@LambeSahamjja That's total BS. He knows and aware of all along. He is a highly trained soldier. One can't survive and reaches general rank without 360 deg awareness. He just doesn't care.
Guys, di tengah semua drama MBG nasional yang korupsinya meledak, anggarannya bocor, dan tata kelolanya amburadul
ada satu universitas swasta di Yogyakarta yang diam-diam melakukan hal yang seharusnya jadi standar nasional.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta meluncurkan program Makan Siang Berkah makan siang gratis untuk 1.500 karyawan setiap hari.
Dari dosen professor sampai petugas kebersihan dan satpam outsourcing.
Semua dapat porsi yang sama.
Tidak ada korupsi yang meledak.
Tidak ada kepala program yang ditangkap.
Tidak ada dapur fiktif. T
idak ada anggaran Rp335 triliun yang bocor ke kantong orang tidak jelas.
Karena sistemnya sederhana, terencana, dan yang paling penting dikelola oleh orang yang kompeten.
Dan ini yang paling membuat gue kagum:
UMY tidak membuat program baru dari nol dengan anggaran besar yang tidak jelas.
Mereka melakukan sesuatu yang sangat cerdas mengalihkan anggaran konsumsi rapat yang selama ini boros dan tidak efisien.
"Dulu dalam sehari bisa ada tiga rapat.
Satu orang bisa dapat tiga konsumsi.
Itu boros dan sering mubazir.
Sekarang cukup satu porsi makan siang yang layak, sehat, dan tepat sasaran."
Uangnya sudah ada.
Tinggal dikelola dengan benar.
Dan hasilnya 1.500 orang makan siang bergizi setiap hari tanpa perlu anggaran tambahan yang besar.
Dan ini yang paling menyentuh tidak ada yang dibedakan:
Dosen guru besar dengan gelar profesor.
Tenaga administrasi. Teknisi.
Petugas kebersihan. Satpam outsourcing.
Semua dapat porsi yang sama.
Semua diperlakukan setara.
Tidak ada meja VIP.
Tidak ada jatah khusus untuk yang berpangkat tinggi.
Di negara yang MBG-nya lebih banyak mengalir ke sekolah-sekolah favorit di kota besar sementara anak-anak di daerah terpencil tidak tersentuh ini adalah tamparan yang sangat keras sekaligus inspirasi yang sangat nyata.
Dan ini kontras yang paling menyakitkan dengan MBG nasional:
MBG nasional: Rp335 triliun per tahun.
Dikelola oleh BGN yang kepala pertamanya sudah ditangkap karena korupsi.
Dapur SPPG yang jumlahnya meledak dari 21.000 jadi 27.000 dan Zulhas sendiri yang mengungkap ada jual beli titik SPPG.
Belum beroperasi di ribuan titik.
Pengawasan tidak ada. Tata kelola amburadul.
MakSiBer UMY:
anggaran yang sudah ada dialihkan dengan efisien. 1.500 porsi per hari.
59 titik distribusi.
Menu bergizi bervariasi setiap hari.
Hari pertama ada kendala teknis langsung dievaluasi sore itu juga.
Bukan soal besarnya anggaran.
Ini soal siapa yang mengelola dan apakah mereka kompeten dan jujur.
Dan ini pelajaran paling penting yang bisa diambil:
Program makan bergizi yang benar tidak butuh anggaran ratusan triliun untuk bisa jalan.
Tidak butuh kementerian baru.
Tidak butuh ribuan dapur yang rawan dikorupsi.
Yang dibutuhkan hanya dua hal:
orang yang kompeten dan sistem yang transparan.
UMY membuktikan itu dengan 1.500 porsi per hari mulai mangut lele, tumis kacang panjang, tahu goreng sampai ayam kentucky dan tempe goreng.
Sederhana. Bergizi. Tepat sasaran.
Dan tidak ada yang mencuri di tengah jalan.
Kalau sebuah universitas swasta di Yogyakarta bisa melakukan ini dengan efisien dan bersih
tidak ada alasan logis kenapa pemerintah dengan anggaran ratusan triliun tidak bisa melakukan hal yang sama.
Kecuali memang dari awal programnya bukan untuk rakyat tapi untuk proyek.
Guys, Connie Rahakundini Bakri guru besar hubungan internasional yang sekarang mengajar di Rusia baru balik ke Indonesia dan bicara sesuatu yang menurut gue paling jujur dan paling berani yang pernah gue dengar tentang kondisi negeri ini.
Dia tidak bicara dari pinggir.
Dia bicara sebagai orang yang melarikan diri dari Indonesia karena nyawanya terancam.
Sebelum Prabowo dilantik Connie terlalu keras menolak proses Gibran yang menabrak konstitusi.
Dia bahkan turun sendiri ke depan Istana.
Bukan aktivis jalanan tapi ilmuwan pertahanan yang sudah puluhan tahun di bidangnya.
Tengah malam dia dapat peringatan dari FSB intelijen Rusia bahwa dia akan diselesaikan.
Diberi waktu 24 jam untuk keluar dari Indonesia.
Dia menemui Ibu Megawati malam itu.
Dan Ibu hanya bilang satu kalimat sambil memandangi foto lamanya bersama Bung Karno:
"Kalau sudah begini lebih baik ikuti saja."
Connie pergi.
Dalam semalam.
Dengan surat khusus dari Kedutaan Rusia.
"Mungkin mau diAndri Yunuskan.
Mungkin mau dimunirkan.
Saya tidak tahu.
Yang pasti saya harus pergi."
