Gue kira Prabowo nyisihin 2,5% dari pendapatannya buat kurban, ternyata 1.098 ekor sapi senilai Rp100 miliar dari APBN, dari duit rakyat.
Jadi bisa disimpulkan rakyat yang beliin kurban supaya Prabowo bisa ‘kurban’.
Ironis banget.
🤣🤌
Ambruk di Negeri yang Salah Urus
Purbaya Yudha Saksama ambruk.
Bukan karena korupsi.
Bukan karena skandal.
Ia ambruk karena kerja keras sesuatu yang di negeri ini ternyata lebih berbahaya dari keduanya.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal itu roboh di tengah tugasnya menanggung beban angka-angka defisit, proyeksi inflasi, dan rapat tanpa ujung yang menggerogoti tubuh dan pikirannya pelan-pelan. Dokter bilang kelelahan.
Wajar.
Namanya juga ngurusin duit negara, duit yang jumlahnya selalu kurang, tapi peruntukannya selalu banyak.
Kita, warga +62, cuma bisa manggut-manggut dari balik layar hape sambil scroll.
Ya iyalah ambruk, Pak.
Kami yang rakyat biasa aja udah capek duluan dan kami bahkan nggak punya akses ke ruang rapat itu.
Sementara itu, di gedung seberang, ada cerita yang berbeda. Kepala Badan Gizi Nasional justru sedang dalam kondisi yang bisa dibilang luar biasa. Pipinya makin tembem. Jasnya makin ketat di bagian perut. Senyumnya makin sumringah. Foto-fotonya beredar di media sosial, dan netizen +62 yang tajam matanya langsung menangkap sesuatu yang tak bisa dibohongi oleh filter kamera manapun beliau makin subur. Tentu saja. Setiap hari beliau mengawasi program makan bergizi gratis untuk anak-anak Indonesia.
Mengawasi sebuah kata yang terdengar penuh dedikasi, sekaligus, rupanya, penuh kalori.
Dan di sinilah kita, warga +62, mulai bertanya-tanya dengan polosnya:
Kok bisa ya, yang tiap hari mikirin gimana caranya uang negara cukup untuk semua kebutuhan rakyat badannya makin kurus, makin sakit, akhirnya ambruk? Sementara yang tiap hari tugasnya mastiin rakyat kenyang badannya justru yang paling meyakinkan bahwa program ini berhasil? Apa ini namanya dedikasi? Atau memang begini cara kerja gravitasi di republik ini beban selalu jatuh ke orang yang paling ikhlas menanggungnya?
"Yang ngurusin duit negara sakitan. Yang ngurusin makan malah ikutan makan." "Pak Purbaya istirahat dulu ya Pak, kerjaan sampeyan emang berat.
Beda sama yang lain kerjaan ringan, makannya berat." Dan yang paling dalam, dari seorang netizen tanpa nama yang mungkin adalah kita semua: "Sehat-sehat ya Pak Purbaya. Di negeri ini, orang yang beneran kerja emang harus ekstra jaga diri karena sistem nggak akan jaga kita."
Itulah ironi Republik ini, yang bekerja dengan presisi sempurna tanpa pernah ada yang merancangnya: Yang kurus karena mikirin uang rakyat ambruk duluan. Yang gemuk karena program rakyat makin sehat, makin segar, makin layak difoto.
Negeri +62 di mana beban kerja membunuhmu lebih cepat dari kolesterol, dan di mana keikhlasan adalah satu-satunya hal yang tidak pernah naik gajinya.
Semoga lekas pulih, Pak Purbaya. Meski kami tahu, begitu pulih pun bebannya masih akan sama beratnya.
Sumber: Facebook
Mantan anggota polisi Robig Zaenudin dipindahkan dari Lapas Kelas I Semarang ke Lapas Nusakambangan setelah diduga mengendalikan peredaran narkoba dari dalam penjara.
Kepala Lapas Semarang Ahmad Tohari mengatakan pemindahan dilakukan usai adanya aduan masyarakat dan pemeriksaan dari Ditresnarkoba Polda Jawa Tengah terhadap Robig. Langkah ini diambil untuk mencegah potensi gangguan keamanan dan ketertiban di dalam lapas.
Selain Robig, puluhan warga binaan lain juga dipindahkan ke sejumlah lapas di Nusakambangan sebagai bagian dari upaya peningkatan pembinaan serta deteksi dini gangguan keamanan.
Sebelumnya, Robig divonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Semarang dalam kasus penembakan yang menewaskan pelajar Gamma Rizkynata Oktavandy pada 2024. Ia juga telah dipecat dari institusi kepolisian.
📸: Dok. Antara.
Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play.
