SEFRUIT TIPS BUAT YG MEGANG JECX dan JELI ‼️
1. Jangan langsung dijual ketika listing ARA, mainkan Trailing Stop aja! Jadi setiap hari kalian akan ngeset TS sebelum market buka. Kegunaannya adalah jika ARA nya kebuka, saham kalian langsung terjual. Minim resiko kena bantingan/nyangkut. Sehingga kalau masih ARA, kita bisa menikmati ARA berjilid🤑
2. Bagi yg udah cukup pengalaman di market, mungkin bisa hitung barang lewat analisa transaksi. Cek broker summary siapa yg jual, kalau hanya lot kecil (berarti ritel) which is aman. Tapi kalau yg jualan lot gede bisajadi emiten, kemungkinan di hari besoknya ARA nya kebuka.
Tetangga gue bangun rumah Rp 150 juta.
Tetangga sebelahnya bangun rumah Rp 400 juta.
5 tahun kemudian gue masuk ke dua rumah itu. Bedanya bikin gue mikir panjang. Bukan soal yang lo kira. 😭
Rumah Rp 150 juta. Tipe 36. Cat sederhana. Keramik polos. Tapi strukturnya kokoh. Dindingnya nggak retak. Atapnya nggak pernah bocor. Orangnya bilang ke gue: "Semua budget gue habisin buat yang nggak keliatan."
Rumah Rp 400 juta. Fasadnya bagus banget. Instagramable. Batu alam. Roster. Pintu kayu solid. Tapi 3 tahun pertama: Atap bocor 2x. Dinding retak di 4 titik. Lantai keramik kopong di beberapa area. Orangnya bilang ke gue: "Kontraktornya fokus yang keliatan. Yang nggak keliatan dikurangin."
Yang dimaksud "yang nggak keliatan." Pondasi: kedalaman dan lebarnya. Besi tulangan: diameter dan jaraknya. Campuran beton: rasio semen, pasir, kerikil. Waterproofing: jumlah lapis dan cara aplikasinya. Instalasi listrik: kualitas kabel dan sambungan. Semua ini nggak keliatan setelah rumah jadi. Tapi semua ini yang nentuin rumah lo tahan 30 tahun atau 5 tahun.
Cara kontraktor nakal kurangin biaya di bagian yang nggak keliatan. Besi tulangan diameter 10 diganti diameter 8. Hemat: Rp 8-12 juta. Risikonya: kekuatan struktur berkurang 35%. Campuran beton dikasih air lebih banyak biar gampang dikerjain. Hemat: waktu dan tenaga. Risikonya: kekuatan beton turun 30-40%. Waterproofing 2 lapis jadi 1 lapis. Hemat: Rp 3-5 juta. Risikonya: bocor dalam 2-3 tahun.
Cara deteksi ini sebelum ketauan terlambat. Besi tulangan: minta lihat faktur pembelian dari supplier. Cek diameter di batangnya langsung. Campuran beton: minta tukang lakuin slump test sederhana. Beton yang terlalu encer itu tanda air kebanyakan. Waterproofing: foto tiap tahap aplikasinya. Berapa lapis, berapa waktu antar lapis. Semua ini bisa lo lakuin sendiri. Nggak perlu jadi insinyur.
Yang tetangga Rp 150 juta lakuin beda. Dia habisin 60% budgetnya buat struktur. Pondasi yang dalam. Besi yang sesuai spek. Beton yang campurannya bener. Sisanya buat finishing sederhana. "Tampilan bisa diubah kapan aja, Mas. Struktur nggak bisa." Tahun ke-7 dia mulai renovasi tampilan. Sekarang rumahnya lebih bagus dari yang Rp 400 juta. Dan strukturnya masih sempurna.
Prioritas budget yang bener buat bangun rumah. Struktur (pondasi, kolom, balok, sloof): 35-40% dari total budget. Atap (rangka + penutup + waterproofing): 15-20%. Utilitas (listrik, air, sanitasi): 10-15%. Dinding + plester + acian: 15%. Finishing (keramik, cat, plafon): 10-15%. Estetika (fasad, taman, pagar): 5-10%. Kalau kontraktor lo propose sebaliknya, tanya kenapa.
ertanyaan yang wajib ditanyain ke kontraktor sebelum deal. "Berapa diameter besi tulangan yang dipake untuk kolom?" "Berapa rasio campuran betonnya?" "Waterproofing berapa lapis dan produk apa?" "Boleh gue foto tiap tahap pengerjaan strukturnya?" Kontraktor yang bagus: jawab semua dengan detail. Kontraktor yang markup struktur: mulai cari alasan.
