tertampar dengan tulisan ini. 🥀
"seandainya kamu tahu betapa cepatnya manusia melupakanmu, setelah kematian. maka kamu tidak akan hidup untuk menyenangkan siapapun kecuali Rabbmu." 🤍
sejak hari itu, aku kehilangan banyak harapan. semua hal yang tersusun rapi, seketika runtuh, dan berantakan. sementara aku, tidak punya lagi tenaga untuk menata kembali. aku hanya merasa bahwa aku masih hidup, dan entah bagaimana caranya aku harus bertahan—itu saja.
عش حياتك بأفضل ما تستطيع، حتى تنسى أن أي شخص قد عاملك بهذه القسوة.
Hiduplah sebaik mungkin, hingga kamu lupa bahwa pernah ada yang pernah memperlakukanmu seburuk itu.
self reminder:
ini hanya sebuah perjalanan, jangan dipikirkan endingnya, tapi nikmati prosesnya. banyakin rasa syukurnya, kuatin lagi bahunya, jangan lupa selalu berdo'a, semoga Allah mempermudah semuanya.
Dia bisa lolos dari pembalasan manusia.
Bisa membela diri, memutar cerita, mencari pembenaran.
Tapi tidak ada pembelaan yang cukup kuat untuk melawan doa orang yang terzalimi.
Doa itu tidak butuh saksi.
Hanya Satu yang perlu mendengar.
Teringat satu kata-kata ni :
“Bukan jalan kita, tapi jalan Allah.”
“Bukan pilihan kita, tapi pilihan Allah.”
“Bukan keputusan kita, tapi keputusan Allah.”
“Bukan ketetapan kita, tapi ketetapan Allah.”
“Allah adalah sebaik-baik perancang” (QS Ali ‘Imran 3:54)
Menunggu..
Nabi Yaakub menunggu 14 tahun.
Nabi Musa menunggu 40 tahun.
Nabi Nuh menunggu 50 tahun.
Nabi Ayyub menunggu 18 tahun.
Nabi Ibrahim menunggu 80 tahun.
Nabi Yusuf menunggu 13 tahun.
“Jika Allah membuatmu menunggu, maka kau berada di takdir yang baik.”
Guru saya pernah bilang...
"Saat kamu di luar jam kerjamu, tinggalkan posisimu, jabatanmu, dan gajimu.”
Dulu aku cuma manggut-manggut. Tapi makin kesini, aku ngerti maksudnya.
Di luar kerja, orang gak butuh tau kamu manager, supervisor, atau punya gaji dua digit.
Bergaullah tanpa seragam. Bersikaplah tanpa pangkat.
Justru di situ kerendahan hati diuji.
Kadang yang bikin orang nyaman bukan ilmu kita, tapi rendahnya nada bicara. Tidak menggurui, tidak pula meninggi.
bercerita itu obat.
mendengarkan itu menguras energi.
jadi, hebatkan orang yg mau dengerin ceritamu tanpa rasa kepo & tanpa rasa menghakimi?
maka dari itu jangan lupa apresiasi orang orang terdekatmu yg mau jadi rumah tanpa adanya drama & toxic, agar kamu bisa pulang lalu sembuh