Pengen peluk semua perempuan yang lagi babak belur nyari jalan hidupnya sendiri.
Yang kalau ada apa-apa, ya mikir sendiri, beresin sendiri, nangis sendiri, terus besoknya kerja lagi. 😭
No backingan, no safety net. Cuma modal “ya Allah, semoga kali ini aku kuat” sambil tetap jalan. 🫂
1. 딱 1개만. 인생 전체 고치려 하지 말고, 지금 가장 미루는 작은 것 하나.
2. 끝내는 게 목표가 아님. 5분만. 타이머 끄면 그만해도 됨. 그런데 대개 더 하게 됨. 그게 포인트.
3. 끝난 뒤에 큰 보상으로 때우지 말 것. 5분 하고 한 시간 숏폼 보면 뇌는 또 “회피 = 대박”으로 배움.
4. 귀찮은 일이어야 함. 이미 즐거운 일 5분은 그냥 취미임. 회피하던 일이어야 회로가 바뀜.
행복이 안 느껴지는 이유가 감정이 죽은 게 아니라, 보상을 주는 행동에서 몸이 도망가서 그런 경우가 많음. 5분은 감정을 만드는 게 아니라, 도망을 멈추는 최소 단위다.
Saranku ke kalian kalau kalian sering susah fokus & punya motivasi yang rendah buat ngapa2in:
- Selalu sediakan todo-list (kalau bisa yang ada remindernya). Ini supaya kalau lagi ga fokus atau ga mood, kalian bisa catat kerjaan yang perlu dilakukan nanti & gak lupa. Ini penting supaya hal2 kayak tagihan dll. terbayar; Jangan andalkan ingatan, terutama saat kalian mumet. Kalau bisa pakai todolist online / elektronik yang ada autoremindernya. Microsoft Tasks sama Todoist bisa diset dengan sekedar nulis "Pay Electric bills every 10th". Dengan gitu tiap tanggal 10 muncul notifikasi di HP & laptop
- Selalu hapalkan shortcut atau pakai aplikasi yang mendukung banyak shortcut; Semakin sedikit langkah buat lakuin suatu hal, maka semakin sedikit pula fokus yang diperlukan. JANGAN biarkan suatu proses berlangsung terlalu lama, karena nanti kalian hilang fokusnya
- Selalu set handphone ke Do Not Disturb. Kalau bisa, JANGAN pernah pakai mode lain sama sekali. Kalau sering ditelpon orang lewat WA pas kerja, usahakan liat dari aplikasi Desktopnya aja. Yang lain bisa nunggu. Kalau orang beneran perlu, dia bakalan nelpon berkali2, jadi pasti keliatan
- JANGAN mulai hari dengan scroll. Kalau bisa jauhkan HP dari tempat tidur; Kalau tidak bisa, set alarm khusus untuk stop scrolling di pagi hari-
- Semua barang2 penting kayak kunci rumah, kunci kendaraan, dll., kalau bisa dipasangin ke karabiner ada talinya / yang bisa ditarik, & pasang ke celana atau tas yang selalu dipakai untuk kegiatan. Ini supaya gak kelupaan lokasi kunci
- Barang2 seperti gunting, alat potong kuku, dll, SEMUANYA kalau bisa dimasukkan ke 1 lokasi khusus. Kalau tak bisa, ikat dengan tali ke kaki meja; Ini supaya gak kelupaan letakin di mana
- Selalu sediakan kopi yang BISA SECEPATNYA dibikin. Ini supaya saat fokus menurun, kalian bisa cepat2 minum kopi sebelum terdistraksi oleh hal lain
- Selalu sediakan tempat khusus untuk hal2 apapun seperti baju kotor, dll. Jangan biarkan barang2 bertebaran di mana2. Dengan adanya 1 tempat khusus, kalian gak perlu mikir banyak2 lagi soal itu + Kalian lebih cepat menemukan barang. Ingat: Banyak mikir -> Distraksi -> Kerjaan jadi ga beres -> Mumet
- Kalau kalian susah fokus baca buku, coba ganti dengan audiobook / text-to-speech; Dengerin kontennya saat jalan / nyetrika / nyuci baju / beres2. Pas jalan, jumlah distraksi lebih kecil, jadi lebih mudah fokus dengan isi buku / teks
- Semua hal yang bisa dibuat otomatis, buatlah supaya otomatis. Kalau perlu nabung setiap gajian, set di aplikasi bank supaya transfer sekian uang ke rekening tabungan, atau set autodebet biar nyala. JANGAN mengandalkan niat pribadi; Tak ada yang bisa tau niat kita itu apa di masa gajian
- Kalau fokus masih rendah, pastikan kalian punya daftar kegiatan2 yang bisa dilakukan saat fokus rendah; Contoh: Beresin meja, beresin kamar, nyuci piring dll. Ini supaya saat fokus lagi tinggi2nya, kalian gak perlu habisin waktu buat lakuin kerjaan yang ga perlu banyak fokus
🚨 SERUAN UNTUK DUNIA 🚨
@UN@UNEP@WHO@WMO@UNHumanRights@UNFCCC@UNICEF@ASEAN@DrTedros@antonioguterres@Reuters@AP@BBCWorld@AFP@AJEnglish@CNN@guardian@nytimes@ChannelNewsAsia@SCMPNews@AlJazeera@Greenpeace@HRW@Amnesty@elonmusk
KEPADA PARA PEMIMPIN DUNIA, MEDIA INTERNASIONAL,
ORGANISASI LINGKUNGAN DAN KOMUNITAS GLOBAL
LIHATLAH INDONESIA.