5 tahun kemudian. Tetangga Rp 400 juta udah keluar Rp 65 juta tambahan buat perbaikan. Atap. Dinding. Keramik. Instalasi listrik yang bermasalah. Tetangga Rp 150 juta? Nol pengeluaran perbaikan dalam 5 tahun. Dan baru mulai renovasi tampilan tahun ini. Dengan budget yang tadi harusnya buat perbaikan tapi nggak kepake.
Rumah mahal bukan jaminan. Rumah murah bukan masalah. Yang nentuin bukan harganya. Tapi ke mana uang itu dihabisin. 60% ke struktur yang nggak keliatan = rumah tahan 30 tahun. 60% ke tampilan yang keliatan = rumah bagus 3 tahun pertama. Pilihan ada di tangan lo sebelum mulai. Bukan sesudah.
cc : material_daily
Siapa yang Menentukan Apa yang Kita Percaya?
Ada perubahan yang pelan tapi pasti sedang terjadi dalam cara kita mengonsumsi berita.
Perubahan ini tidak terlihat seperti revolusi. Tidak ada ledakan. Tidak ada breaking news. Tapi dampaknya besar. Mendasar. Eksistensial.
Jika dulu kita tahu sebuah berita karena dibagikan teman di Facebook, sekarang kita tahu karena muncul di TikTok For You Page—atau direkomendasikan oleh algoritma YouTube.
Bukan karena siapa yang membagikan. Tapi karena berapa banyak yang menonton, menyukai, dan mengomentarinya.
Dan di sinilah letak pergeserannya:
Dari jaringan personal ke popularitas konten. Dari kedekatan sosial ke engagement digital.
Pergeseran ini disampaikan dengan sangat jelas oleh Nic Newman, peneliti senior dari Reuters Institute, dalam presentasinya di Global Media Forum (GMF) 2025 di Bonn, Jerman. Ia menunjukkan bahwa di banyak negara, terutama di Global South seperti Indonesia, Brasil, India, dan Filipina, video networks seperti TikTok dan YouTube telah menjadi sumber utama berita, menggeser peran media tradisional dan bahkan jejaring sosial berbasis pertemanan.
Dari Komunitas ke Komoditas
Di masa awal media sosial, berita menyebar karena teman membagikannya. Ada modal sosial. Ada rasa percaya.
Kini, berita menyebar karena algoritma menganggapnya layak tampil. Yang menentukan bukan lagi siapa yang bicara, tapi seberapa banyak yang menyimak.
Bukan seberapa benar, tapi seberapa bikin orang berhenti scroll.
Dalam dunia yang digerakkan oleh “engagement”, kebenaran menjadi opsional. Yang utama adalah reaksi.
Efek Samping yang Tidak Kita Sadari
Di permukaan, ini terlihat seperti demokratisasi.
Siapa pun bisa bicara. Siapa pun bisa viral.
Tapi sebenarnya, ini komodifikasi perhatian.
Yang diutamakan bukan isi, tapi impresi.
Bukan verifikasi, tapi emosi.
Akibatnya?
Opini yang keras naik ke permukaan.
Isu penting tenggelam jika tak cukup sensasional.
Dan publik perlahan kehilangan kemampuan membedakan informasi yang bisa dipercaya.
Luntur Perlahan, Hilang Perlahan
Nic Newman menunjukkan bahwa peran jaringan personal dalam konsumsi berita menurun drastis, sementara rekomendasi berbasis popularitas konten meningkat.
Dengan kata lain, berita hari ini lebih mungkin Anda temui karena viral, bukan karena seseorang yang Anda percaya membagikannya.
Dan itu mengubah cara kita membangun kepercayaan.
Dulu, kita percaya karena kenal. Sekarang, kita percaya karena “banyak yang lihat”.
Padahal “banyak” belum tentu “benar”.
Mencari Jalan Tengah
Apa yang bisa dilakukan?
Media harus menemukan kembali cara bercerita di tengah tsunami konten populer—tanpa kehilangan jati diri.
Pembaca harus lebih sadar bahwa apa yang muncul di feed adalah hasil bisnis, bukan hasil etika.
Dan platform perlu lebih jujur tentang siapa yang mereka untungkan.
Kita tidak bisa sepenuhnya kembali ke era Facebook teman. Tapi kita juga tidak boleh menyerahkan filter kebenaran pada mesin.
Penutup: Kita Butuh Lebih dari Viral
Di era di mana informasi datang dari semua arah, dan disaring oleh logika popularitas, kita harus lebih waspada.
Karena jika kita hanya percaya pada apa yang ramai,
kita sedang meninggalkan ruang berpikir kita pada mesin yang hanya tahu satu hal:
angka.
