"History and Class Consciousness is one of the most influential and, at the same time, the most controversial Marxist books of the twentieth century...this is one of the best studies ever written on Lukács’s thought."
—Enzo Traverso
Available for pre-order now!
Things ADHD people say vs what they mean:
• I'm fine = I haven't processed a
single emotion since last Thursday.
• I'll do it later = It will haunt me at 2am
and I still won't do it.
• I'm just tired = I am running on 4 hours sleep and three cold coffees.
• I've got it under control = I have a list. The list has a list.
• I was listening = I heard the first three words and then my brain left the building.
• I'll just do one thing at a time = I have started seven tasks and finished zero of them.
• I'm on top of it = There are 47 unread emails and I have reorganised my desk instead.
• I work better under pressure = I need a deadline that is tomorrow to do a task from three weeks ago.
• I'm fine with change = I am NOT fine with change.
"Not unlike the laissez-faire economy of the late 1800s, today’s sexual marketplace is plagued by 'robber baron' types who monopolize too much of the sexual action, leaving little or nothing for those lower down the scale."
-Arthur S. Levine, "Sex and the Democrats" (1982)
Buku ini berjudul “Philosophy of Science” karya Alexander Bird menyajikan pemetaan yang mendalam dan tajam mengenai dasar-dasar filsafat sains kontemporer. Bird menggeser fokus filsafat sains dari perdebatan positivisme klasik dan relativisme sosiologis menuju sintesis antara metafisika realistis dan epistemologi naturalistik/reliabilis.
Pandangan utama Alexander Bird dalam buku Philosophy of Science berpusat pada sintesis antara Metafisika Realis (Realist Metaphysics) dan Epistemologi Reliabilis ( Reliabilist Epistemology). Bird menolak positivisme klasik yang membatasi sains hanya pada fenomena terobservasi, sekaligus menolak relativisme yang menganggap sains sekadar konstruksi sosial.
Bird berargumen bahwa tujuan utama sains adalah menyajikan representasi yang akurat tentang realitas independen. Bird menolak pandangan minimalis atau Simple Regularity Theory (SRT) yang menganggap hukum alam hanyalah sekadar keteraturan fakta biasa. Sebaliknya, hukum alam melibatkan hubungan keniscayaan nomik (nomic necessity) antar-sifat alami (universals). Keteraturan empiris yang kita amati bukanlah hukum itu sendiri, melainkan berfungsi sebagai bukti kriterial logis (criterial evidence) yang mendukung keberadaan hukum tersebut.
Bird menolak model penjelasan berbasis templat kaku seperti model Deductive-Nomological karya Hempel. Penjelasan ilmiah bersifat holistik, di mana kita menentukan penjelasan sejati dengan memilih hipotesis terbaik yang paling sederhana, paling kuat, dan paling terintegrasi dari berbagai alternatif yang ada melalui Inference to the Best Explanation (IBE).
Menurut pandangan Bird Klasifikasi ilmiah (seperti unsur kimia atau spesies) tidak ditentukan oleh definisi nama (nominal essence) atau ciri dangkal. Suatu kategori merupakan jenis alami yang objektif jika ia memainkan peran penjelasan ( explanatory role ) dalam hukum-hukum alam.
Disamping itu Bird membela Realisme Ilmiah menentang instrumenalisme dan Constructive Empiricism van Fraassen. Keberhasilan sains dalam membuat prediksi baru dan menyatukan fenomena yang beragam menjadi bukti bahwa teori-teori ilmiah mendekati kebenaran (verisimilitude) dan bahwa entitas tak terobservasi (seperti atom atau elektron) benar-benar ada.
Bird menjawab tantangan skeptisisme induktif Hume dan keterbatasan falsifikasionisme Karl Popper melalui pendekatan epistemologi eksternalis. Ia menyatakan bahwa pengetahuan ilmiah adalah keyakinan benar yang dihasilkan oleh metode yang andal ( reliable method ). Seseorang tidak perlu mengetahui atau membuktikan secara a priori bahwa metodenya andal untuk bisa memiliki pengetahuan (penolakan terhadap prinsip K-K / Knowing that you know). Selama metode pengamatan atau instrumen tersebut secara faktual andal di dunia nyata, pengetahuan yang dihasilkan tetap sah.
Bird menolak anggapan bahwa ada satu "Metode Ilmiah Universal" (The Scientific Method) yang bersifat a priori. Sebaliknya, sains menggunakan spektrum metode spesifik yang ditemukan dan dikembangkan secara a posteriori seiring dengan kemajuan penelitian itu sendiri.
Meskipun menerima analisis sejarah Thomas Kuhn mengenai pergeseran paradigma, Bird menolak relativisme ekstrem. Perubahan paradigma atau revolusi ilmiah bukanlah hal yang tidak dapat dibanding-bandingkan (incommensurable), melainkan bentuk penataan ulang holistik terhadap struktur penjelasan untuk mencapai sistem penjelasan yang lebih baik (Inference to the Best Explanation).
-Alexander Bird-
#NewRelease
The Concept of Rationality in Judaism, Christianity and Islam
eds. Catharina Rachik , Georges Tamer , De Gruyter , 2026
https://t.co/HHmfXFgppI
https://t.co/hezHUuvULd
>"one day is with the Lord as a thousand years, and a thousand years as one day."
>absence of Force, motion only makes sense as tension within time, that is, of the before-after of Time-Image
>progress is an annihilation of times
>aeons have passed in a fraction of a second
>mfw