Kecurangan jelang pencoblosan Pilpres 2024 yang diungkap dalam film dokumenter Dirty Vote bukanlah omong kosong. Liputan Khusus kumparan telah mengulas rangkaian kecurangan tersebut secara kontinyu sejak 2022, dalam lebih dari 22 edisi yang terbit.
Rentetan kecurangan sistemik itu berpusar pada satu hal: upaya penguasa mempertahankan kekuasaannya. Selengkapnya di “Demi Kekuasaan: Mengurai Kecurangan Sistemik di Pilpres 2024” hanya di YouTube kumparan. #demikekuasaan
https://t.co/FKdMSUQt5I
Kalian bisa gak sih ngebayangin tinggal di sebuah negara yang jika ada pengkritik, langsung dilaporin?
Guru besar kampus aja digituin, apalagi rakyat jelata?
Polisi bicara harga beras naik.
Menko Ekonomi bicara kampanye hitam Dirty Vote.
Menko Marives bicara dalang aksi guru besar.
Menhan bicara tanam singkong tumbuh jagung.
Ya Tuhan jangan terlalu lama hambaMu dihukum dgn kelucuan yg edan ini. Kembalikan kewarasan pemimpin kami.
Kalo ada orang kritik pemerintah, yg dibahas malah:
"Kepantasan mreka kenapa mreka mengeluarkan pendapat itu dan mreka ada di kubu mana"
Itu salah satu alasan saya kuliah terus sampe s3.
Biar ga ditanya2 kalo suatu saat kritik
"Emang Kamu siapa kritik2 pemerintah"
@zarryhendrik Doktor Ahli Tata Negara dari Universitas yg tervalidasi bilang Fakta vs Buzzer dibayar bilang Fitnah. Percaya mana, ya tergantung makanannya suka yg gratisan apa yg suka ngasih makan gratis
Hidup di era orang-orang meragukan akademisi namun manut pada ucap selebriti. Akankah ada masa kita sampai pada titik: sekolah tidak penting, yang penting fyp?!
Pendukung 02 panik sm film Dirty Vote, teriak film fitnah.
Krn itu kubu 02 berusaha framing film tersebut adlh pesanan 03 dgn memberi bukti kalo pemain film tersebut adlh tim percepatan reformasi hukum prof Mahfud. Mereka lupa tim tersebut dibentuk atas perintah @jokowi.
Kubu 02 malah blunder, framing mereka malah makin membuktikan pemain2 film tersebut adlh orang-orang benar.
Orang bungul kalo panik makin bungul.
@VeronicaKoman Ini keren nih kak, harusnya memang kita masif posting potongan2 fakta itu, di semua medsos, apakah mereka bisa membantah atau hanya bilang; masa tenang, film sampah, provokasi, dll