Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Nasi Hokben tuh sebenernya gak pake beras Jepang
seperti yang di bilang bilang
Triknya, Hokben tetep pakai beras biasa, tapi ditambah dikit beras ketan (perbandingannya 4:1). Nah, karena ada beras ketan ini, nasi jadi lebih lengket dan gampang dimakan pake sumpit.
Selain itu, cara masaknya juga beda. Mereka gak pakai rice cooker, tapi dikukus pakai dandang gede, jadi rasanya lebih pulen, enak, dan teksturnya juara. Ditambah sedikit daun pandan biar wangi dan ada cita rasa khasnya.
FYI, nasi Hokben gak pernah kuning karena nasi dimasak hari itu juga. Kalo ada sisa di closing, biasanya dibagi ke karyawan atau pegawai, tergantung kebijakan cabang. Yang pasti, nasi gak pernah dihangetin buat besok
"Guys Prabowo baru aja bilang dia happy karena ROA Danantara naik 300% di tahun 2025.
Sebelum lo ikut tepuk tangan gw mau ajak lo mikir sebentar.
ROA itu simpelnya adalah dari semua uang yang dikelola, berapa persen yang balik jadi keuntungan.
Danantara ngklaim kelola aset 1 triliun dolar. Itu setara 16.000 triliun rupiah. Dan katanya ROA nya naik 300%.
Kedengarannya gila. Tapi gw mau tanya satu hal dulu.
300 persen dari berapa?
Karena ini yang tidak pernah dijelaskan.
Kalau ROA awalnya 0.1% terus naik 300% berarti sekarang cuma 0.3%. Dari aset 16.000 triliun itu keuntungannya cuma sekitar 48 triliun. Terdengar besar tapi untuk ukuran aset sebesar itu itu sangat kecil.
Dan gw kasih perbandingan biar lo ngerti.
BlackRock itu perusahaan investasi terbesar di dunia. Kelola aset 10 kali lebih besar dari Danantara. Timnya ribuan orang. Teknologinya terdepan. Pengalamannya puluhan tahun.
ROA mereka per tahun sekitar 0.05 sampai 0.06 persen.
Warren Buffett yang udah investasi selama 60 tahun lebih dan dianggap investor terbaik sepanjang sejarah rata rata return nya sekitar 20 persen per tahun. Dan itu dianggap luar biasa oleh seluruh dunia.
Danantara yang baru dibentuk belum genap setahun klaim ROA naik 300%.
Masuk akal gak?
Dan ini yang paling penting lo pahami.
Danantara itu kelola aset BUMN Mandiri, BRI, BNI, PLN, Pertamina, Telkom. Perusahaan perusahaan itu udah ada puluhan tahun. ROA mereka udah ada dari sebelum Danantara lahir.
Jadi pertanyaannya simpel ROA yang naik 300% itu beneran karena kehebatan Danantara? Atau karena mereka pilih angka pembanding yang paling menguntungkan buat dijadiin headline?
Aset yang dikelola Danantara itu bukan uang dari langit. Itu uang rakyat. Aset yang dibangun dari pajak dan kerja keras puluhan tahun.
Kalau beneran naik 300% tunjukkan laporan keuangannya. Tunjukkan siapa auditor independennya. Tunjukkan metodologinya.
Karena angka tanpa bukti yang bisa diverifikasi itu bukan prestasi.
Itu iklan.
Tulisan terbaru Mawa Kresna membongkar klaim sukses MBG hingga penelusuran dokumen pengadaan BGN yang menunjukkan belanja Rp6,2 triliun pada 2025.
Ada kaos kaki tanpa merk & tanpa SNI seharga Rp100 ribu/pcs. Tablet harga pasaran Rp8 juta dibeli Rp17 juta. https://t.co/qU70f5G3OF
The U.S. military strike on Venezuela is deeply regrettable, as it contradicts the very principles of sovereignty and multilateralism that America has long championed. As a self-proclaimed guardian of global democracy, this unilateral action raises serious questions about their consistency, especially in today’s multipolar world where Russia’s and China’s influence in Latin America is growing stronger. It risks sparking widespread instability, compelling nations like Indonesia to navigate our national interests more strategically, rather than simply following ideological currents.
What happens to Venezuela also sets a precedent for other developing countries. It goes beyond a violation of sovereignty. It’s a deliberate effort to restrict the Global South’s freedom to manage its own resources. We must bolster solidarity among developing nations to safeguard the non-intervention principles we have long fought for.
The weaknesses of multilateral diplomacy, such as through the UN or the OAS, are becoming all too evident, rendering soft approaches like the ASEAN Way less effective against direct confrontations. It’s time for us to develop a more proactive diplomacy, including networks with non-state actors for effective mediation, rather than a passive neutrality that leaves us vulnerable as collateral damage.
This strike could also serve as a catalyst for reforming global governance from a Southern perspective. Indonesia has the opportunity to lead initiatives at the UN to amplify the voices of developing countries, particularly on strategic resources. This isn’t merely a moral response, but a survival strategy in a fragmented world, emphasizing leadership that builds bridges rather than yielding to destructive powers. •••
‘Game of the Year’ Winner History 🕹️
2003 - Madden NFL 2004
2004 - Grand Theft Auto: San Andreas
2005 - Resident Evil 4
2006 - The Elder Scrolls IV: Oblivion
2007 - BioShock
2008 - Grand Theft Auto IV
2009 - Uncharted 2: Among Thieves
2010 - Red Dead Redemption
2011 - The Elder Scrolls V: Skyrim
2012 - The Walking Dead
2013 - Grand Theft Auto V
2014 - Dragon Age: Inquisition
2015 - The Witcher 3: Wild Hunt
2016 - Overwatch
2017 - The Legend of Zelda: Breath of the Wild
2018 - God of War
2019 - Sekiro: Shadows Die Twice
2020 - The Last of Us Part II
2021 - It Takes Two
2022 - Elden Ring
2023 - Baldur’s Gate 3
2024 - Astro Bot
2025 - Clair Obscur: Expedition 33
🏆
Ini dari uang pajak kita semua.
Kalo 1M bisa rebuild 1 sekolah, seharusnya 125M bisa dipake buat rebuild 125 sekolah di aceh, sumbar, sumut dibanding mendanai Ponpes yang nyata-nyata lalai dan seharusnya dihukum.
Tapi ini Indonesia bung. Akal sehat dan pejabat dijual terpisah.
Isn’t this the same dude who got humiliated by Harrison Ford for being an incompetent minister of forestry who allowed Tesso Nilo to be plundered in 2013?
His claim was “we only started democracy” TWELVE YEARS ago.