‼️
ديك أدفوكات، أكبر مدرب في تاريخ كأس العالم بعمر 78 عامًا، دخل في نوبة بكاء قبل مباراة كوراساو وألمانيا 🥹
كان قد تنحّى عن منصبه بعد تأهل كوراساو إلى كأس العالم ليتفرغ لرعاية ابنته المريضة، قبل أن يعود في اللحظات الأخيرة لقيادة المنتخب.
لحظة مؤثرة وعميقة لشخص عاش كل شيء تقريبًا في عالم كرة القدم 🇨🇼.
أكثر من مجرد لعبه ❤️
Di video ini content creator bernama Manangsoebeti (seorang anggota polis) mengingatkan kita agar tidak mudah tergiur utang melalui pinjol.
Jangan mudah tergiur bunga yang seakan kecil 0,3% per hari. Karena jika dihitung per bulan akan ada di angka 9% per bulan. Jika dikali 6 bulan jangka waktu cicilan, akan menghasilkan angka 54%.
Dalam videonya ia mencontohkan orang yang mengambil pinjol di angka Rp31jt, jika dibayar dalam 6 bulan totalnya mencapai Rp49,9jt.
Jadi bunganya sebesar kurang lebih Rp18jt, lebih dari 50% pokok.
@David_Ornside Van der Sar, Van Der Gouw, Jaap Stam, Buttner, Malacia, van Persi, Nistelrooy, Van De Beek, Depay, Mohren, Jordi Cruyff, Blind, Chong, Fosu mensah, Weghorst
Adhyaksa Dault, mantan Menpora 2004–2009, marah mahasiswa pakai kata keras soal kebijakan Prabowo. Katanya: tidak boleh, tidak sopan, istigfar.
Pertanyaannya satu:
Kata keras mana yang lebih merusak , mahasiswa yang frustrasi setelah kajian akademiknya diabaikan, atau kebijakan yang membiarkan vendor tanpa bengkel menang proyek Rp1 triliun dari uang rakyat?
Kalau yang diprotes adalah diksi, bukan 5 tersangka korupsi MBG yang ditetapkan Kejagung 12 Juni 2026 ,berarti yang berhasil dialihkan bukan mahasiswanya, tapi perhatian publiknya.
Dalam setiap pidatonya, prabowo kerap mengatakan,
"Siap mati demi rakyat"
"Membela kepentingan rakyat"
"Semua demi kebaikan rakyat", dsj.
Apakah semuanya ada yang terbukti? Belum. Ndak ada. Rakyat yang mana?
Sedangkan Tiyo, ia hanya mengenakan 1 kaus, dan hanya ia kenakan kurang dari 1 tahun, namun tulisan pada kaus rupanya terbukti dengan amat sangat akurat. Presisi.
Kalau benar program Chromebook ini disebut “berhasil”, mari kita uji dengan pertanyaan paling sederhana:
Berapa persen sebenarnya siswa dan guru yang memakai Chromebook itu SETIAP HARI dalam kegiatan belajar mengajar?
Malaysia saja tingkat adaptasinya disebut kurang dari 5%. Lalu Indonesia yang infrastruktur, kesiapan guru, dan ekosistem digitalnya jauh lebih timpang… benar-benar yakin sukses?
Coba datang langsung ke sekolah-sekolah penerima hibah.
Berapa unit yang masih dipakai? Berapa yang tersimpan di lemari? Berapa yang rusak? Berapa guru yang benar-benar mengintegrasikannya ke pembelajaran?
Masalah terbesar kebijakan pendidikan kita sering kali bukan niatnya.
Tapi kebiasaan mengukur “keberhasilan” dari jumlah barang yang dibeli, bukan dari dampak nyata di ruang kelas.
Pendidikan bukan proyek distribusi perangkat.Pendidikan adalah perubahan perilaku belajar.
This is not mine. This is yours. This is ours.
From all the players, staff and everyone involved in the club, to you guys who supported us every single day of the season.
Grateful for your love and support ❤️
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.