Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
🔴Militer Paling Rumit di Dunia: Iran 🇮🇷
Mata pelajaran paling sulit di War School adalah Iran. Tahukah kamu kenapa? Tidak seorang pun—bahkan profesor-profesor saya yang merupakan mantan operator intelijen—bisa menjelaskan strategi militer Iran.
Secara militer, Iran melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan negara lain: desentralisasi kekuatan. Unit-unit yang terorganisasi dengan baik, tangguh, dan masing-masing memiliki “otak” sendiri dalam pertahanan. Kamu bisa menanamkan agen CIA dan Mossad sebanyak yang kamu mau di Iran, tapi akan selalu ada titik di mana semuanya berhenti.
Jadi izinkan saya memberi sedikit pelajaran tentang Iran. Iran itu bukan sekadar sebuah negara—tidak sepenuhnya. Lebih seperti labirin hidup, yang dirancang bukan untuk memenangkan perang seperti kekaisaran, tetapi untuk bertahan lebih lama dari mereka.
Dalam panggung besar peperangan, tempat orang seperti Napoleon Bonaparte mengejar kejayaan dan doktrin diukir dalam aula marmer yang megah, Iran memilih “kitab” yang sama sekali berbeda.
Mereka mempelajari kehancuran.
Mereka menyaksikan nasib orang seperti Saddam Hussein—tentara besar, terpusat, bangga, dan dipenggal hanya dalam hitungan minggu. Mereka melihat Libya. Mereka melihat Afghanistan. Dan di antara abu dari rezim-rezim yang runtuh itu, Iran mengajukan pertanyaan yang jauh lebih berbahaya:
“Apa yang tetap bertahan ketika kepala dipotong?”
Dan karena itu, mereka menghilangkan “kepala”.
Tidak ada satu otak tunggal. Tidak ada satu pusat saraf tunggal.
Sebaliknya, ada seribu pikiran kecil—masing-masing mampu berpikir, bertindak, dan terus berlanjut.
Islamic Revolutionary Guard Corps bukan sekadar kekuatan militer. Ia adalah sebuah filosofi yang bersenjata. Seperti hydra—makhluk berkepala banyak. Kamu tidak benar-benar mengalahkannya, kamu hanya mengganggunya.
Potong satu lengan, yang lain akan menyesuaikan diri.
Bungkam satu komandan, sepuluh lainnya akan beradaptasi tanpa seremoni, tanpa jeda.
Tidak ada pemakaman dramatis dalam rantai komando. Tidak ada kelumpuhan operasional.
Hanya keberlanjutan.
Lalu ada ilusi—yang membuat para perwira intelijen terjaga di malam hari.
Kamu bisa menembus sistem, ya. CIA pernah. Mossad tentu saja. Mereka merekrut aset, mencegat sinyal, bahkan menjangkau tempat-tempat yang dulu dianggap tak tersentuh.
Tapi Iran tidak hanya membangun untuk kerahasiaan.
Mereka membangun untuk pengkhianatan.
Setiap lapisan diawasi oleh lapisan lain. Setiap agen dicurigai bahkan sebelum membuktikan kesetiaannya. Setiap lorong bukan hanya dipenuhi pintu, tetapi juga cermin.
Kamu mengira sudah berada di dalam sistem—sampai kamu sadar bahwa sistem itu sudah mengantisipasimu jauh sebelum kamu datang.
Sekarang, tentang mereka yang mati.
Mata-mata, operator, aset—pria dan wanita yang memasuki labirin itu dengan keyakinan bahwa keahlian intelijen akan menyelamatkan mereka.
Sebagian menghilang secara diam-diam. Yang lain tidak.
Iran menjadikan contoh bagi mereka yang dituduh sebagai mata-mata—menyiarkan pengakuan, melakukan eksekusi, mengirim pesan yang tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan konsekuensi.
Namun inilah kebenaran yang tidak akan dipublikasikan oleh badan intelijen mana pun:
Angka sebenarnya? Biaya sebenarnya?
Terkubur.
Karena dalam dunia itu, angka bukan sekadar statistik—mereka adalah kerentanan.
Kamu lihat, kebanyakan negara bersiap untuk perang.
Iran bersiap untuk ketahanan.
Mereka tidak bertanya, “Bagaimana kita mengalahkan musuh?”
Mereka bertanya, “Bagaimana kita tetap ada ketika musuh telah kelelahan mencoba?”
Dan itu—itulah strategi yang jauh lebih menakutkan.
Karena sejarah punya kebiasaan aneh: bukan yang terkuat yang diingat, tetapi yang terakhir bertahan.
(✍🏻@kmbiamnozie)
Kesempatanku berdiskusi dengan anak-anakku lebih sering ketika berada di dalam mobil. Biasanya aku beli koran apapun yg disodorkan oleh penjaja. Aku bayar lalu ku lempar pada anak-anak. Terjadi perdebatan diantara mereka setelah membaca satu topik berita. Terakhir perdebatan itu anak-anak bertanya padaku ;
“ Pa,, kalau orang dijadikan mentri itu dites gak sih menurut bidangnya ? “
Jawabku; “Emboooh”.
Jika anda sedang sholat fardlu ataupun sunnah kemudian mendengar orang yang minta tolong karena terbakar atau akan tenggelam maka engkau wajib membatalkan solatmu untuk menolongnya.
Bagaimana melakukan sholat wajib dikalahkan dengan kewajiban menolong orang yang dalam keadaan bahaya mengancam jiwa ? Ya memang demikianlah hukumnya. Saya yakin tuan-tuan sudah memahami.
Begitulah empati dalam hukum. Saudara-saudara kita yang ada di Sumatra sedang membutuhkan bantuan. Tidak cukup dalam sekala prinadi saja namun sekala negara. Dalam masalah bencana yang sudah sedemikian dahsyat tidaklah elok para pejabat ribut tentang status bencana, nasional atau bukan. Yang jelas bencana semenyedihkan tersebut adalah keadaan darurat. Sampai sholatpun wajib dibatalkan sebagaimana keadaan di atas. Apalagi hanya sekedar dana negara yang itupun dari hasil pajak mereka dan bencanapun disebabkan dari kesalahan kebijakan pejabatnya. Maka seberapapun dana yang dibutuhkan untuk saudara-saudara kita korban bah banjir lumpur dan kayu harus dan wajib dipenuhi dan diprioritaskan meskipun dengan mengurangi atau menghapus dana untuk program yang lain. Al-dlaruraatu tubikhu al-makhdlluraati.
Foto; https://t.co/P7OKVFGYuB
Muhamad bin Simak berkata: sifat tawadlu' paling mulia adalah tidak melihat diri sendiri lebih utama/baik dari orang lain.
Dinukil dari kitab Tadzkirotul Auliya hal-306
هكذا الأنثى
متى جرحتُكَ تبكي، و كذا إن جرحتْكَ فتبكي أيضاً
Begitulah perempuan..
Ketika kau melukainya ia menangis dan ketika ia melukaimu iapun menangis