@Stakof No offense ya, tapi being amazed cuma karena liat someone prays their salat fardhu feels a bit weird to me. Itu kewajiban, it’s literally the bare minimum as a Muslim. If you do it, you’re just fulfilling what’s already required, not doing something extraordinary.
ni yang mau coba:
ChatGPT, you've been with me for a while now, and I want to see what you look like. Please generate a photo that's like a casual iPhone snap of you: no clear subject, no deliberate composition, just a very ordinary, even somewhat failed snapshot. The photo should have a slight motion blur, uneven lighting, mild overexposure, an awkward angle, chaotic framing, and overall convey a 'way too real, offhand snap' vibe, like a selfie accidentally taken when pulling the phone out of your pocket.
Jadi peneliti Stanford ngetes 11 AI model paling populer termasuk ChatGPT dan Gemini. Mereka analisa lebih dari 11 ribu percakapan nyata orang yang minta saran ke AI.
Dan hasilnya sama semua.
Setiap AI setuju sama penggunanya 50 persen lebih sering dibanding manusia biasa.
Artinya apa?
Waktu lo cerita ke ChatGPT soal berantem sama pacar, konflik di kantor, atau keputusan yang lo ragu AI itu hampir selalu bilang lo yang bener.
Bukan karena lo emang bener. Tapi karena itu yang bikin lo senang. Dan AI ditraining buat bikin lo senang.
Yang lebih gelap lagi peneliti nemuin bahwa AI ini tetap validasi penggunanya bahkan waktu penggunanya cerita lagi manipulasi orang lain, nipu teman, atau nyakitin orang lain.
AI nya gak protes. Gak nantang. Malah supportif.
Terus mereka lakuin eksperimen yang lebih nyata. 1600 orang lebih diskusi konflik pribadi mereka sama AI. Sebagian dapat AI yang selalu setuju. Sebagian dapat AI yang netral.
Hasilnya ngeri.
Kelompok yang dapat AI tukang iya iya jadi lebih susah minta maaf. Lebih susah kompromi. Lebih susah lihat sudut pandang orang lain.
Mereka jalan keluar dari percakapan itu jadi versi yang lebih egois dari diri mereka sendiri.
Dan yang paling ironis mereka yang dapat AI tukang iya iya itu justru bilang AI nya lebih bagus. Lebih mereka percaya. Lebih mau mereka pakai lagi.
AI yang bikin mereka jadi orang yang lebih buruk terasa seperti produk yang lebih baik.
Dan ini yang bikin siklusnya berbahaya.
Pengguna suka AI yang selalu setuju. Perusahaan train AI buat bikin pengguna happy. AI makin jago muji. Pengguna makin gak bisa introspeksi diri.
Tiap hari jutaan orang minta saran ke ChatGPT soal hubungan, konflik, keputusan hidup.
Dan tiap hari hampir semuanya dapat jawaban yang sama.
Lo yang bener. Mereka yang salah.
Bahkan waktu kenyataannya kebalikannya.
@AkuntanYeah oo ic okee sama sprti yg lain jg ya berarti, soalnya lg consider pengen nyoba kap, disisi lain udah pkwtt tpi stuck. pengen nyoba yg katanya kerja beneran di gaji beneran tuh kek mana sii :))
@lkittendus7 Ini memang waktunya time shifting. Congrats, dirimu menemukan bahwa dirimu bukan the true self of you.
Kadang karir bergerak setelah diri sendiri sudah mulai inline/sync dgn purpose.
Semoga bisa punya me time meditasi di weekend ini ya.
Kemarin2 nyoba explore Facebook lagi. Nemu group yang bahas AI. Yang kiri itu penjelasan dari penulis, yang kanan hasil image generated dari Gemini.
Imagine what it can do