BUKAN PIDATONYA.
ASAPNYA.
KALIMANTAN TERBAKAR.
SUMATRA TERBAKAR.
PEMERINTAH INDONESIA GAGAL MEMADAMKAN APINYA.
Selama berminggu-minggu, orang-orang hidup di dalam ruang gas yang ada benderanya.
Kebakaran hutan dan lahan.
Kabut asap tebal.
Udara beracun.
Ekosistem hancur.
Anak-anak sakit.
Sekolah ditutup.
Keluarga terjebak di rumah mereka sendiri.
Ini bukan "cuaca musiman."
Ini adalah kegagalan negara.
Data Indonesia sendiri mencatat sekitar 72.088 hektare terbakar
di enam provinsi prioritas hingga September 2026.
Pemerintah mengirim petugas pemadam, pesawat, water bombing,
dan modifikasi cuaca.
Dan apinya masih menyala.
Asapnya masih ada di paru-paru masyarakat.
Pemerintah masih meminta masyarakat untuk bersabar.
Reuters melaporkan lebih dari 113.000 kasus gangguan pernapasan
di tujuh provinsi terdampak antara 1–9 September.
Itu bukan statistik.
Itu adalah populasi yang dipaksa menghirup bencana
sementara pejabat mendaur ulang konferensi pers yang sama.
Asapnya telah melintasi perbatasan.
Malaysia menghirupnya.
Singapura menghirupnya.
ASEAN berpura-pura perbatasan bisa menghentikan asap.
MAKA TANYAKAN SATU-SATUNYA PERTANYAAN YANG PENTING:
SAMPAI KAPAN RAKYAT KALIMANTAN DAN SUMATRA
HARUS TERUS MENGHIRUP UDARA INI
KARENA JAKARTA TIDAK MAMPU MENGENDALIKAN TANAH YANG DIKLAIMNYA KUASAI?
DI MANA PERHATIAN INTERNASIONAL?
DI MANA KOMUNITAS LINGKUNGAN GLOBAL?
DI MANA TEKANAN YANG MUNCUL KETIKA AFRIKA TERBAKAR,
KETIKA AMAZON TERBAKAR,
KETIKA EROPA BANJIR
TAPI DIAM KETIKA YANG TERJADI ADALAH INDONESIA LAGI?
Mintalah pertanggungjawaban pemerintah Indonesia.
Bukan besok.
Sekarang.
Jika responsnya terlambat, katakan.
Jika penegakannya cuma lelucon, katakan.
Jika perusahaan membakar lahan demi keuntungan, sebutkan namanya.
Jika izin-izin dijual sementara hutan dikosongkan, selidiki.
Jika kementerian gagal mencegah bencana yang kembali setiap tahun,
jangan sebut itu takdir.
Sebut itu kelalaian.
JANGAN BIARKAN INI MENJADI NASKAH INDONESIA YANG SAMA
API
ASAP
KEMARAHAN
JANJI
HUJAN
DIAM
DAN TAHUN DEPAN MAYAT-MATAY POHON YANG SAMA
Kalimantan bukan lahan kosong yang menunggu peta konsesi.
