Jadi sekarang tuh dia bikin semua baru dari awal ya?
- Sekolah Rakyat (SD)
- Sekolah Terintegrasi (SMP)
- Sekolah Garuda (SMA)
- Universitas Republik Indonesia (Kampus)
SD, SMP, SMA, Kampus negeri apa kabar? Gurunya masih susah? Dosennya masih susah?
Itu dosen sampai ada bawa gaji pokok di bawah UMR ke MK?
Itu ada rektor ngeluh dana dari APBN tinggal 16% dari budget dia ke DPR?
Itu mahasiswa anak PNS masih dapet UKT tertinggi dan gak bisa dapet KIPK?
Itu ada calon presiden ngomong guru cuma dapet 400 ribu rupiah, how can you live?
Keberhasilan Luis de la Fuente membawa Spanyol merengkuh trofi Piala Dunia menegaskan pentingnya komitmen terhadap proses.
Seluruh karier kepelatihannya didedikasikan untuk tim nasional di semua kelompok umur (Euro U-19, U-21, dan medali perak Tokyo) sebelum akhirnya meraih Euro 2024 dan gelar juara dunia hari ini. Puncak prestasi ini lahir dari tangan dinginnya mengawal generasi pemain yang sama sejak usia muda.
Keberhasilan ini menjadi cetak biru (blueprint) nyata bahwa kesabaran dalam membangun sistem kepelatihan jangka panjang jauh lebih berharga daripada hasil instan. Dedikasi pada pengembangan usia muda terbukti menjadi investasi terbaik bagi masa depan sepak bola sebuah negara.
#FIFAWorldCup
Waktunya nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola.
Di MetLife Stadium, New Jersey, Messi jalan pelan menuju podium runner up. Bahunya sedikit membungkuk, matanya berkaca kaca saat medali perak digantung di lehernya.
Spanyol baru saja menang 1-0 lewat gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Argentina gagal pertahankan gelar. Tapi bagi jutaan orang yang nonton, malam itu bukan tentang kekalahan. Malam itu adalah tentang akhir sebuah era.
Messi berusia 39 tahun. Rambutnya sudah mulai memutih di pelipis, langkahnya nggak secepat dulu, tapi matanya masih sama. Penuh api, penuh cinta untuk sepakbola. Sepanjang turnamen cetak delapan gol, kasih assist krusial, dan bawa Argentina yang sempat terseok hingga final. Messi main kayak umur 29 tahun, bukan 39. Tapi usia nggak pernah bohong. Tubuhnya lelah, dan sepak bola tak lagi beri ruang untuk keajaiban selamanya.
Kita ingat Qatar 2022. Malam itu Messi mengangkat trofi yang selama 36 tahun tak pernah diraih Argentina. Air mata bahagia mengalir deras.
“Saya sudah lengkap,” katanya saat itu.
Tapi Tuhan memberinya satu babak lagi. Satu kesempatan terakhir untuk menari di panggung terbesar. "The Last Tango", begitu ia tulis di postingan sebelum final. Tango terakhir. Dan meski berakhir dengan nada sedih, tango itu tetap indah kok.
Bayangkan seorang anak kecil dari Rosario yang dulu menderita kekurangan hormon pertumbuhan, kini berdiri di final Piala Dunia untuk ketiga kalinya.
Lihat wajah para pemain Spanyol saat membuat guard of honour. Ada rasa hormat di mata mereka. Mereka tahu, mereka baru saja mengalahkan legenda hidup, panutan mereka sendiri.
Nggak lama lagi, Messi bakal ninggalin sepak bola. Mungkin beberapa bulan lagi di Inter Miami, mungkin satu atau dua pertandingan persahabatan terakhir dengan Argentina. Lalu lampu stadion akan padam untuknya. Nggak ada lagi momen ankara messi yang bikin bek lawan mati kutu. Nggak ada lagi senyuman malu malu saat ia mengangkat trofi.
Yang tersisa adalah warisan yang nggak bisa dihapus. Bukan hanya rekor gol, assist, atau Ballon d’Or. Tapi Messi ngajarin kita bahwa bakat saja tak cukup. Dibutuhkan hati yang besar, ketahanan yang luar biasa, dan cinta yang tak pernah pudar.
Untuk Leo, terima kasih. Terima kasih telah membuat jutaan anak di seluruh dunia percaya bahwa mimpi bisa diwujudkan meski berkekurangan dan tantangannya besar.
Kau bukan runner up malam ini, Leo. Kau adalah pemenang seumur hidup.
Sekarang, istirahat yang pantas. Dunia sepak bola akan terus berputar, tapi tak akan pernah sama lagi tanpamu.
SIMPLY... THANK YOU, LEO. 🇦🇷✨
Lionel Messi has played his final World Cup match. 💔🏆
It was a journey filled with records, goals, and glory. Your legacy and your 8 Ballons d'Or are eternal. 🌕
🔗 More about his golden career on https://t.co/qkKEZsNOIB!
#ballondor#worldcup #argentina #messi
Lamine Yamal on Lionel Messi after Spain’s FIFA World Cup triumph over Argentina.
🗣️ Lamine Yamal: “Tonight I lifted the World Cup for Spain, but I also experienced something I’ll tell my children one day. The man who once held me as a baby was standing on the other side of the pitch, fighting for the same dream. Football has a beautiful way of bringing stories full circle.”
“When I looked at Messi after the final whistle, I didn’t just see an opponent. I saw the player who made millions of kids, including me, believe football could be art. I saw the man whose videos I watched over and over, trying to copy things that nobody else could do.”
“I know this defeat will hurt him. You don’t play with that much passion, carry your country again and again, and lose a World Cup final without feeling pain. Even in defeat, he kept demanding the ball, creating chances and refusing to stop believing. That’s what champions do.”
“People will talk about Spain winning this World Cup, and they should. But they’ll also remember that, at an age when most legends have already retired, Messi was still making the world’s best defenders panic every time he touched the ball. That’s extraordinary.”
“The photo of Messi bathing me became one of football’s most iconic images. Today we took another picture together, but this time I could thank him face to face. Without players like him, kids like me wouldn’t dare dream this big.”
“One day another generation will replace mine too. That’s football. But there will never be another Lionel Messi. Records can be broken and trophies can be won, but inspiring an entire generation to fall in love with the game is something only a few people in history will ever achieve.”
“Tonight belongs to Spain. Tomorrow, the debates will continue. But my respect for Lionel Messi will never change. He didn’t need to win this final to prove who he is. For me, he’ll always be one of the greatest players football has ever seen, and sharing the pitch with him was a privilege I’ll carry for the rest of my life.”
Messi broke down in tears today—not just once, but over and over again. Every chance he got, the tears came. After the defeat. While receiving the silver medal. There wasn’t a single moment when he could hold them back.
At first glance, you might think he was crying because Argentina lost the World Cup. But the truth is, those were farewell tears. He was saying goodbye to everything the World Cup has meant to him. This was the final chapter of a journey that began 20 years ago.
He wasn’t crying because of the pressure of losing. He had already won the World Cup and completed football’s greatest achievement. What he was experiencing was something even harder—the moment of saying goodbye. Goodbye, football. Goodbye, World Cup. The journey is over.
History will remember that Argentina reached two consecutive World Cup finals in the Messi era, led by Messi at 35 and again at 39. The greatest stories aren’t always about how they end, but about the journey they leave behind.
Messi is a legend and the greatest there will ever be. 🐐