Guys ini yang paling bikin gw marah dan sedih sekaligus hari ini.
Beberapa jam yang lalu Trump bilang ke kapal kapal tanker minyak masuk aja ke Selat Hormuz. Abaikan ancaman Iran. Jangan takut.
Beberapa jam setelah itu sebuah tanker minyak dilaporkan diserang dan hancur oleh Iran di Teluk Persia tepat setelah melewati Selat Hormuz.
Baca itu lagi pelan pelan.
Trump kasih saran. Kapal nurut. Kapal kena serangan.
Ini bukan keputusan militer yang salah di ruang strategi yang tertutup. Ini pernyataan publik dari presiden Amerika yang didengar oleh kapten kapal, pemilik kapal, dan kru yang ada di dalamnya.
Dan sekarang ada orang yang mungkin mati karena saran itu.
Yang paling bikin gw geleng geleng adalah logika di balik pernyataan Trump itu.
Dia basically bilang Iran tidak akan berani. Bluff mereka. Masuk aja.
Tapi Iran udah buktikan berkali kali bahwa mereka tidak bluffing. Mereka serang bandara Dubai. Mereka tembus iron dome Israel. Mereka tutup Selat Hormuz. Mereka serang kapal Thailand yang bahkan tidak ada hubungannya dengan perang ini.
Dan Trump masih bilang abaikan ancaman mereka.
Ini bukan keberanian. Ini kelalaian.
Karena yang nanggung resikonya bukan Trump. Dia aman di Washington. Yang nanggung resikonya adalah kru kapal yang percaya sama ucapan presidennya dan memutuskan untuk masuk ke zona yang terbukti berbahaya.
Dan ini realita yang paling pahit dari semua kekacauan ini.
Pemimpin yang bicara besar dari kursi yang aman tidak pernah yang bayar harganya.
Yang bayar selalu orang biasa yang percaya sama kata katanya."
Setelah 7 bulan ditahan, Pak Tom Lembong terheran-heran krn beliau ditahan bukan karena melanggar aturan tp krn dianggap melakukan hal yang tidak layak, yaitu telah mengimpor gula mentah walau hal itu tidak merugikan negara!
Pelawak aja kalah lucunya sama kalian @KejaksaanRI 🤣
Trading Halt dan Potensi Lengsernya Prabowo
18 Maret 2025 menjadi hari yang mungkin akan dicatat sebagai sejarah bagi banyak orang di Indonesia, khususnya pelaku saham. Pada pukul 11:19 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 5%, turun 325,03 poin ke angka 6.146,91. Atas anjloknya harga saham, BEI harus menghentikan perdagangan sementara (trading halt), sesuatu yang terakhir kali terjadi saat pandemi COVID-19 melanda di Maret 2020.
Bayangkan, pasar saham yang biasanya ramai tiba-tiba “diam” karena semua panik. Namun, fenomena ini bukan hanya tentang saham atau uang di dompet para investor. Fenomena yang terjadi hari ini, berkaitan dengan cerita tentang hidup kita sehari-hari. Misalnya, harga beras yang naik, pekerjaan yang goyah, sampai harapan yang mulai pudar. Nah yang menjadi pertanyaan, “Apa yang sebenarnya terjadi di pasar saham?”.
Kalian bisa membayangkan kalau IHSG diibaratkan seperti termometer yang mengukur kesehatan ekonomi kita, dari akhir 2024 di angka 7.163, sekarang menjadi 6.146, turun lebih dari 11% dalam tiga bulan. Investor asing kabur membawa Rp 24 triliun, termasuk Rp 3,47 triliun sehari setelah Danantara diresmikan tanggal 24 Februari 2025. Trading halt diibaratkan sebagai tombol darurat yang ditekan oleh BEI, karena semua orang buru-buru menjual saham mereka.
Apa sih yang menyebabkan BEI menekan tombol darurat? Di dalam negeri, menurut saya terdapat tiga “biang kerok”: (1) Danantara, (2) pemotongan APBN, dan (3) RUU TNI. Sedangkan di luar negeri, tarif baru dari United State, perang Rusia-Ukraina, serta ekonomi US yang sedang sakit, membuat suasana tambah runyam. In my humble opinion, fenomena yang terjadi ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kepercayaan yang ambruk.
-Sebuah Esai-
Udah lama ga buka jobstreet dan akhir akhir ini lg sering buka, mencoba peruntungan, ternyata isinya di luar nalar wkwkw. Thread isinya cuma pencaker/hrd ngeluh dan marah marah doang wkwkwkw.