Dari St. Petersburg dia melihat Indonesia dengan mata yang jauh lebih jernih dari siapapun yang masih ada di dalam sistem.
Dan satu hal yang paling dia tekankan tentang Putin — yang menurutnya paling Indonesia tidak punya:
"Kekuatan Putin yang paling saya kagumi adalah:
masyarakat tidak boleh susah.
Semua bahan pokok tidak ada yang naik.
Apapun yang terjadi dengan negara kehidupan mendasar rakyat tidak diganggu."
Rusia kena sanksi terberat dalam sejarah.
McDonald's ditutup.
Chanel angkat kaki.
Semua brand Barat pergi serentak.
Rubel pernah jatuh.
Tapi besok paginya McDonald's sudah buka dengan nama baru.
Coca-Cola sudah diganti merek lokal.
Harga beras, minyak, kebutuhan pokok tidak bergerak.
Rakyat tidak panik.
Tidak mengeluh.
Mereka hadapi bersama dan langsung cari solusi sendiri.
Hasilnya: kepercayaan rakyat pada pemerintah tetap solid. Karena apapun yang terjadi di level geopolitik perut rakyat tidak diganggu.
Bandingkan dengan Indonesia.
Rupiah melemah harga beras naik.
Pertamax naik.
Harga obat naik 10-20%.
Suku bunga naik.
Dan pejabat masih bilang fundamental ekonomi kita baik-baik saja.
Connie langsung tembak kenapa bedanya:
"Di Indonesia para pemimpin diambil dari tanda terima kasih.
Latar belakangnya apapun tidak dilihat."
Putin menunjuk mantan Menteri Ekonomi muda sebagai Prime Minister khusus yang bertanggung jawab atas industri kreatif game, fashion, AI, robot semua dikembangkan masif dan terencana menggantikan yang pergi.
Di Indonesia kepala BGN yang mengelola Rp335 triliun tidak punya kompetensi di bidangnya.
Hasilnya korupsi meledak sebelum setahun program berjalan.
Soal Prabowo yang terlalu sering ke luar negeri Connie tidak basa-basi:
Dalam 15 bulan menjabat 3 bulan di luar negeri.
Biaya rata-rata Rp20 miliar per hari.
"Rp20 miliar sehari you can do a lot.
Sekolah bisa dibangun 10 sekaligus. S
ementara di Aceh anak sekolah masih harus naik tali melewati arus sungai yang deras."
Dan dia banding langsung:
"Saya tidak pernah lihat Putin pergi ke luar negeri setiap dua minggu sekali.
Tidak ada presiden yang melakukan itu.
Kenapa Indonesia terus permisif?"
Soal buzer yang menyerang pengkritik pemerintah Connie paling keras di sini.
Dia tahu mejanya yang mana.
Dia tahu nama yang mengerjakannya.
Dan dia sudah kirim pesan langsung ke mereka:
berhenti atau dia yang ramaikan.
"Siapa yang bisa beli peralatan negara secanggih itu? Rakyat.
Kenapa rakyat dipakai untuk menghantam rakyat yang sedang mencoba mengkoreksi jalannya bernegara?"
Di Rusia orang yang punya pandangan berbeda tetap bisa berdebat.
Yang diserang adalah argumennya bukan orangnya. Yang dikriminalkan bukan pendapatnya.
Di Indonesia yang mengaku demokrasi Saiful Mujani dikriminalkan.
Dino Patti Djalal diserang.
Dokter Tifa dipolisikan.
Hanya karena berbicara.
Dan prediksi Connie soal Indonesia ke depan tidak ada yang lebih keras dari ini:
"Kalau Indonesia terus berjalan seperti ini —arus ada radical break.
Kalau tidak ada kita tidak bisa lanjut."
Soal Pemilu 2029 dia bilang blak-blakan:
"Kalau Prabowo mau jadi presiden lagi dia pasti menang.
Buat apa pemilu?
Cuma menghabiskan uang.
Jadi stempel saja seperti Orde Baru."
Dan skenario yang lebih berbahaya:
Prabowo tidak maju sendiri tapi mewariskan kekuasaan ke orang yang dia sayangi.
Persis pola Jokowi.
"Berkuasa itu enak.
Dan semua orang di sekelilingnya akan mengamini itu."
Dan Connie menutup dengan satu kalimat yang menurut gue paling menyentuh dari seluruh obrolan ini:
"Kami tidak minta gaji dari pemerintah.
Kami tidak minta jabatan.
Kami cuma ingin negara ini benar.
Harusnya pemerintah berterima kasih bukan mengkriminalisasi kami."
Indonesia punya sumber daya alam melimpah. Penduduk 270 juta.
Posisi geopolitik yang sangat strategis.
Yang tidak dimiliki Indonesia adalah satu hal paling sederhana tapi paling susah didapat:
Pemimpin yang benar-benar menempatkan kesejahteraan rakyat bukan kelanggengan kekuasaan sebagai prioritas utama.
Sampai itu berubah rupiah akan terus melemah.
Buzer akan terus menyerang.
Dan rakyat yang paling bawah akan terus membayar harga paling mahal dari semua keputusan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah merasakan hidupnya.
Seorang Tyo Ardianto, mantan BEM UGM bisa bikin gerah jubir Presiden, para menteri, mantan jaksa bahkan seorang Waketum parpol..
Idrus Marham ini bicara tentang moral, nilai dan budaya bangsa bahkan sopan santun dan ketidak patutan kepemimpinan seolah² dia seorang negarawan, padahal dia KORUPTOR..
Bliyow ini yakin bicara tentang moral ato sekedar menjilat Prabowo?
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.