one of the best advice
i can give you
about social media
is to post what you wanna attract
want more music pals?
post about music stuff
want guitarist friends?
post guitar videos & tweets
want more positivity?
post positive tweets
attract what you want more of in your life
Ada dua alasan mengapa seseorang harus pasrah kepada Tuhannya.
Pertama: karena dia tidak pernah tahu apa yang terbaik bagi dirinya.
Kedua: dia tidak memiliki kekuatan apapun kecuali kehendak Allah.
Selalu pegang pesanan ini :
“Apa yang sudah dimiliki jangan lupa dijaga, apa yang sudah dirasa cukup jangan lagi mencari, dan apa yang sudah disepakati jangan cuba-cuba untuk ingkari.”
Cicak tak boleh terbang, tapi rezeki dia lalat.
Kucing tak boleh menyelam, tapi rezeki dia ikan.
Lalu kenapa manusia, masih ragu-ragu dengan rezeki?
- Some random guy on Tiktok
Kenapa Allah sebut dalam Surah Yunus itu runutannya “mau‘izhah” dulu baru “syifā’?
Karena banyak penyakit batin itu sembuh setelah hatinya “mau” dinasihati
Kalau orang benci nasihat, keras kepala, denial, atau mencari pembenaran, sampai kapanpun “obat”nya engga akan “masuk”
Pain reminds us we’re not in control. It humbles us. And it also reminds us, we’re not alone.
Allah sees every silent tear. He’s already written the ease, even if you can’t feel it yet.
Pain is a call to return to Him. He’s closer than your jugular vein.
Jenazah Nakes di Jok Motor, Tetesan Air Mata di Tikungan Terjal
(Kisah Nyata dari Pinembani, Donggala, 2025)
Kamu, jangan kaget...
Kalau hari ini bukan cuma air mata yang jatuh,
tapi juga harga diri kita sebagai manusia,
sebagai bangsa yang katanya sudah merdeka.
Ini bukan cerita tentang perang atau politik,
bukan pula kabar reshuffle atau harga BBM.
Ini adalah kisah satu tubuh yang tak lagi bernyawa,
namun masih harus “berjuang” pulang,
melewati tanah yang bahkan tak layak disebut jalan.
Seorang tenaga kesehatan,
ASN BKKBN yang gugur di pelosok Kecamatan Pinembani,
Sulawesi Tengah.
di titik yang mungkin tak pernah muncul di Google Maps,
dan tak masuk agenda kunjungan siapa pun yang memakai dasi.
Ia tidak wafat karena virus.
Bukan karena bom.
Tapi karena kelelahan di medan pengabdian,
di mana puskesmas hanyalah bangunan tanpa sinyal,
dan ambulans menyerah sebelum mencoba.
Tubuhnya dibungkus kain jarik.
Dibonceng di jok belakang sepeda motor.
Diikat dan disangga kayu agar tetap duduk tegak.
Tegak... bahkan setelah mati.
Seolah ia masih ingin jaga wibawa sebagai abdi negara,
meski negara tak sanggup memberinya jalan pulang yang layak.
Satu motor, dua nyawa.
Yang satu bernapas, yang satu sudah kembali.
Tapi keduanya pejuang.
Yang satu mengantar, yang satu memberi pesan tanpa kata.
Pesan tentang negeri yang katanya maju,
tapi masih kalah dari semangat mereka yang hidup dengan sandal jepit dan niat suci.
Dan lihat jalan itu…
tanah becek, berlumpur, seperti luka yang tak sembuh-sembuh.
Aspal hanya mimpi.
Jembatan adalah wacana.
Dan perhatian pemerintah?
Mungkin sedang sibuk update story.
“Sudah 2025, tapi jalan ke kampung kami masih setengah takdir, setengah harapan,”
tulis seorang warga.
“Kalau nggak viral, nggak bakal dibangun,”
sindir netizen lain dengan getir.
Begitulah.
Negeri ini lebih takut masuk FYP daripada masuk neraka.
Lebih gesit membangun plang peresmian
daripada membangun jalan bagi mereka yang mengantar nyawa.
Tapi jangan salah.
Ini bukan hanya kisah duka.
Ini adalah potret keagungan.
Keperkasaan yang tak dipoles kamera.
Sebab di tengah segala kekurangan,
masih ada nakes yang rela berjalan jauh demi imunisasi bayi.
Masih ada yang menggendong harapan, bukan sekadar jabatan.
Dan ketika mereka gugur,
mereka tidak menuntut upacara.
Mereka hanya ingin satu hal:
jalan pulang yang layak.
Namun hari itu, jalan pulang pun harus dititipkan
pada suara knalpot, pada rem cakram yang bergetar.
Tak ada sirine.
Hanya sunyi, dan air mata yang tercecer di setiap tikungan.
Kepada engkau yang duduk di balik meja kekuasaan,
dengarlah jerit dalam diam ini.
Dengarlah suara motor itu—
karena itu bukan sekadar mesin,
itu adalah tangisan bangsa yang tersesat arah pembangunan.
Dan kepada almarhum…
Maafkan kami.
Kami tidak sempat mengantarmu dengan ambulans.
Kami tidak punya karangan bunga.
Tapi izinkan kami menyampaikan ini:
"Terima kasih, karena engkau tetap tegak
bahkan saat dunia telah melepaskanmu.
Engkau bukan hanya tenaga kesehatan.
Engkau adalah nurani kami yang masih hidup—
dan menampar kami yang terlalu sibuk update,
tapi lupa membangun yang paling dasar:
jalan kemanusiaan."
Semoga jalanmu di sana lapang.
Karena di sini,
jalan masih harus numpang viral dulu.
Buat temen-temen yang sekarang lagi ragu,
“Gue lanjut ngonten atau berhenti aja?”
Gue bikin panduan gratis biar lo bisa bedain:
lo lagi di The Dip (harus ditembus) atau emang udah waktunya stop.
Follow lalu, komen/retweet nanti gue kirim link downloadnya via DM.
Rules yg g bisa dianggap remeh:
"Kalo bisa selesai dalam 10 menit, lakukan sekarang."
Pegang rules ini, kamu bisa lepas dari penyakit menunda2 pekerjaan.