging.
Children's voices should never be used as loudspeakers for political agendas. Their small hands should be holding books, not protest signs. We respectfully urge @UNICEF and @kpp_pa to take this matter seriously. We call for an independent investigation into the reported involvement of children in political demonstrations and for appropriate action to ensure that every child's rights are protected in accordance with Indonesia's Child Protection Law.
Protect Indonesian children. Because when childhood is exploited, it is not only a child who is harmed—it is the future of an entire nation.
Dear @UNICEF,
Indonesian children should never be used to advance any political agenda or government campaign. Indonesia's Child Protection Law emphasizes that every child has the right to be protected from exploitation, violence, discrimination, and any activity that may jeopardize their best interests. Involving elementary school children in public rallies, asking them to carry campaign-style signs or chant political slogans raises serious concerns about whether their rights are being respected.
Children can’t meaningfully consent to political participation. Schools should remain safe spaces for learning—not places where students are mobilized to endorse government policies.
We urge independent monitoring to ensure that children's rights are fully protected and that no child is used as a tool for political messaging.
Nih denger para runners tone deaf.
Toh kalo kebijakan yang dikeluarkan bagus, nanti harga registrasi marathon elu gak semahal itu kocak.
Inget! Pukul ke atas bukan ke samping
Draft:
Selama aksi demo hampir tidak ada TV nasional yang meliput.
Tapi menjelang malam, ada massa yang tidak jelas tiba-tiba muncul dan mulai berbuat anarkis, TV mendadak breaking news, disiarkan secara live, dengan narasi seolah-olah inti dari demonstrasi adalah kerusuhan.
Demo di Bundaran HI ini unik, karena biasanya demo ke lembaga pemerintahan tertentu
Tapi bundaran HI itu sumber traffic: masyarakt dan sosial media
peluang media ngeliput naik
peluang sosmed divideoin orang juga naik
orang aware-> tujuan demo terpenuhi dengan cara baru
Parade di kota yang punya transportasi bagus itu kayak gini, terpusat, semua berdiri di pinggir jalan.
.
Kalau di kota yang gak punya kultur transportasi, orang mau datang harus bawa motor, jadi sekalian naik motor aja paradenya.
.
Makanya harus nonjok ke atas.
Guys, ada foto yang menurut gue bicara lebih keras dari seribu pidato kenegaraan.
Di foto itu ada Lawrence Wong Perdana Menteri Singapura.
Dia tiba di Cebu untuk KTT ASEAN.
Naik Singapore Airlines.
Penerbangan komersial biasa.
Turun dari garbarata seperti penumpang biasa.
Tidak ada foto dramatis keluar dari pesawat karena memang tidak ada yang spesial untuk difoto dia cuma turun dari pesawat komersial layaknya orang normal.
Di hari yang sama Prabowo tiba di Cebu dengan pesawat kenegaraan.
Diiringi Hercules yang khusus membawa Maung
dan segala kebutuhan rombongan.
Konteksnya yang membuat ini makin menohok:
Singapura adalah salah satu kreditor terbesar Indonesia.
Utang Indonesia ke Singapura gabungan swasta, BUMN, dan berbagai instrumen lainnya mendekati Rp1.000 triliun.
Jadi analoginya begini:
ada orang yang punya utang ratusan miliar ke tetangganya.
Terus ada acara arisan di kompleks.
Si tetangga yang punya piutang ratusan miliar itu datang naik ojek santai, tidak perlu pamer.
Sementara si yang punya utang ratusan miliar datang naik Lexus dikawal Alphard dan Innova berjejer.
Itu bukan gaya hidup orang kaya.
Itu gaya hidup orang yang ingin terlihat kaya.
Dan bedanya sangat jauh.
Yang paling ironis:
Maung kendaraan yang dibawa dengan Hercules untuk dipamerkan di KTT ASEAN adalah mobil yang komponen lokalnya masih diperdebatkan.
Masih banyak bagian yang diimpor.
Masih jauh dari bisa disebut produk murni Indonesia.
Jadi kita membawa Hercules khusus untuk memamerkan mobil yang belum sepenuhnya Indonesia ke forum internasional sementara PM negara yang kita utangi hampir Rp1.000 triliun datang naik penerbangan komersial tanpa drama apapun.
Dan yang paling menyakitkan:
Prabowo dan Gerindra dulu adalah yang paling keras menyindir gaya pamer pemerintah sebelumnya.
Mereka yang paling lantang bicara soal efisiensi, kesederhanaan, dan tidak menghamburkan uang negara untuk gengsi.
Hari ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan muka lurus kenapa PM negara sekaya Singapura cukup naik SQ komersial,
sementara Indonesia yang defisit anggarannya Rp240 triliun di Q1 2026 saja merasa perlu membawa Hercules untuk urusan protokoler kenegaraan.
Kesederhanaan bukan tanda kelemahan.
Lawrence Wong tidak terlihat lemah dengan naik penerbangan komersial.
Justru sebaliknya dia terlihat seperti pemimpin yang tahu bahwa uang negara bukan untuk membiayai penampilan.
Sementara kita dengan segala tekanan fiskal, rupiah yang tertekan, dan defisit yang melebar masih merasa perlu membuktikan sesuatu dengan cara yang justru memperlihatkan ketidakamanan kita sendiri.
Bangsa yang benar-benar besar
tidak perlu selalu terlihat besar.
Bangsa yang benar-benar percaya diri tidak perlu membawa Hercules untuk membuktikannya.
Negeri Wano di One Piece ini menarik karena....
1. Ada program makan buah gratis yang dikasih penguasa. Dampaknya? Rakyatnya tidak bisa mengekspresikan apapun kecuali ketawa
2. Industrialisasi masif di bawah rezim otoriter. pejabatnya itu cuma simbol, aslinya mah ada antek asing di luar negara itu yang mengendalikan.
3. Ada pihak yang melawan? siap-siap masuk penjara, tanpa remisi apalagi reintegrasi. jadi pekerja paksa
4. Yang tak boleh dilupakan, sejarah telah direvisi. Di sekolah, anak-anak diberi doktrin bahwa pihak yang sebenarnya jahat dianggap sebagai pahlawan. Sebaliknya, pihak yang baik hanya tersisa dalam ingatan, itu pun di generasi tua.
5. Penguasanya menentukan ibu kota baru (Onigashima) yang jauh dari gerak ekonomi masyarakat. Jadinya kalau mau demonstrasi atau revolusi, rakyat harus menyeberang lautan ganas.
Kenyataan bahwa abis orang pada bilang "tidak" dan dia masih bisa bilang, "MBG itu penting," adalah bukti beliau nih tuli terhadap suara masyarakat bahkan secara langsung.