Baiklah kan kumanfaatkan Twitter selama dia masih hidup untuk promosi 😬
Teman-teman, daku menulis sebuah buku kumpulan cerpen slice-of-life berlatar perkantoran urban. Cerita-cerita di sini kutulis sepanjang 2017-2022. Ada pembuka, 11 cerita pendek, dan penutup.
pendidikan itu public goods ya mentemen. kalo ada yg ngamuk biaya pendidikan mahal responsnya jangan "ya brarti targetnya bukan elo". GAK BEGITU YA. udah KEWAJIBAN pemerintah menyediakan aksesibilitas pendidikan buat seluruh LAPISAN MASYARAKATNYA, TANPA TERKECUALI.
Kayaknya emang maks beli 4 tiket tuh berlebihan deh. Banyak banget yang aji mumpung ngecalo. Gue yang cuma lihat twit jualinnya aja sakit hati, apalagi yang nggak kebagian tiket dan war sendiri. Gue pikir tadinya tuh yang co 4 tiket tuh gotong royong mau bantu sesama huf aku naif
Terima kasih untuk semua yang sudah bantu menyebarkan info dan mendoakan. Alhamdulillah Abah sudah ditemukan dan berkumpul kembali dengan keluarganya 😊🙏
Semoga kita juga selalu dalam lindungan Allah Swt.
Teman-teman, mohon bantuan. Abahnya PRT-ku hilang jejak. Jam 11 pagi berangkat naik bus mau ke Jakarta harusnya pukul 15 sampai di Pasar Rebo, tapi ditungguin nggak muncul. HP tidak aktif. Berangkat pakai baju safari, celana cokelat, dan peci. Namanya Abah Eman. 🙏
Nggak tenang banget kayak nyampur semua di kepala. Abahnya si teteh belum ketemu, harus solo parenting balita karena suami kerja, dan mau berjuang beli tiket BTS Arirang. Terpaksa anak bolos kelas, dikasih screentime dulu, masak yang gampang dan beli makan dari tetangga dulu.
Sudah masuk usianya anak tantrum karena nggak dibeliin mainan 😱
Alhamdulillah tadi ada toko buku. Karena dia tiba-tiba berhenti ngamuk pas lihat ada sampel buku hewan-hewan dan dinosaurus. Diambil bukunya dan napasnya menenang, lalu serius membaca 😮💨
Kok orang tuh suka nggak sadar ya saat ngotot sama kepentingan dirinya sendiri tuh dia ngorbanin orang lain? Bukannya nyari win-win solution malah maunya winning dewean 😮💨
Hari kedua anak terapi sensori integrasi dan mulai ditinggal berdua saja sama terapisnya. Kirain bakal nangis nyari-nyariin akyu, tahunya "babaaii" di depan pintu lalu kudengar suaranya heboh kayak pas main biasa. Mama bisa chill kerja deh hehe
Gue dan suami kehilangan oom yang dari kami remaja selalu kami minta kebijaksanaan dan nasihatnya. Gila sih ini rasa dukanya ternyata sedalam ini. Allah sudah rindu sama Oom Mirza, semoga jalan Oom terang ke sisi-Nya.
Kayak keluarga gue yang lain even ortu gue tuh nggak terlalu mikirin gue bisanya apa, sukanya apa. Namun almarhum peduli. Bahkan ia bukan oom langsung, melainkan Oom-nya suami gue. Oom yang ngasih banyak inspirasi buat suami gue juga dari kecil. Gila ini gue sedih banget rasanya
Mungkin yang bikin sedih juga karena gue kehilangan sosok yang nyemangatin gue nulis & punya minat yang sama (buku & sejarah) dalam keluarga besar. Salah satu orang yang bilang gue berbakat padahal guenya ga pede. Selalu dorong gue untuk bikin buku sendiri.
Haha, ada kecenderungan aneh di diskusi sastra kita. Pengalaman middle-upper urban sering dianggap “kurang valid” buat dibaca serius, seolah suffering adalah satu-satunya jalan menuju depth. Padahal pertanyaan pentingnya bukan “tokohnya kaya apa nggak”, tapi what kind of world is this text trying to capture?
Metropop emang nggak selalu politically radical. Tapi kalau langsung direduksi jadi “fantasi hedon orang Jakarta”, itu juga lazy reading. Karena urban life modern sendiri emang penuh performance, konsumsi, career pressure, transactional relationship, sampai emotional alienation yang dibungkus lifestyle estetik. Dan itu social reality juga, bukan sekadar aesthetic decoration.
Terkait “membuka wawasan”, perspektif nggak selalu datang dari kritik sistem yang loud dan eksplisit. Kadang datang dari hal yang lebih subtle, kek perempuan yang baru lihat possibility hidup di luar domestifikasi, pembaca daerah yang ngelihat ritme hidup kota, atau orang yang baru sadar kalau privilege ternyata nggak otomatis bikin hidup less lonely.
Cuma mau bilang, kadang kita terlalu cepat nyebut pengalaman yang jauh dari hidup kita sebagai “dangkal”. Padahal bukannya itu justru fungsi membaca? buat ngerti dunia yang bukan punya kita.
Kok kita tuh santai banget sih
1. Negara dengan mata uang terendah ke 5 di dunia
2. Bekasi jadi kota paling beracun ke 2 di dunia
3. Rupiah di angka Rp. 17.377
4. Total 33.626 pelajar keracunan MBG
and the list still go on, we're not angry enough 🙂
Otak gue sudah di level survival dan ketakutan tinggal di negara ini. Lalu baca debat skena buku hari ini, bener-bener jadi pengen ngelempar ompreng embegg.