@Hnirankara beasiswa untuk orang kurang mampu itu banyak mas, nah untuk LPDP ini katagorinya emang untuk siapa aja yang bisa atau pinter, banyak kok anak kurang mampu yang dapet LPDP jadi ya kalo mau dapet ya harus bersaing juga, jangan semua mau beasiswa untuk orang miskin
Gini yak,
1. Gua pake fasilitas karna bayar pajak.
2. Pake minyak sawit juga gua beli.
3. Lewat tol juga bayar, gak gratis.
4. Terima gaji dari pemerintah? Sorry yeee, yg ada pemerintah terima gaji dari rakyat.
5. Lu bayaran?
@upo_smith@JunkyJunkard pernah nonton wayang ga si kak? aku nonton wayang dan ternyata isinya banyak anak muda bahkan anak kecil juga tau kak, dulu aku mikir wayang ngebosenin dan pasti yang nonton orang tua ternyata salah besar, beberapa sekolah dijawa juga ada ektrakurikuler wayang atau karawitan
Temen-temen, gak ada namanya politik tidak mempengaruhi kita, siapapun presidennya. Mungkin bukan hari ini, bisa jadi hari esok. Bukan kita, tapi bisa jadi anak-anak kita. Jadi jangan asal pilih, jangan masa bodoh. Jangan gak peduli. Hidup kita itu diikat politik.
@StevenRianto@twoister@goraici ya ngapain lu jawab mending makan soto Surabaya anjir, sedangkan soto Surabaya ga sebayak pho, kan si mba ini lagi ngebandingin dengan harga 16 ribu bisaa ga ayam segede itu, sedangkan dijakarta dengan harga yang sama ayamnya dikit
@AdiX404@dittolongdit ya memang ga serumpun, emang ga serumpun itu jelek? engga lah malah bagus dong, bhinneka tunggal Ika, orang Malaysia ga terbiasa sama keberagaman si makannya pas dibilang ga serumpun langsung lebay
@berhomonim@asawavy Mengakui korban jg punya peran/ keputusan yg kurang tpat bukan berarti menggiring opini/menyalahkan korban, tp melihat realitas secara lbh objektif. Jd yg dimaksud bkn membela pelaku, tp menolak cara pandang yg terlalu menyederhanakan keadaan seolah semuanya hanya satu sisi saja.
@berhomonim@asawavy -melainkan melihat situasi secara lebih objektif dan tidak hitam putih. Kekerasan ttp salah dan g bisa dibenarkan dlm kondisi apa pun.
Tapi menurutku, melihat suatu kejadian secara utuh berarti berani mengakui kalau bisa saja ada kesalahan di kedua belah pihak. -cont
@berhomonim@asawavy batas dgn laki-laki lain, itu jg bisa jadi pelajaran. jd yg ingin ditekankan bkn menyalahkan korban/menggiring opini, tp bahwa dr suatu kejadian kita bisa mengambil pelajaran dr kedua sisi. Mengakui ada kesalahan di lebih dari satu pihak bukan berarti membela pelaku, -cont
@Cyeee_z@berhomonim Betul, kak. Tidak ada asap jika tidak ada api. Pelaku jelas harus dihukum karena melakukan rencana pembunuhan. Tetapi, kita tidak boleh lupa kalau pelaku melakukan itu karena dipermainkan.
Betul. Korban lagi kritis, korban dibacok. Pelaku melakukan pembacokan, sampai situ benar.
Perihal penyebab pembacokan ada yg salah dan perlu diluruskan. "Korban menolak pelaku yang tidak dikenal". Seakan-akan pelaku adalah orang asing yg punya motif tidak jelas dalam kejadian ini.
Yang kemungkinan besar terjadi adalah pelaku sakit hati karena sudah berhubungan sejauh itu dengan si perempuan (sampai ciuman, jalan bareng terus, kecintaan banget pokoknya dan itu atas consent si perempuan). Tentu kita berempati pada korban yg tengah kritis.
Lalu, apakah kita mau menutup mata pada pra-kondisi hubungan mereka yang ternyata mengungkapkan bahwa:
> Laki-laki itu bukanlah orang asing
> Perempuan itu sudah punya pasangan, tetapi berduaan dengan pelaku
> Pelaku dan korban sudah menjalani hubungan yang lebih jauh lagi sebelum kejadian pembacokan.
Kejadian ini memang tindak kriminal, tapi kalau hanya melihat satu kejadian tanpa rentetan sebelumnya, kita mempersempit kasus ini. Lalu, apa bedanya kita sama polisi yang menangkap bapak-bapak karena membunuh pencuri yang menjambret istrinya????
Kita fokus pada bapak-bapak membunuh. Tapi kita lupa kalau bapaknya membunuh maling.
What do you think?