Name a state that stretches “from Sabang to Merauke.” Indonesia obviously, but technically...the Dutch East Indies too? This historical legacy raises an important question: can a coercive state also be an instrument of emancipation?
Chatib Basri @ChatibBasri:
"Tugas menteri keuangan itu gampang, hanya punya opsi 3:
1. Naikkan
2. Pinjam
3. Potong
Di kondisi sekarang, ga mungkin naikkan pajak. Ga mungkin juga pinjam karena cost of fund pasti tinggi.
Jadi ga ada opsi lain selain potong spending"
Untuk bantah argumen Bennix ini, cukup suruh baca thesis Purbaya pas PhD aja:
Judulnya "The Effect of Exchange Rate on FDI"
Resultnya:
Depresiasi mata uang host country ga selalu ningkatin FDI. Efeknya bergantung pd kondisi awal perusahaan dan keunggulan teknologinya
Despite everything, I remain optimistic about Indonesia. The country still has plenty of low-hanging fruit to pick, and I believe that even marginal improvements in those areas at scale can drive meaningful progress even if the government continues to act as a drag on development
Salah satu inovasi pemerintahan Nayib Bukele dalam memusnahkan budaya premanisme di El Salvador adalah dehumanisasi sosial.
Preman gangster dan bos-bosnya digunduli, ditelanjangi hingga kolor, dibariskan jongkok, dipermalukan di depan kamera TV, dan diviralkan di TikTok lewat akun-akun resmi pemerintah dan buzzernya.
Harga diri dan status sosial para preman diinjak-injak, dipatahkan, dan dimusnahkan secara masif dan terstruktur.
Bendera, grafiti, posko, spanduk, atribut, tato preman, dan kuburan preman dibongkar dan dimusnahkan dari muka bumi Salvador seolah tidak pernah ada. Damnatio Memoriae.
Tidak ada lagi orang yang takut pada preman yang tumpas kalah, menyedihkan, dan konyol yang hanya pakai kolor.
Preman pembunuh tidak lagi ditakuti, tetapi ditertawakan.
Demonisasi dan dehumanisasi negara terhadap preman ini tidak dilakukan asal-asalan, tetapi mendayagunakan semua kemajuan teknologi dan tren masyarakat abad 21 yang online.
Ini berangkat dari sebuah masalah pertanyaan soshum: Mengapa ada orang Salvador yang ingin jadi preman?
Jawabannya: karena kalau kamu jadi preman, kamu bakal "ditakuti" orang sekampung. Karena preman "gagah" dan "cowok" dan "maskulin".
Kalau kamu orang miskin di slum El Salvador yang tidak ada masa depan, jadi preman adalah hal yang wajar. Lebih baik memerkosa daripada diperkosa.
Singkatnya, premanisme terlanjur mengakar lewat masifnya kebudayaan preman narkoba (Narcoculture) yang merajalela di Amerika Latin.
Preman punya lagu-lagu, ospek, kisah perjuangan, reputasi orang-orang kuat, keberadaan sosial jelas di masyarakat San Salvador dan kota-kota lainnya.
Budaya kekerasan melahirkan kekerasan betulan. Preman Salvador berlomba jago-jagoan membunuh, memerkosa, menculik, dan memutilasi sebanyak mungkin orang.
"Gw udah pernah bunuh 10 orang" berubah menjadi simbol status sosial di kebudayaan kalangan preman.
Oleh pemerintahan Bukele, kebudayaan narcoculture Amerika Latin mengerikan ini segera dimusnahkan sampai akar-akarnya dalam suatu program genosida kebudayaan.
Menangkap preman dan memenjarakan mereka selamanya di CECOT tidaklah cukup. Masyarakat El Salvador harus dididik supaya mereka bahkan tidak terpikir untuk menjadi preman-preman baru.
Apakah rakyat masih akan takut pada preman, jika 1 aduan telepon anonim saja akan dapat membuat si preman sok jago didatangi aparat bersenjata, dipukuli sampai mampus, diseret pergi, dan tidak pernah terlihat lagi?
Media-media nasional dimobilisasi untuk menjelaskan betapa busuknya masyarakat Salvador yang terinfeksi premanisme, dan bagimana bersih dan utopisnya masyarakat hukum baru yang ingin dibangun Bukele.
Ada visi yang sangat jelas. Masyarakat akar rumput dididik dengan visi itu.
Segala cara dilakukan, termasuk merombak dan mempercantik kota yang awalnya kumuh, supaya preman bertato menjadi asing dan aneh apabila berani-beraninya belagu muncul di situ.
Arsitektur dan aesthetic kota diubah menjadi seolah berbicara, "Kami ingin menjadi masyarakat beradab dan kami menolak preman. Pergi."
Sejauh ini, program dehumanisasi preman Salvador ini cukup berhasil dalam memusnahkan aura teror dan intimidasi yang dulu dimiliki para preman. Orang sudah santai keluar, berbelanja, berjalan-jalan di kota San Salvador. Ekonomi kota menjadi hidup.
Sesuai dugaan. Playbook mulai dimainkan.
Danantara nerbitin utang
Arahnya dijadikan lembaga off-budget.
Kalo utang via Danantara, maka:
-debt ratio
-debt service ratio
-deficit
tidak naik signifikan secara PEMBUKUAN PEMERINTAH. Jadi ga melanggar threshold di UU Keuangan Negara
Bloomberg > Indonesian sovereign wealth fund Danantara has hired banks for a potential global dollar bond offering, testing investor appetite amid economic headwinds facing the country.
Danantara hired Citigroup, DBS Bank, HSBC, Mandiri Securities and Standard Chartered Bank as joint lead managers and joint bookrunners to arrange a series of fixed income investor meetings and calls in Asia, Europe and the US starting Wednesday, according to people familiar with the matter, who asked not to be identified discussing private matters. The mandate doesn’t mean a deal will be concluded.
Prabowo tunjuk jenderal purnawirawan untuk pimpin Bea Cukai , alasannya: "butuh sosok yang berani."
Orangnya: Letjen Djaka Budi Utama, eks Tim Mawar yang dihukum pengadilan militer atas penculikan aktivis 1998, orang dekat Prabowo sejak lama.
Setahun kemudian, jaksa KPK di persidangan menyebut namanya menerima suap dari perusahaan kargo , totalnya Rp61,3 miliar mengalir ke pejabat Bea Cukai dari Juli 2025 sampai Januari 2026.
Caranya: barang impor diloloskan tanpa jalur merah.
Namanya sudah disebut dalam dakwaan resmi KPK.
Menkeu Purbaya ditanya soal nasibnya: "Ya kita lihat saja."
Djaka sampai hari ini belum dicopot, belum dinonaktifkan.
Prabowo sendiri yang bilang di DPR 20 Mei 2026: "Kalau pimpinan Bea Cukai tidak mampu, segera diganti."
Presiden sudah bilang sendiri.
Tinggal tunggu kapan kata-katanya dia pegang