Pernah denger ceramah seorang Muslim scholar dari UK yang membahas rasionalisasi perintah hijab dgn sudut pandang yg menurut gue jauh lebih presisi secara teologis.
He said that it’s clear bahwa tujuan utama hijab bkn untuk membantu laki2 mengontrol hawa nafsunya.
Pondok pesantren manhaj salaf meminimalisir pelecehan krn mengikuti syariat.
Mahasiswi bisa melihat ustadz.sedangkan ustadz tidak bisa melihat mereka. Insyaa Allah terjaga dari kasus Asusila dengan lawan jenis
✍🏻
𝗡𝗬𝗔𝗟𝗜 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗕𝗘𝗟𝗨𝗠 𝗣𝗘𝗥𝗡𝗔𝗛 𝗧𝗘𝗥𝗟𝗔𝗛𝗜𝗥 𝗞𝗘𝗠𝗕𝗔𝗟𝗜.
Terlepas dari gaya kepemimpinannya yg kontroversial, dengan kontroversi kediktatorannya, tirani dan dwifungsi ABRInya, tetap harus diakui bahwa hingga saat ini belum pernah ada Perwira Tinggi TNI setelah Jenderal Sudirman yang memiliki NYALI seperti Mayor Jenderal TNI-AD Soeharto.
Ini sejarah dan tidak bisa dibantah. Soekarno ketika itu jauh lebih power full dari pada Presiden Indonesia manapun pasca Soeharto lengser. Soekarno ketika itu telah menjadi kultus individu. Gelarnya tegas, PJM. (Paduka Jang Mulia) Presiden/Panglima Tertinggi ABRI/Perdana Menteri/Mandataris MPRS/Pemimpin Besar Revolusi.
Demokrasinya disebut dengan “Demokrasi Terpimpin”, demokrasi tanpa pemilu, Presiden Seumur Hidup, bukan kaleng-kaleng arogansi kekuasaanya.
Kalau dibanding dengan Jokowi, Soekarno ibarat Tugu Monas dan Jokowi tutup limun yg jatuh dari botol salah satu gerobak pedagang kaki lima dipinggir Monas.
Tapi coba lihat, bagaimana nyali Mayor Jenderal TNI-AD Soeharto ketika ditengah situasi yang mengancam kedaulatan Pancasila, NKRI dan UUD 1945…?
Ia dengan keberanian yang luar biasa mengambil satu keputusan yang penuh dengan resiko. Dengan tetap berlandaskan koridor konstitusional, Mayjen Soeharto, yang ketika itu hanya Perwira TinggiTNI-AD Bintang Dua, dengan perhitungan yg seksama dan dalam tempo yg sesingkat-singkatnya mengambil alih kekuasaan dari tangan Presiden Soekarno. Akibatnya ketika itu Mayjen Soeharto dianggap melakukan Kudeta terhadap kepemimpinan nasional Presiden Soekarno dengan resiko jika keputusannya salah, Mayjen Soeharto dapat dihukum tembak mati ditempat.
Pada masa itu, dalam jajaran TNI masih ada struktur jabatan beberapa tingkatan lebih tinggi dari jabatan Mayjen Soeharto sebagai Pangkostrad. Ada jabatan Kepala Staf Angkatan dan Jenderal AH. Nasution sendiri yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Staf ABRI, komandan Mayjen Soeharto. Namun bagi Mayjen Soeharto momentum saat itu bagaikan telur diujung tanduk, terlambat sedikit saja, NKRI akan berada dibawah Republik Komunis Tiongkok (RRT).
Keberanian Nyali Mayjen Soeharto bukan soal adanya saluran konstitusional atau tidak. Dari jaman Ken Arok, apa sih soal inkonstitusional yg tidak bisa dijadikan konstitusional…?
Di abad mata uang digital saja, anak dibawah umur yg inkonstitusional alias ilegal untuk ikut Pilpres saja bisa kok konstitusinya dijungkir balikkan dan dijadikan konstitusional.
Jadi bicara soal nyali Mayjen Soeharto bukan urusan konstitusi, tapi pure tentang KEBERANIAN & PATRIOTISME seorang Prajurit Tentara Nasional Indonesia yang terpanggil Jiwa serta Raganya untuk bangsa dan negara Indonesia Raya ketika terancam kedaulatannya.
Apakah Mayjen Soeharto membenci Presiden Soekarno…? TIDAK.
Mayjen Soeharto sangat menghormati dan sangat mengagumi Presiden Soekarno, baik selaku komandannya sebagai Panglima Besar ABRI maupun sebagai Pahlawan Proklamasi.
Sejarah mencatat bagaimana Soeharto tetap menjaga marwah, kehormatan dan martabat mantan Presiden Soekarno, namun kedaulatan bangsa dan negara adalah diatas segalanya.
Ketika keselamatan dan kedaulatan negara yang dipertaruhkan, maka segala ego dan kepentingan pribadi harus dikesampingkan.
Jujur saja, KEBERANIAN & PATRIOTISME seperti itu belum pernah ditemukan kembali dibalik Panji Sapta Marga Prajurit TNI kita, sampai dengan saat ini.
Dan dengan segala kebesaran jiwa, siapapun harus mengakui hal ini.
Wajar jika banyak generasi muda penerus bangsa hari ini bangga dengan keberanian Mayjen Soeharto, dan berharap bangsa ini tak pernah kehilangan para patriot bangsa gagah berani, yang rela berkorban jiwa dan raganya bagi kedaulatan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menerima segala amal kebaikan dan mengampuni segala dosa dan kesalahan Almarhum Jenderal M.Soeharto.
@BennyHarmanID Ada kalimat yg menarik dari ketikan postingan bpk @BennyHarmanID yaitu, "membiarkan korupsi terjadi adalah juga korupsi"..kalau begitu serius usut lindik kasus korupsi sampai level top atasannya.
Ada Menteri bisa korupsi yah presidennya hrs ikut diperiksa,
🤔