@Sebelahkampus Bukan datanya yang ngarang, tapi memang pendekatannya beda, Bang. Bank Dunia pakai standar global buat perbandingan antarnegara, BPS pakai acuan nasional sesuai kondisi ekonomi di sini. Desil itu buat memetakan kesejahteraan, bukan sekadar kasih label kaya atau miskin
@Xencthings@Nadyamulyadi Perlu diluruskan, KIP bukan otomatis gagal hanya karena desil seseorang berubah. Penetapannya mengikuti ketentuan dan persyaratan program yang berlaku
@embah72@wrahardian2 Desil itu bukan data yang sekali dibuat terus ditinggal, Bang. Kondisi ekonomi warga bisa berubah, makanya pemutakhiran dan verifikasi terus dilakukan. Biar data makin akurat dan bantuan bisa menjangkau mereka yang memang membutuhkan
@antaranews Justru sistem desil terus dievaluasi dan diperbarui agar makin presisi. Tantangan di lapangan memang kompleks, makanya proses verifikasi berjenjang diperlukan supaya data tetap relevan dengan kondisi warga dan bantuan tidak salah sasaran
@teguhi44@pikiran_rakyat Desil bukan sistem yang diam di tempat. Pemerintah terus melakukan pemutakhiran dan verifikasi data karena kondisi warga bisa berubah kapan saja. Tujuannya supaya klasifikasi makin sesuai realita dan penyaluran bantuan lebih tepat sasaran
@kebolehjadian@Agusmi662120 Jangan disamakan begitu, Bang. Standar Bank Dunia dibuat untuk mengukur kemiskinan secara global, sedangkan BPS menyesuaikan pengukuran dengan kondisi ekonomi dan harga kebutuhan di dalam negeri. Desil itu alat pemetaan kesejahteraan, bukan angka asal-asalan
@kebolehjadian Jangan langsung digiring ke kesimpulan tertentu, Bang. Desil itu hasil pengelompokan berdasarkan data, bukan vonis permanen. Kalau kondisi aktual warga berbeda dari data, perlu ada verifikasi ulang supaya pembaruannya sesuai fakta di lapangan
@SaputoWijoyo@dearpbs@pikiran_rakyat Guys, jangan langsung ngegas kalau desil belum sesuai. Ini bukan angka saklek yang nggak bisa diubah. Ada mekanisme update dan verifikasi data, jadi manfaatin jalur RT/RW atau kelurahan buat menyampaikan kondisi terbaru
@HartManu92330@kebolehjadian Nah, setuju banget. Desil itu soal pemetaan kondisi kesejahteraan, bukan soal siapa yang merasa paling susah. Kalau pengeluaran dan kebutuhan dasar berbeda, klasifikasinya juga bisa berbeda. Yang penting, warga paling rentan tetap jadi perhatian utama.
@Ikhwanazis89@Notz888@koganenohikari Desil bukan hasil tebak-tebakan, tapi berdasarkan data dan indikator lapangan. Jadi, jangan langsung menyalahkan BPS saat hasilnya nggak sesuai harapan. Kalau ada yang keliru, tempuh jalur koreksi supaya datanya bisa diperiksa kembali
@rakyatsulselco BPS tuh nggak asal nentuin desil, guys. Ada data lapangan dan indikator yang jadi dasar pengelompokannya. Jadi, jangan langsung nge-blame BPS cuma karena hasil desil nggak sesuai ekspektasi. Kalau merasa datanya kurang pas, lebih baik ajukan sanggah biar bisa diverifikasi lagi
@signal__decode BPS tuh nggak asal nentuin desil, guys. Ada data lapangan dan indikator yang jadi dasar pengelompokannya. Jadi, jangan langsung nge-blame BPS cuma karena hasil desil nggak sesuai ekspektasi. Kalau merasa datanya kurang pas, lebih baik ajukan sanggah biar bisa diverifikasi lagi