CERITA TURUN-TEMURUN
TENTANG WAJAH & NASIB ANAK
1. Wajah anak pertama dipercaya mencerminkan siapa yang jatuh cinta lebih dulu. Konon, raut wajahnya mengikuti pihak yang lebih dahulu menaruh rasa.
2. Anak pertama laki-laki yang mirip ibunya. Dipercaya sangat baik, lembut, dan membawa kesejukan dalam keluarga.
3. Anak pertama perempuan yang mirip ayahnya. Dianggap membawa keberuntungan dan rezeki bagi keluarga.
4. Anak pertama laki-laki yang sangat mirip ayahnya. Konon rawan pertentangan dengan ayah karena karakter yang sama kuatnya.
5. Anak pertama perempuan yang mirip ibunya. Kata orang dulu, sering terjadi adu pendapat atau perdebatan dengan ibunya.
• 🟢 Hijau: Orang tersebut tidak menyimpan nomor kamu di kontaknya
• 🔵 Biru: Orang tersebut pernah memblokir kamu sebelumnya
• 🔴 Merah: Muncul untuk orang yang kamu jarang banget chat dengannya
• 🟢 Hijau muda: Orang yang dulu sering chat tapi sekarang komunikasinya berkurang
Siapa yang baru tau perbedaan contact whatsapp?
Alkisah, seorang lelaki tengah menempuh sebuah perjalanan bersama istri dan anak-anaknya.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu sosok yang memperkenalkan diri sebagai harta. Setelah berdiskusi, keluarga itu sepakat mengajaknya ikut serta, dengan harapan harta dapat memudahkan kehidupan mereka. Perjalanan pun berlanjut, hingga mereka bertemu kekuasaan dan jabatan. Tanpa ragu, keduanya juga diajak bergabung, dengan keyakinan bahwa bersama mereka, segala keinginan akan lebih mudah terwujud.
Waktu terus berjalan, hingga mereka bertemu berbagai kesenangan dunia lainnya. Semuanya diterima tanpa banyak pertimbangan, seolah setiap yang menyenangkan layak untuk dibawa dalam perjalanan itu.
Namun ketika agama datang, sikap mereka berubah. “Belum waktunya,” kata mereka serempak, “kami masih ingin menikmati dunia. Agama akan membatasi kami.” Maka agama pun ditinggalkan, dengan janji akan kembali suatu saat nanti.
Hingga akhirnya, di ujung perjalanan, mereka tiba di sebuah pos pemeriksaan bertuliskan “Berhenti”. Lelaki itu diminta turun dari kendaraannya. Di sana, kematian menyambutnya dan bertanya apakah ia membawa agama bersamanya. Dengan panik, ia mengakui bahwa agama telah lama ia tinggalkan, lalu memohon agar diberi kesempatan untuk kembali mengambilnya. Namun, kematian pun menjawab dengan tegas, “Perjalananmu telah berakhir. Tidak ada jalan untuk kembali.”
Saat itu ia tersadar, jika harta, kekuasaan, dan jabatan yang selama ini ia bawa tidak mampu menolongnya sedikit pun di akhirat. Semuanya akan ia tinggalkan, sebagaimana dahulu ia meninggalkan agamanya.
Perjalanan lelaki itu pun berakhir, sementara kendaraan yang membawa istri, anak-anak, harta, dan segala kenikmatan dunia tetap melaju tanpa dirinya.
Sesungguhnya, Allah Swt telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Sesungguhnya, pada hari kiamatlah disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Dan, kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran [3]: 185).
“Obat untuk setiap penyakit adalah kebalikan dari penyebabnya.”
—Imam al-Ghazali
Sakit karena sombong, obatnya merunduk. Sakit karena bakhil, obatnya memberi. Sakit karena ambisi dunia, obatnya mengingat kematian.
Pesan ini memang sederhana dalam tulisan, tapi butuh seumur hidup untuk mengaplikasikannya.
Zaman akhir, fitnah bukan lagi sekedar dusta yang diucapkan, tapi juga kebohongan yang dibungkus seolah paling benar.
Yang jujur kadang dicurigai, yang ramai sering dianggap paling suci, dan yang diam belum tentu tak terluka.
Ditengah banyaknya fitnah,
jaga lisan, kuatkan hati, dan jangan mudah menelan cerita sebelum tabayyun.
Karena di akhir zaman, menjaga diri agar tetap waras dan beriman pun sudah termasuk perjuangan.”
Ada hadis dari Nabi Muhammad ﷺ:
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya...”
orang dusta dipercaya, orang jujur didustakan.
Sunan Ibnu Majah
Al-Qur’an juga mengingatkan:
“Jika datang orang fasik membawa berita, maka telitilah dahulu...”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Kadang fitnah hari ini bukan hanya lewat mulut, tapi lewat jempol, potongan video, dan komentar yang dibagikan tanpa berpikir panjang.
Perbedaan Plh., Plt., Pjs., dan Pj ada pada konteks.
- Plh. menjalankan tugas harian pejabat yang berhalangan sementara.
- Plt. menjalankan tugas pejabat yang berhalangan tetap.
- Pjs. khusus menjalankan tugas kepala daerah yang cuti sementara, misalnya saat kampanye.
- Pj mengisi kekosongan sampai pejabat definitif terpilih.
Perhatikan, ada perbedaan antara "pejabat" dan "penjabat".
liburan di Jogja dapat penginapan semurah ini 280k udah include sewa motornya juga 😭🫶🏻
ada dapurnya, tempatnya bersih, asri & nyaman banget berasa lagi nginep di rumah nenek...
Bertahun-tahun hidup tenang tanpa semut, kemarin kaget ada semut lewat di meja makan. Baru ingat saya belum aplikasiin cairan ajaib ini di kaki meja dan jalur tembok. Saking ampuhnya sampai bikin saya lupa jadwal karena efeknya emang seawet itu.