Financial health cannot be achieved through institutions alone. It requires an ecosystem approach.
As Indonesia’s young, digitally connected population grows, we need to think bigger—engaging FinTech innovators, supporting young entrepreneurs, and leveraging digital platforms to expand financial health at scale. The days of business as usual are over.
The next frontier is market-based financial resilience.
From FinTech-enabled microinsurance and climate insurance for smallholder farmers to digital solutions for women-led enterprises, the opportunity is to build products that work for people and reach scale through innovation. @UNinIndonesia looks forward to partnering with FinTech leaders and innovators to pilot, learn, and scale what works in Indonesia and beyond.
Spot on. By shifting our focus from just housing to how people actually live their days, we can supercharge daily productivity. Smart, modern urban planning is the fundamental foundation we need to build a more efficient and energetic future https://t.co/2A0TGqVd6O
I want to thank everyone for the outpouring of love and thank you for believing in me to lead the company that has always put you at the center of our work. This is not goodbye. It’s a hello to John and I can’t wait for you to get to know him like I do! 🙏
@BivitriS Hari ini banyak ASN tidak punya KPI yang jelas.
Akhirnya kerja hanya ikut arahan atasan, bukan untuk publik. Peran dan KPI harus dibenahi total berbasis outcome, bukan instruksi. Akuntabilitas dan public leadership kuncinya
Tanpa itu, birokrasi akan sibuk dan tidak berdampak
@DipoSatriaR Big ambition comes with big risk. Danantara is a high stakes instrument. It can be a catalyst for Indonesia’s next phase of growth but only if we get governance, accountability, and execution right. Otherwise, it risks becoming a very expensive lesson in capital misallocation.
In emerging markets, “zombie programs” are everywhere, policies that have failed repeatedly but keep coming back. Subsidies without productivity. Credit without risk discipline. Program without real value creation. The real fight is killing bad programs that refuse to die.
@yanuarnugroho@hariankompas Membuat kebijakan publik itu seni mendengar bukan hanya sekadar instruksi. Sayang bgt kalau nalar publik tidak mjd kompas utama.
Nassim Taleb 'Skin in the Game', kebijakan absurd muncul karena pimpinan gak ikut nanggung risiko kegagalannya. Karena gak ikut ngerasain susah, sense of crisis-nya tumpul. Wajar kalau thinking quality-nya drop dan solusinya jadi gak nyambung sama realita.
Dari Singapura saya ikut mengamati gejolak pasar global, utamanya harga minyak, gas dan BBM. Meskipun harga energi masih sangat fluktuatif, tetapi dampak buruknya sudah dirasakan oleh semua negara. Termasuk Indonesia.
Banyak negara, termasuk yang ada di Asia, telah melakukan langkah-langkah nyata untuk menyelamatkan ekonominya. Caranya berbeda-beda, tetapi saya pandang masuk akal. Hari ini, 25 Maret 2026 saya juga menyimak kebijakan pemerintah Filipina dan Korea Selatan yang disampaikan oleh para presidennya.
Untuk Indonesia, kita tak perlu panik. Meskipun, langkah-langkah kita tidak boleh terlambat dan tidak tepat.
Waktu memimpin Indonesia dulu saya mengalami krisis yang sama. Meroketnya harga minyak terjadi pada tahun 2004-2005, kemudian tahun 2008 dan yang terakhir tahun 2013. Harga minyak yang meroket sangat memberikan tekanan pada ekonomi kita. Fiskal dan defisit APBN melebar, inflasi atau stabilitas harga terguncang dan dampak terhadap kaum tak mampu sangat terasa. Meskipun pahit dan tidak mudah, kita pilih kombinasi kebijakan yaitu penambahan subsidi dan penaikan harga BBM. Pemerintah juga melakukan kampanye penghematan energi besar-besaran.
Ketika saya putuskan dan ambil langkah-langkah seperti itu, gelombang pro dan kontranya tinggi sekali. Parlemen gaduh dan unjuk rasa tak terhindarkan. Tapi, akhirnya, ekonomi kita selamat dan masyarakat tidak mampu dapat kita lindungi melalui program BLT.
Saya memantau pemerintahan Presiden Prabowo juga telah mempersiapkan kebijakan dan langkah-langkah yang diperlukan. Saya dukung gerakan penghematan energi untuk mengurangi angka defisit anggaran. Untuk menyelamatkan APBN 2026 pada khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya, beberapa opsi dapat dipilih oleh pemerintah. Yang penting ekonomi kita selamat ~ termasuk terjaganya pertumbuhan (growth), terkelolanya inflasi (stabilitas harga) dan tercegahnya PHK besar-besaran (job security). Dan yang sangat penting adalah tetap terlindunginya saudara-saudara kita kaum tak mampu yang pasti hidup mereka makin sulit. *SBY*
@kompascom Pernyataan seperti ini justru mengkhawatirkan.
Pemimpin negara seharusnya bicara tentang sistem yang mencegah korupsi bukan seolah itu pilihan antara korupsi atau rakyat makan.
https://t.co/p1T4fmXqO1 obrolan ringan ttg umkm bersama Mas Sandi. Our economic system needs structural reform, one that truly empowers our MSMEs to compete globally, while strengthening their position at home.
Oped saya tentang mendorong pertumbuhan untuk kelas menengah. Pertumbuhan yang berkelanjutan lahir dari produktivitas, inovasi, dan kewirausahaan yang menciptakan nilai nyata. https://t.co/VOED8oSamB
https://t.co/O0M7Jz1829 Kuliner bukan cuma dilombain, tapi diceritain, dirasain, dan akhirnya jadi bagian dari hidup kita. Lucu, bikin haru, dan bikin ngiler. Kuliner daerahnya dibungkus dengan cara beda, fresh banget. Highly recommended! @amarthaid
@dinopattidjalal Indonesia dapat berperan sebagai jembatan diplomasi. Prinsip bebas aktif memberi ruang bagi kita untuk menjadi suara bagi Global South yang menginginkan stabilitas dan perdamaian, bukan eskalasi konflik.
@rizkisiregar@KKusumawardani@iMedKrisna@laksonomics@JoshiesAtHome Dgn kebijakan setahun kebelakang ini bakal berat. Angka hanya hasil akhir. Pertumbuhan tidak lahir dari target, tp hasil dari struktur ekonomi produktif. Pd akhirnya, yg dicari bukanlah angka. Tp rasa aman bekerja, kesempatan berkembang, dan keyakinan anak2 kita hidup lbh baik