Sumatra bukan zona pengorbanan untuk perkebunan dan tambang.
Hutan-hutan ini adalah rumah.
Sungai-sungai ini adalah kehidupan.
Orang-orang ini adalah warga negara, bukan tumbal.
Orangutan tidak bisa mengungsi.
Gajah tidak bisa mengajukan pengaduan.
Rangkong tidak bisa menunggu siklus anggaran berikutnya.
Anak-anak tidak bisa memilih udara yang lebih bersih.
Orang miskin tidak bisa pindah ke hotel dengan alat pemurni udara.
KEPADA PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
@UN@UNEP@UNHumanRights@UNFCCC@UNICEF
Berhentilah memperlakukan ini sebagai ketidaknyamanan lokal.
Kirim perhatian. Kirim tekanan. Kirim pertanyaan yang tidak bisa dihindari Jakarta.
KEPADA ORGANISASI KESEHATAN DUNIA
@WHO@DrTedros
Hitung paru-parunya, bukan siaran persnya.
KEPADA ORGANISASI METEOROLOGI DUNIA
@WMO
Terus tunjukkan asap yang ingin disebut pemerintah sebagai "kabut."
KEPADA ASEAN
@ASEAN
Kabut asap lintas batas bukan diplomasi.
Itu adalah tetangga yang mengekspor racun.
KEPADA MEDIA INTERNASIONAL
@Reuters@AP@BBCWorld@AFP@AJEnglish@CNN@guardian@nytimes@ChannelNewsAsia@SCMPNews@AlJazeera
DATANGLAH KE KALIMANTAN.
DATANGLAH KE SUMATRA.
JANGAN HANYA MEWAWANCARAI MENTERI-MENTERI DI JAKARTA.
Bicaralah dengan keluarga-keluarga.
Bicaralah dengan petugas pemadam.
Bicaralah dengan guru-guru yang menutup sekolah.
Bicaralah dengan orang tua yang melakban jendela
dan masih terbangun dengan batuk.
Hard pill to swallow tp empati gk bisa dilatih cuma dari baca buku. Even lo baca ratusan fiksi, tp kalo lo gk melihat realita, berusaha memahami, dan ingin terus mengasah emosi tsb, lo cuma akan melihat hal2 di buku-buku fiksi sebagaimana adanya aja; fiksi.
sedih banget lihat orang dewasa nyaman dehumanizing anak kecil karena nangis, rewel, atau tantrum. so many of us grew up carrying trauma karena dulu ada orang dewasa yang gak cukup sabar memahami bahwa we were literally just children.
anak kecil belum ngerti cara regulate emosinya, tubuh dan otaknya masih berkembang. tapi mereka dihukum karena gagal melakukan sesuatu yang emang belum mampu mereka lakukan.
and the saddest part is, some children spend the rest of their lives healing from how adults treated them for simply behaving like children.
kayaknya konsep “it takes a village to raise a child” sering disalahpahami sebagai “everyone must babysit my child” padahal bukan itu maksudnya. a child is going to encounter many humans while growing up, and those interactions inevitably become part of their development. (cont.)
Kayaknya papernya nggak bahas tentang itu deh, gak ada tulisan deep talk atau pdkt deh, sepenangkapanku kan, I'm all ears, kan kasusnya mendengarkan curhatan emosional seorang teman bisa memenuhi kebutuhannya untuk terhubung.
Tips lancar PDKT: banyak-banyakin deep talk.
Ketika ada 2 orang yang nggak saling kenal, lalu disuruh ngobrol bergantian tentang hal personal, mereka akan cenderung untuk lebih suka satu sama lain
Cobain deh
Sebenernya nggak ada orang yang ingin suicide sih,, itu tuh hanya pilihan terakhir ketika udah hopeless dan struggle banget. Please lah empati dikit, gak semua hal harus toxic posivity, dan gak semua orang punya sesuatu yang bisa jadi jangkar buat tetap waras. Temani mereka kek.
Jangan normalisasi suicide, normalisasi mikir jauh ke depan. Mikir orang yang sayang kalian entah itu ortu atau sodara, kalau pun ga ada temen juga bisa. Pikirin itu semua dan mikir gimana cara bahagiain mereka dengan masa depan cerahmu itu :((