Pemerintah gandeng totpol diskusi --> sengaja pilih lokasi di UGM dan sebetulnya tau berpotensi besar terjadi pembubaran --> beneran terjadi--> amplifikasi narasi di medsos klo mahsiswa UGM anti diskusi, dll--> punya narasi untuk mendegradasi aksi akhir-akhir ini yg dilakukan sama mahasiswa di beberapa daerah
aelah mendadak jadi banyak si paling mengedepankan diskusi. lah kemarin-kemarin ke mane aja lu tong waktu mahasiswa diskusi dibubarin, nobar film dokumenter dibubarin, forum akademik dibatalin alesannya demi ketertiban dan menjaga suasana kondusif. giliran sekarang aja lu pada playing victim.
"kita sudah sampai pada masa kebodohan merajalela"
"ketika MBG dibela, keracunan dianggap biasa. mempertontonkan keserakahan & membiarkan negri ini dalam malapetaka" 🥹🥲
Pak guru Iman, Kepala Advokasi Guru, tahan tangis di MK saat nyampein dampak buruk MBG pada guru & bandingkan gaji guru dgn petugas SPPG
"setelah ada MBG, terjadi PHK massal terhadap guru honorer & PPPK"
"di Langkat ada guru honorer di gaji 500rb/bulan, di Sumedang 50rb" 🥹
"Saya malu dengan UGM"
"Ngga usah kuliah di UGM"
"Saya bakal larang anak saya kuliah di UGM"
Dst...
Ucap orang-orang bodoh padahal daftar aja belum tentu lolos
"Saya malu dengan UGM"
"Ngga usah kuliah di UGM"
"Saya bakal larang anak saya kuliah di UGM"
Dst...
Ucap orang-orang yang kuliahnya di kampus antah brantah atau dikampus ruko yang rukonya udah digusur 😂🫵
Mau tau framing itu kaya gimana?
1) yang mengadakan acara, Total Politik dan NYL. Bukan UGM, bukan pula mahasiswa UGM. Di poster jelas tertulis siapa2 penyelenggaranya.
Totpol, pro pemerintah
NYL?
Coba simak deskripsinya di IG.
'Kontribusi nyata'
Khas siapa?
Anak muda menjadi pintar bukan karena suku, bukan karena nama kampus, bukan karena anak sesiapa. Mereka pintar karena berproses untuk menjadi pintar. Membaca, berdiskusi, berdebat, peka pada lingkungan, & terus melatih diri. Bukan pintar karena di kampung mereka dulu ada orang-orang pintar.
Program yang katanya untuk anak-anak miskin, malah bikin pusing para investornya yang kaya raya. Giliran diprotes, digeser lagi gawangnya: orang orang miskin jadi tameng lagi.
Padahal kalau memang tujuannya cuma orang miskin, bisa kasih saja buat keluarganya. Satu anak, sesuai anggaran. Dua anak, atau tiga, bisa disesuaikan. Pas diberi saran, malah digeser lagi: orangtuanya nggak akan bisa belanja dan enggak ngerti gizi.
Susah emang, kalau tujuannya enggak benar-benar anak anak miskin. Lagian, negara ini sudah puluhan tahun, sejak kapan ibu-ibu diragukan kemampuan mereka mengelola belanjaan. Toh, selama ini, uang seadanya pun mereka atur sedemikian rupa.
Giliran dikiritisi, digeser lagi, seolah orang-orang nggak suka anak-anak dapat makan, enggak suka anak-anak tumbuh. Orang bodoh mana yang nggak suka bangsa ini jadi lebih cerdas? Yang enggak disukai orang yang mengkritisi adalah pola-pola licik yang ujungnya sudah terbukti penuh korupsi. Justru, mereka peduli pada hak anak-anak dan generasi bangsa ini. Harusnya hak itu penuh didapat anak-anak.
Kalau penguasa merasa forum diskusi mereka dibubarkan adalah hal yang menyakitkan, tidakkah mereka juga berpikir yang sama ketika forum-forum masyarakat dibubarkan oleh aparat negara. Kenapa tidak bersuara ketika yang dibubarkan forum forum diskusi masyarakat.
Harusnya dg ini pemerintah sadar, sdh saatnya berbenah, negri ini sdh trlalu kacau, ga mempan kalo cuma diskusi yg ujung²nya membela diri. Yg dibutuhkan adl perubahan bukan kalimat penenang! Tp sayangnya pejabat di negri ini byk yg "sakit", abis ini pasti byk yg playing victim🤮