"Kamu masih menunggu?"
"Masih. Di hari-hari yang sepi, aku masih berharap kamu tiba-tiba datang. Atau di tempat yang ramai, aku berharap bisa melihatmu."
"Apakah tidak melelahkan?"
"Sejujurnya, lelah. Sangat lelah. Tetapi, hati tidak tahu cara berhenti."
Jadilah yang menulis sajak, atau jika tidak
Jadilah yang memposting ulang sajak, atau jika tidak
Jadilah yang membaca sajak. Jangan tidak!
- Admin akun Sajak
Nggak bisa nulis sendiri, malah cuma komentar template sana sini. Enggak bisa berpikir sendiri, malah cuma jadi imitasi. Proses berpikir kritis itu emang nggak bisa didapat dalam kebut semalam. Nggak ada brief untuk berpikir kritis dalam sehari. Ia butuh dilatih, butuh waktu yang cukup. Jika membaca malas, mendengar jarang, paling cuma hal personal yang bisa diserang.
"Engkau belajar seribu cara untuk menafkahi tubuhmu. Sudahkah engkau belajar untuk menafkahi ruhmu? Engkau mengenakan baju-baju yang indah. Tapi tahukah kau bagaimana memberi baju untuk jiwamu."
Maulana Rumi
ada alasan-alasan menjauh yang tidak bisa dijelaskan, yang hanya bisa dimengerti oleh diri sendiri.
jadi, tolong beri sedikit ruang agar bisa berdamai, ya?
“Terkadang saat kamu memilih untuk berpamitan, sebenarnya kamu hanya ingin ditahan.
Nyatanya saat dia menawarkan perpisahan, kamu amat sangat takut kehilangan.”
Yang disana sibuk ngarang cerita..
Yang disini santai tinggal nunggu berita...
Sejelek apasih kita dicerita orang.
Intinya, gak usah peduli penilaian siapapun.
Ketika kita meyakini, apa yang menurut kita baik.. Keep doing it.
#CelahAwan
Pagi ini kita masih diberi kesehatan itulah nikmat yang sering terlupa. Gunakan hari ini untuk bekerja dan beribadah, menggapai kesuksesan dunia dan akhirat. Selamat beraktivitas, semoga hari ini penuh berkah.
Kerja cerdas,keras,ikhlas,kerja tuntas
Allah yang mengubah siang menjadi malam, yang menjadikan dari tiada menjadi ada. Dia berkata ‘Kun fayakūn’, maka terjadilah.
Hidup kita pun demikian. Seketika bisa berubah, jika Allah berkehendak. Maka jangan pernah putus harapan, karena bagi-Nya tak ada yang mustahil.
Keindahan itu tidak perlu selalu spektakuler.
Cukup satu momen sederhana yang bikin hati tenang, seperti saat diam-diam memandang dan bersyukur, karena masih diberi kesempatan untuk menyaksikan ciptaan-Nya yang luar biasa… termasuk kamu.
Berusaha memahami tak semua orang mampu menerimanya.
Sebab jauh lebih buruk dari itu, minimal harus merasakan hal sama meski beda perkara .
Mengerikan bukan.
Semakin kuat keinginannya , semakin sengsara menjalaninya.
Tapi bukan Maslaah, meski bathinnya menderita.
Yang terisak di sepertiga malam-Mu kini adalah aku, setelah tak ada lagi Mama menyebut namaku di antara setumpuk doa-doa yang dilangitkannya. Kini aku menyebut namanya dalam doa-doa dengan berlinang air mata.
»•@akutemaram
Beberapa waktu, berinteraksi dengan orang-orang yang lebih dulu hidup.
Ternyata mudah saja mendeteksi mana yang baik dan tidak hanya dengan memperlakukan kita yang hidupnya beberapa tahun lebih muda.
Mencintai adalah proses belajar sepanjang usia.
Sampai nanti kamu mengikrarkan janji setia
bersama orang yang tepat untukmu
di depan altar suci dan semesta
kamu akan belajar jatuh cinta berkali-kali
pada orang yang sama.
#puisimalam#poetry@PelangiPuisi
Mereka bicara seenak perutnya
Seolah semua kebenaran lahir dari perutnya
Sementara perut lain melilit
Bertahan tanpa bisa menjerit
Sedikit remah ditabur
Sebagai kebaikan si subur
Dari tumpukan remah
Hasil jerih si lemah
»@beeucolle
ia sungguh
tak paham
dengan kedip mata
yang ada
sebelum angin dan debu.
kecuali pada senyum
yang juga kau berikan,
meski cinta kelak
ditiup dan menetes
karena kepedihannya.
#berSajak - @jauhsekali_
malam-malam
mata berjaga
ketika ingatan mengembara
dan metamorfosis angin
telah jadi lagu-lagu sendu
ia pukat kenangan
menjaring basah duka
agar tak ada seseorang bersedih
mekar di kepalanya.
#berSajak - @kelkatu_