@psisfcofficial hari ini ulang tahun yang ke-88. Belakangan saya menapaktilasi berbagai jejak sejarah PSIS Semarang.Mulai dari stadion, julukan hingga pemain asing pertama dan sosok yang berjasa besar di baliknya. Ke depan akan ada banyak hal lagi yang akan saya ulas
Sebuah utas
Betul. Saya juga nggak melihat Anderson sebagai CDM. Tapi lebih ke nomor 8. Dia jago distribusi bola tapi bukan pemutus serangan yang kokoh. Dari berbagai nama yang diisukan, yang paling saya idamkan justru Sandro Tonali
1. MU sudah ada Mainoo yang sebenernya peran Anderson bisa diambil olehnya
2. melihat dirinya sedang naik daun sudah pasti harganya mahal
3. Gaya mainnya dibutuhkan City sebagai pengganti Bernardo Silva
4. MU butuh dm murni yang jago pressing,pemutus serangan lawan seperti Casemiro sedangkan Anderson memang ada atribut tersebut namun dirinya lebih ke 6/8 takut tidak seimbang jika distrateginya Carrick
5. Statistic menunjukan kontribursi bertahan Anderson salah satu tertinggi seorang ball winner akan tetapi ia juga ikut progresi bola kedepan yg jadi peran Mainoo untuk atur tempo
6. Mungkin City lebih cocok melihat cover area Anderson luas dan bisa bantu nyerang sebagai kreator
fenomena banyak cowo bingung di 2026 ini juga salah pemerintah
rupiah melemah > cowo makin pusing cari uang > wedding dream susah dicapai > cowo bingung
fix
Casemiro berkali-kali menegaskan bahwa Michael Carrick layak mendapat pekerjaan ini. Tapi alasan yang paling menarik bukan soal taktik.
Melainkan karena Carrick benar-benar memahami Manchester United.
Dalam interview bersama Rio Ferdinand, Casemiro cerita hal unik yang dia alami bersama Carrick, dimana saat jelang laga kontra Leeds United, Carrick sempat mengadakan meeting khusus bersama seluruh tim untuk menjelaskan sebesar apa pertandingan itu bagi supporter.
Carrick menceritakan bahwa game itu bukan cuma soal 3 poin doang. Carrick menjelaskan sejarah panjang rivalitas dua kota, tensi yang diwariskan turun-temurun, dan kenapa pertandingan itu punya makna emosional besar bagi suporter.
Hal-hal seperti ini mungkin terdengar sepele. Tapi banyak pemain modern datang dari berbagai negara dan belum tentu tumbuh besar memahami kultur klub. Bagi mereka, itu mungkin hanya “another game”.
Padahal untuk fans, pertandingan seperti Leeds vs United membawa beban sejarah, emosi, dan identitas yang jauh lebih besar dari sekadar sepak bola.
Dan sepertinya, detail-detail seperti ini yang membuat Casemiro mendukung Carrick untuk dipermanenkan.
#utdfocusid
Ada sesuatu yang gue suka dari pemain kayak Casemiro. Bukan cuma soal trofi, mentalitas juara, atau kualitasnya di lapangan doang, tapi cara dia menghargai profesinya.
Gue masih inget banget waktu interview perdananya bareng Manchester United. Dia minta maaf ke fans karena belum bisa bahasa Inggris, lalu bilang kalau dia bakal belajar secepat mungkin demi tanggung jawab dan supaya adaptasinya lebih mudah.
Dan beberapa tahun kemudian, dia benar-benar nepatin omongannya.
Baru kelar nonton wawancaranya bareng Rio Ferdinand, dan honestly cukup surprise sama perkembangan bahasa Inggrisnya. Memang belum sempurna, kadang masih nyari kata atau struktur kalimatnya belum rapi, tapi dia bisa menyampaikan isi pikirannya dengan jelas dan cukup natural. Itu gak mudah, apalagi belajar bahasa baru di usia yang udah gak muda lagi sambil tetap main di level tertinggi sepak bola.
Hal kecil kayak gini kadang bikin respect gue ke pemain naik berkali-kali lipat. Karena itu nunjukin kalau dia gak cuman dateng doang, main bola, lalu selesai. Ada usaha untuk benar-benar beradaptasi, connect sama lingkungan baru, dan keluar dari zona nyamannya dia.
#utdfocusid