📝: newsupdate | update | news | oneliner | R158 | E164
#bicarafaktalewatberita #kumparan
Guys, kalian udah pada tau gak?
Ini berita yang bikin dada sesak banget. Pelajar SMA berumur 16 tahun, Ilham Dwi Saputra, warga Bantul Yogyakarta, meninggal dunia setelah diduga dikeroyok habis-habisan sama gerombolan orang.
Ayahnya, Sugeng Riyanto (53), cerita secara blak-blakan:
Selasa malam (14 April 2026) jam 21.30 WIB, Ilham lagi main sama keponakannya di rumah.
Tiba-tiba ada teman jemput naik motor.
Dibawa ke belakang SMA di Bambanglipuro, terus dijemput lagi sama dua orang naik Scoopy.
Kakak kelasnya curiga, ikutin sampe ke Lapangan Gadung Mlaten.
Di situ udah ditunggu hampir 10 orang. Ilham cuma disuruh duduk, ditanya “lu ikut geng apa?” — dia jawab “tidak”.
Langsung diserang. Dipukul pake selang, paralon, gunting.
Lebih kejam lagi: disundut rokok berulang kali + digilas sepeda motor.
Miris banget. Anak sekolah biasa, gak ikut geng, tapi dihabisi gini. Ayahnya masih shock, belum tahu pasti siapa pelakunya.
*"Anak berusia 6 tahun yang diculik oleh tentara Israel di Gaza dianiaya dan beberapa organ pentingnya dicuri oleh Israel*
*Anak tersebut dikembalikan ke keluarganya dalam keadaan terluka*
Apakah kamu diam karena itu bukan anakmu ? Jangan diam ! Segera bagikan"
BERSUARALAH, JANGAN DIAM ‼️
10.000 Tahanan Palestina Jelang Dieksekusi
Mereka dlm Ancaman Eksekusi Setelah 90hr. Ini Bukan Sekedar Angka, Ini Adalah Nyawa Manusia, Keluarga, Dan Masa Depan yg Terancam Hilang.
Diam Adalah Bentuk Persetujuan, Bersuara Adalah Bentuk Perlawanan...
Kalah di Pengadilan, Hary Tanoe Wajib Bayar Jusuf Hamka Rp531 Miliar
Jadi masalahnya berawal dari transaksi tukar guling tahun 1999. Perusahaan Jusuf Hamka yang saat itu butuh dollar AS bikin kesepakatan sama Hary Tanoesoedibjo. Dalam kesepakatan itu, Jusuf Hamka menyerahkan obligasi senilai Rp189 miliar dan surat utang (MTN) senilai Rp163,5 miliar kepada Hary Tanoesoedibjo, lalu sebagai gantinya Jusuf Hamka nerima surat berharga (NCD) yang diterbitkan oleh Unibank senilai 28 juta dollar AS.
Masalah muncul tahun 2002 waktu surat berharga yang diterbitkan oleh Unibank itu nggak bisa dicairkan oleh Jusuf Hamka karena Unibank sudah bangkrut.
Hary Tanoesoedibjo ngeklaim kalau posisi mereka cuma sebagai perantara yang mempertemukan Jusuf Hamka dengan Unibank. Sebaliknya, Jusuf Hamka membantah keras klaim itu dan bilang kalau mereka nggak pernah menunjuk Hary Tanoesoedibjo sebagai perantara, transaksi itu dilakukan secara langsung sebagai pemilik surat berharga tersebut.
Jusuf Hamka ngerasa kalau Hary Tanoesoedibjo sebenarnya sudah tahu kalau instrumen dari Unibank itu bermasalah, tapi tetap memberikannya kepada Jusuf Hamka sehingga dia rugi besar karena memberikan surat berharga asli tapi malah ditukar surat berharga kosong.
Tahun 2025, PN Jakarta Pusat memutuskan kalau pembelaan sebagai perantara itu nggak valid, lalu menyatakan kalau Hary Tanoesoedibjo secara pribadi dan perusahaannya bersalah karena melakukan perbuatan melawan hukum.
Hary Tanoesoedibjo dihukum bayar ganti rugi Rp 531 miliar kepada Jusuf Hamka. Nilai itu mencakup pokok utang 28 juta dollar AS, bunga akumulasi 6% sejak tahun 2002, dan denda immaterial Rp 50 miliar.
Mengapa kami ini sbg rakyat terus diperas & diperlakukan tdk adil. Apa pemerintah tuli atau buta, begitu rakusnya MBG mengeruk uang negara, untuk hal yg tdk penting, sprt motor listrik, kaos kaki yg mahal. Setiap bulan gaji kami diambil buat bayar si Dadan.
Lihat video ini.