Dan angka, meskipun presisi,
tidak tahu mana yang benar. Tidak tahu mana yang penting. Dan tidak tahu mana yang manusiawi.
IF/AI
Apa itu danantara?
Untuk bahasan rumit gini, saya selalu berharap Pak Dahlan Iskan bikin tulisan. Blio memang andalan saya untuk menjelaskan hal-hal rumit dengan bahasa bayi.
Alhamdullah, setelah beberapa bulan gak baca https://t.co/ho3n1BcRbS (meskipun dulu ikut cawe2 bikin web kelahirannya) hari ini sempet nengok dan menemukan beberapa tulisan tentang ini.
Saya rangkum biar temen-temen gampang bacanya.
Pertama baca ini sih: ‘SWF Nusantara’. Barusan saya cek lg, tulisan ini terbit 26 nov 2020, sudah lebih 4 tahun lalu. Ide jaman jokowi dengan panglima pak luhut. Namanya masih Otoritas Investasi Nusantara. Bisa dibaca lengkap disini.
https://t.co/zT901gHrFQ
Jokowi, Mafia Politik Menuju Indonesia Bubar.
Prabowo Subianto dalam sebuah pidato pernah mengatakan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan bubar, kenapa? Ia mengatakan bahwa pihak luar sudah memprediksi bubarnya negara Indonesia.
Dikutip dari laman BBC Indonesia, Prabowo berkata "Saudara-saudara, kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini. Tetapi di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung, mereka ramalkan kita ini bubar!"
Dalam pidatonya Prabowo mengklaim bahwa kekayaan Indonesia dikuasai oleh 1% orang, sedangkan penguasaan tanah di Indonesia mencapai 0,43. Apa maksudnya?
1% populasi orang menguasai kekayaan alam di Indonesia, sedangkan penguasaan tanah nilainya 0,8% dimana: Nilai Koefisien Gini berkisar antara 0 sampai dengan 1, jika mendekati angka 0 artinya ketimpangan sedikit, jika mendekati angka 1 artinya sangat timpang.
@Dandhy_Laksono pada cuitannya di X (09/01/24) mengatakan bahwa gini tanah di Indonesia sebesar 0,58, di mana ada perusahaan yang luasnya melebihi seluruh BUMN.
Apakah Indonesia benar-benar akan bubar pada tahun 2030?
-Sebuah Esai-
@kegblgnunfaedh Karyawan Buka baju tandanya dapur super Gerah
Dapur Super Gerah berarti Ventilasi dan Sirkulasi Udara alami maupun elektris tidak berfungsi baik
Ada hitungan Air Change Rate standarnya CMH / CFM
Lanjut..
Sebelum memutuskan menghentikan cicilan KPR pahami dulu resiko pasti & tidak pastinya:
1. BI Checking pasti jelek dan tdk bisa lagi meminjam di bank manapun atas nama Anda maupun isteri. Disinilah pentingnya skala prioritas.
2. Anda belum tentu kehilangan rumah Anda.
Jadi saran kami jika bunga KPR melonjak tinggi prioritaskanlah keselamatan keluarga dulu. Jika masih punya kekuatan bayar segera minta restrukturisasi. Jika ditolak minta surat resmi penolakan restrukturisasi dari pihak bank. Lalu stop bayar cicilan sama sekali.
@tanyarlfes Hi, buat yang nanya nulis artikelnya dimana? Aku nulis di idn times yaaa..
Kalian bisa download aja aplikasinya di play store. Disitu banyak banget pilihan kategori penulisan. Bisa sesuaikan sama minat dan hobi kalian masing2. Maaf gabisa bales satu satuuu🙏🏻😭
Standar dan kualitas presiden dan wakil presiden Indonesia pertama ini mampu melampaui jamannya, bahkan sekarang. Dengan fasilitas dan teknologi yang minim, dengan cara bagaimana seorang Soekarno bisa menguasai berbagai bahasa?
1. Wawancara Bahasa German
Tidak perlu menginjak untuk terlihat bijak. Tidak perlu munafik untuk terlihat baik. Tidak perlu memfitnah untuk terlihat benar. Pepatah jawa bilang: "Becik ketitik olo ketoro".
Siapa saja yang ingin banyak harta dan anaknya¹, juga diberkahi rezekinya, maka bacalah setiap hari sebanyak 70x:
أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
Termasuk kearifan kita sebagai manusia itu harus belajar dari takdir yang kita hadapi, yaitu keterbatasan kita sebagai manusia. Kita harus bisa ngelola kegagalan, menerima qodlo'-qodar.”
— Gus Baha